Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Berpijak dan Meninggalkan Masa Lalu

Masa lalu telah menjadikan Syaiful M. Maghsri seperti saat ini. Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya atau mengubah dampaknya terhadap hidupnya sekarang. Masa depan menyimpan rahasia tentang apa yang akan terjadi pada masa mendatang dan tidak ada yang dapat Syaiful lakukan untuk mengendalikan, mengetahuinya atau bahkan meramalkannya. Syaiful tinggal dalam ketegangan antara masa lalu dan masa depan, seperti sebuah penjepit kertas yang ditarik oleh dua magnet yang sama kuatnya. Ia hanya memiliki masa kini untuk dijalani. Masa lalu yang tidak dapat diubah telah tinggal dalam memorinya sedangkan masa depan yang tidak dapat diramalkan mulai tinggal dalam imajinasinya. Ia hanya bisa merasakan sesuatu yang pasti, yaitu bahwa Syaiful hanya memiliki masa sekarang.
Menurut Syaiful M. Maghsri, Allah tidak terikat oleh masa sekarang seperti kita. Dia berada jauh di atas waktu dan zaman serta tinggal dalam kekekalan. Kita tidak berada diatas waktu, kita terikat olehnya bahkan kita tidak mampu mengubah masa lalu kita. Meskipun masa lalu kita mempengaruhi kita karena serangkaian konsekuensi dari pilihan-pilihan yang pernah kita buat, suatu saat dan sekarang kita tidak bisa memutarnya kembali. Banyak diantara pilihan-pilihan atau keputusan-keputusan itu yang kita buat sendiri, masing-masing pilihan itu memiliki konsekuensi yang akan selalu mempengaruhi kehidupan disepanjang sisa hidup kita. Kita tidak akan pernah tahu ‘apa dan bagaimana kelanjutannya’ sebelum kita benar-benar mengalami konsekuensi tersebut. Mungkin saja kita dapat menikmati kebahagiaan pernikahan selama enam puluh tahun, tetapi bisa juga kita kehilangan pasangan hidup kita sesaat setelah pernikahan.
Sebagian besar yang terjadi dalam kehidupan kita dapat tergantung pada satu keputusan atau peristiwa, yang pada saat terjadinya seakan-akan tidak terlalu penting. Pilihan-pilihan atau keputusan kita juga memberi dampak kepada orang lain. Pilihan yang buruk juga tentu akan membawa konsekuensi buruk, begitu juga sebaliknya. Konsekuensi dari pilihan-pilihan kita seringkali bersifat permanen dan tidak bisa diubah lagi. Tetapi, apakah keadaan masa lalu selalu menjadi dasar keputusan seseorang?
Pada dasarnya setiap orang bisa membuat keputusan, bahkan di dalam situasi apa pun, baik secara mental maupun spiritual. Sama seperti Syaiful; ia bisa mempertahankan wibawa kemanusiaannya bahkan pada saat konsentrasi di satu titik. Banyak diantara kita yang suka melakukan hal yang sama dengan  masa lalu. Kita hanya menjadi apa yang diizinkan oleh masa lalu kita dan kita membiarkannya untuk menentukan nasib kita. Tentu saja dalam lingkungan yang ideal dan sempurna, ini bisa menjadi pilihan yang menarik, yaitu jika kita berasal dari latar belakang yang kaya, makmur dan bahagia. Tetapi faktanya, tidak setiap orang berasal dari latar belakang yang begitu menguntungkan dan sempurna, sehingga banyak orang ingin mengubah kehidupannya sesuai dengan impiannya.
Ketika di masa lalu kita membuat pilihan hidup yang salah, hal ini takkan mudah dihapus begitu saja, semudah membalikkan telapak tangan. Biarkan masa lalu mengendalikan diri kita sekarang sebagai bahan refleksi dan instrospeksi diri menjadi lebih baik. Setidaknya ada dua cara untuk membiarkan masa lalu mengendalikan diri kita. Pertama adalah dengan hidup bersama penyesalan dan Kedua adalah hidup bersama kepahitan. Setiap manusia pasti pernah menjalani hidup dengan membuat pilihan-pilihan yang salah, misalnya menjalani masa muda yang sembrono, membuat keputusan bisnis yang buruk atau prestasi akademik yang buruk saat kuliah. Tentunya orang-orang yang membuat keputusan bodoh seperti ini akan merasakan penyesalannya suatu saat nanti.  
Syaiful M. Maghsri sendiri juga menyesal atas pengalaman hidupnya di masa lalu. Ia berharap dapat mengubah masa lalu namun harapannya itu tidak akan pernah bisa terpenuhi. Masa lalu berada di luar jangkuannya sehingga  tidak mungkin diubah lagi. Penyesalan ini terasa layaknya kehilangan pusaka keluarga yang sangat berharga. Seseorang hanya bisa mengulang-ngulang penyesalan “kalau saja”. Sebagai contohnya : kalau saja saya dulu tidak memilih pekerjaan itu, kalau saja saya bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama anak saya, kalau saja saya sudah berhenti merokok dan sebagainya.
Penyesalan memiliki makna yang hampir sama dengan kepahitan, hanya berasal dari sumber yang berbeda. Penyesalan biasanya melibatkan keputusan yang telah kita ambil secara pribadi, sedangkan kepahitan biasanya berasal dari pilihan/keputusan yang dibuat oleh orang lain. Kepahitan muncul ketika kita menyadari bahwa kita sudah diperlakukan secara tidak benar. Kepahitan bisa mengubah pikiran seseorang menjadi sebuah lubang emosi  (kemarahan) dan keinginan untuk balas dendam yang tidak bisa dihindari.
Tidak ada cara apa pun yang bisa Syaiful lakukan untuk mengubah masa lalunya. Penyesalan, kepahitan atau pun balas dendam takkan bisa mengubah apa yang sudah terjadi walaupun beribu kali ia ucapkan, “kalau saja”. Ia akan menjadi tawanan dalam sukmanya yang gelap, tercekik oleh pemikiran-pemikirannya sendiri yang menekan. Kesedihan dan kepahitan telah membuat Syaiful terbelenggu pada masa lalunya.
Kegagalan-kegagalan yang dialami Syaiful telah memberikan petunjuk bagi panggilan hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap orang pasti pernah  diwarnai oleh cacat masa lalu yang tidak bisa mereka ubah atau kembalikan menjadi baik lagi. Karena kesukaran-kesukaran pada masa lalu itulah, Syaiful M. Maghsri kini telah menjadi orang yang besar karena mau berkorban dan berpengaruh bagi masyarakat.
Syaiful harus maju terus tanpa peduli berapa besarnya kepedihan akibat peristiwa masa lalu. Ia sadar tidak bisa mengubah segala hal yang sudah terjadi. Ia memiliki kekuatan tangannya, ia bisa mempercayakan kepada Allah untuk menembus masa lalu. Allah bisa menembus atau membereskan masa lalu kita, apabila kita menginginkannya. Dia memulihkannya dengan memanfaatkan yang jahat dari apa yang telah terjadi untuk mencapai sesuatu yang baik dan anugerahpun akan datang kepada manusia.
Allah akan membuat karya anugerah itu dalam kehidupan kita, asalkan kita mau melakukan 3 hal ini, yaitu memohon ampun (bertobat), mengampuni sesama serta menantikan Allah membereskan semua demi kebaikan. Pengampunan tidak datang begitu cepatnya atau selalu berakhir dengan bahagia. Pengampunan adalah  suatu proses, bukan sebuah peristiwa. Pengampunan adalah keputusan hati bukan emosi yang kita rasakan. Mungkin kita perlu mengampuni seseorang berulang kali karena satu kesalahan yang telah menyakiti kita. Dengan hal ini, Allah pun takkan ragu untuk mengampuni dosa-dosa kita sesuai dengan keikhlasan yang telah kita berikan kepada sesama.
Masa lalu telah berlalu dan sudah terjadi, tetapi Allah selalu ada dan sempurna, baik di masa lalu, sekarang atau pun di masa yang akan datang. Kalau kita datang kepada-Nya, kita akan segera berada di pusat kehendak-Nya, tanpa peduli apapun situasinya. Anugerah-Nya akan menuntun kita dalam kehidupan bahagia dan memerdekakan kita dari segala kepahitan, asalkan kita memiliki kesabaran untuk menunggunya dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi sesama dan Allah sendiri.


Baca selengkapnya

Jujur

Kejujuran berarti kesesuaian antara kata dan perbuatan. Kejujuran memainkan peranan besar dalam kehidupan Syaiful dalam bermasyarakat serta pelayanannya di bidang kesehatan. Menurut Syaiful, kejujuran merupakan keindahan bertutur kata dan sebagai landasan kesuksesan. Karena itu, Syariat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah selalu mengagungkan kejujuran dan mendorong manusia untuk berkata benar.
Sebagaimana firman Allah, “Orang yang membawa kebenaran dan yang membenarkannya, merekalah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Itulah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Az-Zumar: 33-34).
Allah berfirman, “Inilah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang berkata benar dengan kebenaran (yang) mereka (perbuat).” (QS. Al-Maidah: 119).
“Wahai orang-orang yang beriman, betakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Rasulullah SAW bersabda, “Kejujuran adalah hiasan tutur kata.”
“Amalan-amalan orang yang jujur dapat tumbuh berkembang.” Hal ini berarti bahwa amalan-amalan yang jujur akan berlangsung terus dan ganjaran-ganjaran bagi mereka juga tumbuh berkembang. Dengan demikian, Allah hanya menerima amalan-amalan dari orang-orang yang saleh.

Sejak usia 5 tahun, Syaiful kecil telah dikenalkan dan diajarkan oleh orang tuanya (yang kebetulan seorang Ustadz dan ulama di Tegal) untuk membaca Al-Qur’an dan bagaimana mengerjakan shalat lima waktu. Kebetulan pada saat itu di komplek rumahnya terdapat Mushola yang dipergunakan oleh masyarakat untuk shalat berjamaah lima waktu.
Pendidikan agama yang diperoleh Syaiful sangat ketat dan keras yang dilakukan oleh Abah-nya sampai-sampai jika keliru dalam membaca Al-Qur’an ataupun tidak menjalankan shalat, ia harus menerima hukuman seperti dicambuk badannya ataupun tidak diberi makan seharian.
Pemahaman-pemahaman agama pun didapatnya sejak usia dini bersama keluarganya dengan menghadiri pengajian-pengajian bersama kakeknya. Satu pengalaman yang membekas dihati dan pikiran HM. Syaiful M. Maghsri adalah pengajian yang disampaikan Bapak KH. Syamsudin (Kini Almarhum). Setiap beliau ceramah menyebut nama Allah ataupun do’a, Syaiful selalu menitikkan air mata atau menangis. Selain itu, beliau menyatakan bahwa salah satu pintu rezeki jika kita ingin hidup bercukupan adalah berbakti kepada kedua orang tua dan menyenangkan hati mereka terutama hati seorang ibu.
Dan setelah Syaiful M. Maghsri tumbuh dewasa, dua hal yang disampaikan oleh KH. Syamsudin itu masih tertanam di hatinya dan telah menjadikannya sebagai sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan, sejalan dengan arahan Syekh Mursyidnya KH. Muhammad Alkaf. Tidak hanya kehidupan keberagamaan Syaiful M. Maghsri saja yang keras, namun kehidupan kesehariaannya sampai dewasa juga keras karena langkahnya senantiasa dipenuhi oleh perjuangan hidup. Namun karena ia selalu melakukan pendekatan spiritual melalui penerapan ajaran-ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh dan berlandaskan kejujuran maka dirinya mampu menjalani kehidupannya dengan penuh ketabahan dan rasa syukur kepada Allah. Dan inilah dasar perjalanan spiritual seorang Syaiful M. Maghsri.

Kejujuran tentu merupakan salah satu karakteristik kesalehan yang sangat penting. Selain itu, saling memahami diantara individu-individu merupakan kebutuhan sosial. Jika kejujuran tertanam di setiap hati manusia, mereka akan memiliki kemampuan untuk memikul beban-beban kehidupan dan dapat menikmati suasana hidup berdampingan secara damai. Lisan (perkataan) merupakan instrumen untuk saling memahami dan penerjemah berbagai konsep yang ada dalam pikiran-pikiran manusia. Oleh sebab itu, ia memainkan peranan serius dalam eksistensi masyarakat dan keharmonisan perasaan-perasaan dan ide-ide individu melalui kejujuran.
Kebahagiaan atau kedukaan suatu masyarakat tergantung pada kejujuran lisan atau kebohongannya. Jika lisan jujur dalam menginterpretasikan emosi-emosi (perasaan-perasaan), maka lisan dapat memenuhi misi komunikasi. Jika sebaliknya, maka lisan akan menjadi penuntun bagi kejahatan dan sarana kehancuran sosial. Oleh karenanya, kejujuran sangatlah memainkan peranan besar dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan keharmonisan dan kedamaian.
Jika semua orang bertindak jujur, mereka akan memperoleh manfaat dan keuntungan yang sangat besar. Namun jika ketidakjujuran yang telah menjadi fenomena umum dalam masyarakat ini masih menjadi kebiasaan, maka prinsip-prinsip akhlak manusia akan melemah, kondisi saling pengertian akan menghilang serta kehidupan sosial masyarakat akan menjadi tidak teratur.
Inilah 4 hal yang mampu menciptakan kejujuran dalam hidup manusia :
a)        Kejujuran bertutur kata, meliputi kejujuran berbicara tentang sesuatu hal tanpa berbohong atau menyembunyikannya.
b)       Kejujuran berbuat amal, meliputi kesesuaian antara perbuatan dan perkataan, seperti bersumpah dan memenuhi janji-janji.
c)        Tekad yang benar, meliputi tekad untuk berbuat baik.
d)       Niat yang benar, meliputi penyucian niat dari cacat-cacat riya.

Tujuh maqam Abdul Jailani yaitu Tobat, Ikhlas, Tawakal, Syukur, Sabar, Yakin dan Jujur yang telah dijelaskan di atas telah dijalani oleh Syaiful M. Maghsri, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam pelayanannya yang bersifat Manajemen Spiritual. Dalam menjalani kehidupan ini, ia juga memberikan penjelasan bagaimana manusia bisa mengendalikan nafsu dari setiap aktivitas hidupnya. Ingi Tahu seperti apa? Baca kisah selanjutnya……….
      
Baca selengkapnya

Yakin

Keyakinan merupakan kepercayaan yang teguh terhadap prinsip-prinsip agama. Kepercayaan demikian harus sesuai dengan realitas kehidupan dan tidak terpengaruh oleh rasa ragu dalam diri setiap orang. Jika tidak, seseorang akan sulit menemukan arah kehidupannya bahkan ini hanya akan menambah kebodohan di dalam dirinya.
Syariat Islam telah memberikan perhatian khusus berkaitan dengan keyakinan dan mencurahkan pujian-pujian mulia kepada orang-orang yang memiliki keyakinan. Amirul Mukminim Ali berkata, “Tak ada orang yang dapat menemukan rasa keimanan sejati sebelum ia percaya bahwa apa pun yang menimpanya tidak akan pernah luput darinya, dan apa pun yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya. Sumber sejati kerugian dan keuntungan berada hanya dalam kekuasaan Allah.”
Imam Shadiq berkata, “Keimanan (menjadi Mukmin) adalah lebih baik dibandingkan dengan Islam (menjadi Muslim). Keyakinan (menjadi Mutaqin) adalah lebih baik dibandingkan dengan keimanan. Sesunggunhya tak ada yang lebih kuat dibandingkan dengan keyakinan. “Amalan sedikit yang sinambung (dilakukan terus-menerus) bersama dengan keyakinan adalah lebih baik dalam pandangan Allah dibandingkan dengan amalan-amalan yang banyak namun tanpa keyakinan”.
Menghindar dari mencari ridha manusia, menghindar dari tidak membuat ridha Allah serta menghindar dari mencela seseorang atas sesuatu yang Allah tidak berikan padamu merupakan bagian-bagian sesungguhnya dari keyakinan Muslim. Rezeki tidak dapat diperoleh melalui sikap kikir dan tidak akan dihentikan ketika seseorang tidak menyukainya. Jika kita lari dari rezeki yang telah Allah tentukan, hal ini tak ada bedanya dengan lari dari kematian. Oleh karenanya, percayalah bahwa rezeki itu akan menggapai kita sebagaimana kematian juga akan menjemput kita suatu saat nanti. Atas dasar keadilan dan persamaan (hak), Allah akan melimpahkan kebahagiaan dan ketenteraman sesuai dengan keyakinan dan keridhaan seseorang. Sebaliknya, Allah juga akan menurunkan keprihatinan dan kedukaan sesuai dengan kecurigaan dan ketidakpuasan manusia.
Suatu hari, Imam Ridha diminta untuk mengidentifikasi siapakah yang terbaik diantara dua orang. Salah seorang selalu berkata jujur, namun ia melakukan kejahatan-kejahatan, meminum khamar dan melakukan dosa-dosa besar.  Orang yang satunya kurang memiliki keyakinan namun ia tidak pernah melakukan kejahatan-kejahatan demikian. Imam berkata, “Orang yang pertama adalah seperti seseorang yang tertidur di jalan yang benar. Segera setelah ia terbangun, ia akan menempuh jalan yang benar itu. Sedangkan orang yang kedua adalah seperti orang yang tertidur di jalan yang salah. Ketika ia terbangun ia tak dapat mengenal jalan yangg benar yang harus ia tempuh. 
Imam Shadiq meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memperhatikan seorang pemuda di masjid setelah shalat shubuh. Pemuda itu terlihat mengantuk, wajahnya pucat, tubuhnya kurus dan matanya cekung. Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Pemuda itu menjawab, “Aku memulai pagi ini dengan penuh keyakinan!” Rasulullah SAW kagum dengan jawaban ini, karenanya beliau berkata, “Setiap keyakinan memiliki bukti. Apa bukti yang engkau miliki?” Pemuda itu berkata, “Wahai Rasulullah! Keyakinanku tampak melalui kesedihanku, mataku yang tidak tertidur dan kehausan di siang bolong. Karenanya, aku benar-benar menganggap sepi dunia ini bersama berbagai kesenangannya, seolah-olah singgasana Tuhanku sedang disiapkan untuk menggelar Pengadilan Akbar, seolah-olah semua manusia termasuk diriku sedang dikumpulkan disana untuk dimintai pertanggung jawaban, dan seolah-olah para penghuni surga sedang menikmati kebahagiaan dan saling memperkenalkan diri mereka satu sama lainnya, serta seolah-olah mereka sedang bersandar di kursi-kursi yang empuk, dan seolah-olah para penghuni neraka sedang disiksa dan dibariskan, dan kini aku dapat mendengar gemuruh api di kedua telingaku.Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Allah telah mencerahkan hati orang ini dengan keimanan.” Rasulullah SAW kemudian memintanya untuk tetap mempertahankan keimanan dan keyakinan demikian. Pemuda ini meminta Rasulullah SAW agar berdoa kepada Allah bagi kesyahidannya dan Rasulullah SAW pun mendoakannya. Tak berapa lama kemudian, pemuda ini ikut serta pada salah satu peperangan bersama Rasulullah SAW dan syahid dalam peperangan.
Orang-orang yang memiliki keyakinan akan tumbuh berkembang dan tercerahkan melalui cahaya-cahaya keyakinan yang gemerlap sehingga pada akhirnya mereka memperoleh beraneka-ragam kesempurnaan mental yang mengangkat mereka menuju suatu kedudukan spiritual yang tinggi. Ilusi-ilusi dunia takkan mampu membelokkan hati mereka saat menempuh perjuangan spiritual karena harapan mereka adalah meraih kedudukan-kedudukan tinggi dan kebahagiaan abadi kehidupan akhirat seperti yang mereka harapkan selama ini.
Mereka mengerahkan seluruh upaya untuk melakukan perbuatan-perbuatan ketaatan kepada Allah demi meraih ridha-Nya. Mereka benar-benar mempercayai-Nya dalam suka dan duka. Mereka tidak takut dan tidak mengharapkan sesuatu selain keridhaan Allah sebab mereka selalu yakin akan perlindungan dan kebijakan-Nya yang baik. Oleh karena itu, doa-doa mereka terkabulkan dan karisma-karisma mereka juga terpancar. Akhirnya, mereka mendapatkan curahan rahmat dari Allah.
Imam Shadiq berkata, “Ibarat anak tangga, keimanan terdiri dari sepuluh tingkatan yang harus ditempuh satu demi satu. Orang yang memiliki dua tingkatan keimanan tidak boleh meremehkan orang yang memiliki satu keimanan. Oleh karenanya, kalian tidak boleh meremehkan orang yang memiliki tingkatan keimanan yang lebih rendah dari kalian agar orang yang memiliki tingkatan keimanan yang lebih tinggi dari kalian tidak pula meremehkan kalian. Seharusnya kalian memperlakukan dengan sangat lembut orang yang keimanannya lebih dari kalian dan kalian seharusnya tidak membebaninya dengan beban-beban yang berat yang dapat mematahkan tulang punggungnya. Sesungguhnya, orang yang melemahkan seorang beriman harus mampu mengokohkannya lagi.
Keimanan alamiah merupakan keimanan yang Allah anugerahkan, seperti keimanan para nabi dan para wasi (pewaris/pelaksana wasiat) mereka. Individu-individu demikian merupakan contoh-contoh keimanan tertinggi dan keyakinan yang agung. Dalam hal ini tak ada keragu-keraguan maupun inspirasi-inspirasi setan yang dapat mempengaruhi keyakinan mereka. Di sisi lain, ada pula manusia yang memiliki ‘keimanan semu , yaitu keimanan palsu yang hanya diucapkan tanpa memiliki realitas apa pun dalam diri seseorang. Kategori keimanan demikian akan sangat mudah dipengaruhi oleh keraguan-raguan dan inspirasi-inspirasi buruk di kehidupan. Imam Shadiq berkata, “Seseorang dapat memulai harinya dengan keimanan namun menutup harinya dengan kekufuran atau sebaliknya. Sebagian orang meminjam keimanan lalu memakainya. Padahal keimanan haruslah dimiliki oleh setiap manusia (tak perlu meminjam), melekat terus menerus dan takkan lepas hingga ia mencapai akhir kehidupannya.
Allah menciptakan kenabian melalui para nabi sehingga mereka tak pernah kufur. Demikian juga, Allah menciptakan kesuksesan kenabian melalui para wasiat nabi sehingga mereka tak pernah kufur. Untuk orang-orang selain mereka, keimanan yang Allah berikan kepada manusia adalah sebagai pinjaman. Namun jika manusia senantiasa berdoa dan memohon dengan sangat kepada Allah, mereka akan berada dalam ‘keimanan’ itu dan memilikinya.  
Penyesalan, kesedihan dan kegundahan akan dirasakan orang yang tidak memperoleh manfaat dari apa yang disebut dengan iman. Ia pun tidak akan bisa menyadari bagaimana mengelola keimanan, baik untuk kebaikan ataupun hal yang buruk di dalam hidupnya. Orang yang segala perbuatannya sesuai dengan kata-katanya akan terselamatkan, sedangkan orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan kata-katanya memiliki keimanan semu. Keimanan ini merupakan keimanan yang sedikit alamiah yang telah tumbuh dan berkembang hingga mencapai suatu tingkatan yang besar (setiap keimanan memiliki tingkatan yang berbeda).

Kini, izinkanlah saya (Syaiful M. Maghsri) untuk memberikan beberapa nasihat yang dapat membantu Anda dalam melindungi ‘keimanan alamiah’ dan menyelamatkan ‘keimanan yang diusahakan dengan gigih’.
Dianjurkan kepada Anda untuk bergaul dengan individu-individu yang beriman dan saleh serta menghindari bergaul dengan individu-individu pendosa dan jahat. Pergaulan memainkan peranan besar dalam meraih moralitas-moralitas. Merujuk pada fakta ini, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang  manusia akan mengikuti keimanan sahabatnya. Oleh karenanya, kalian harus memilih sahabat-sahabat untuk kalian gauli.”

Hindarilah menelaah dan mendengarkan buku-buku yang menyimpang (dari ajaran suci) serta ungkapan-ungkapan orang-orang yang menyesatkan dimana perhatian utama mereka adalah bagaimana cara meracuni ide-ide suci orang lain. Tujuan mereka hanyalah untuk menjauhkan kita dari hikmah Islami dan merusak nilai-nilai serta konsep-konsep keimanan kita melalui mentalitas kehidupan mereka.
Dianjurkan untuk merenungkan makhluk-makhluk Allah, penciptaannya yang indah, pengaturannya yang akurat serta hikmah pengelolaannya yang mempesona. Seperti Firman Allah, “Di bumi terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang memiliki keyakinan. Dan juga terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah dalam dirimu sendiri. Tidakkah kalian memperhatikannya?” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21).
Dianjurkan pula agar kita selalu berusaha keras dan mempraktikkan perbuatan-perbuatan ketaatan kepada Allah. Dianjurkan untuk menghindari perbuatan maksiat kepada Allah agar mentalitas seseorang dapat benar-benar menjadi mantap melalui konsep-konsep keimanan. Sesungguhnya, jiwa manusia sesuci air segar jika tidak terkotori oleh polusi-polusi kehidupan.
Kebanyakan manusia dapat memperoleh manfaat melalui cahaya keimanan. Sebagaimana firman Allah, “Demi jiwa serta penyempurnaannya, Allah mengilhami jiwa itu dengan jalan kefasikan dan ketakwaan. Beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 7-10).
Imam Shadiq berkata, “ketika seseorang melakukan dosa, titik hitam muncul pada hatinya. Jika ia bertobat, titik hitam itu menghilang. Namun jika ia terus melakukan dosa-dosa, titik hitam itu akan bertambah banyak hingga menutupi hati. Orang itu tidak akan pernah menggapai kebahagiaan.  
Apabila Syaiful M. Maghsri merasa bahwa Allah menghindarkan dunia dari padanya atau sering melimpahkan kesulitan dan cobaan kepadanya, Syaiful semakin yakin bahwa dirinya memang berada di sisi Allah. Menjadi hamba-Nya yang dikasihani dan dicintai seperti Syaiful akan ditempatkan pada kedudukan yang tinggi pada pandangan-Nya. Allah pun sedang membawa dia menempuh jalan ke arah wali-wali-Nya sebab Allah itu senantiasa melihatnya, dimanapun dan kapanpun. Semua ini dilakukan semata-mata untuknya, bukan untuk keuntungan Allah sendiri. Dalam hal ini, Allah sungguh berjasa melalui pemeliharaan-Nya dan kemaslahatan untuk Syaiful dengan memperbanyak ganjaran dan balasan yang baik serta menempatkannya di tempat orang-orang yang baik dan orang-orang yang dicintai-Nya di sisi Allah. Banyak sudah kita melihat hal-hal yang baik dan pemberian-pemberian-Nya yang mulia. Selain itu, Allah juga yang memberi taufik dengan jasa-Nya dan karunia-Nya.

Jikalau Syaiful M. Maghsri sudah meyakini bahwa Allah Ta’ala mampu menjamin rezeki untuk kebutuhan hidupnya dan melakukan ibadah kepada-Nya, berarti  Syaiful sudah yakin pula bahwa Allah itu Masa Kuasa. Apa saja yang dikehendaki-Nya dan bagaimanapun caranya semata-mata Allah lakukan untuk melimpahkan rizki dalam setiap hal dan setiap saat. Syaiful sudah tahu dengan pasti, maka ia akan tawakal, percaya kepada jaminan-Nya yang benar dan kepada janji-Nya yang tulus. Oleh karenanya, tentu hatinya menjadi tenteram dan berpaling dari segala hal yang dibenci Allah karena ia tahu bahwa itu tidak akan dapat membelanya dan tidak akan dapat mencukupkan kehidupannya tanpa pemberian dari Allah SWT. Tawakallah kepada-Nya, jangan kepada yang lain.

Setelah Syaiful M. Maghsri memiliki keyakinan ini, ia akan meninggalkan tadbir (bersusah payah memikirkan diri sendiri, mengatur ini itu ataupun memikirkan yang bukan-bukan) dalam setiap langkah hidupnya. Syaiful akan menyerahkan semuanya kepada Yang Mengatur langit dan bumi dan ia pun akan mengistirahatkan diri (hati)-nya dari hal-hal yang sesungguhnya takkan pernah terjangkau oleh pengetahuan dan pikiran manusia, seperti “Bagaimana dengan besok? Apakah yang kita rencanakan tidak akan gagal? Apakah ini bisa terjadi? Dan bagaimana kelak jadinya?” Semua ini tidak perlu kita pikirkan dan jangan pernah lagi mengatakan, “barangkali” atau “kalau begitu’ karena secara tak langsung semua ini hanya akan membuat bimbang hati dan menyia-nyiakan waktu hidup kita.


Baca selengkapnya