Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Berpijak dan Meninggalkan Masa Lalu

Masa lalu telah menjadikan Syaiful M. Maghsri seperti saat ini. Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya atau mengubah dampaknya terhadap hidupnya sekarang. Masa depan menyimpan rahasia tentang apa yang akan terjadi pada masa mendatang dan tidak ada yang dapat Syaiful lakukan untuk mengendalikan, mengetahuinya atau bahkan meramalkannya. Syaiful tinggal dalam ketegangan antara masa lalu dan masa depan, seperti sebuah penjepit kertas yang ditarik oleh dua magnet yang sama kuatnya. Ia hanya memiliki masa kini untuk dijalani. Masa lalu yang tidak dapat diubah telah tinggal dalam memorinya sedangkan masa depan yang tidak dapat diramalkan mulai tinggal dalam imajinasinya. Ia hanya bisa merasakan sesuatu yang pasti, yaitu bahwa Syaiful hanya memiliki masa sekarang.
Menurut Syaiful M. Maghsri, Allah tidak terikat oleh masa sekarang seperti kita. Dia berada jauh di atas waktu dan zaman serta tinggal dalam kekekalan. Kita tidak berada diatas waktu, kita terikat olehnya bahkan kita tidak mampu mengubah masa lalu kita. Meskipun masa lalu kita mempengaruhi kita karena serangkaian konsekuensi dari pilihan-pilihan yang pernah kita buat, suatu saat dan sekarang kita tidak bisa memutarnya kembali. Banyak diantara pilihan-pilihan atau keputusan-keputusan itu yang kita buat sendiri, masing-masing pilihan itu memiliki konsekuensi yang akan selalu mempengaruhi kehidupan disepanjang sisa hidup kita. Kita tidak akan pernah tahu ‘apa dan bagaimana kelanjutannya’ sebelum kita benar-benar mengalami konsekuensi tersebut. Mungkin saja kita dapat menikmati kebahagiaan pernikahan selama enam puluh tahun, tetapi bisa juga kita kehilangan pasangan hidup kita sesaat setelah pernikahan.
Sebagian besar yang terjadi dalam kehidupan kita dapat tergantung pada satu keputusan atau peristiwa, yang pada saat terjadinya seakan-akan tidak terlalu penting. Pilihan-pilihan atau keputusan kita juga memberi dampak kepada orang lain. Pilihan yang buruk juga tentu akan membawa konsekuensi buruk, begitu juga sebaliknya. Konsekuensi dari pilihan-pilihan kita seringkali bersifat permanen dan tidak bisa diubah lagi. Tetapi, apakah keadaan masa lalu selalu menjadi dasar keputusan seseorang?
Pada dasarnya setiap orang bisa membuat keputusan, bahkan di dalam situasi apa pun, baik secara mental maupun spiritual. Sama seperti Syaiful; ia bisa mempertahankan wibawa kemanusiaannya bahkan pada saat konsentrasi di satu titik. Banyak diantara kita yang suka melakukan hal yang sama dengan  masa lalu. Kita hanya menjadi apa yang diizinkan oleh masa lalu kita dan kita membiarkannya untuk menentukan nasib kita. Tentu saja dalam lingkungan yang ideal dan sempurna, ini bisa menjadi pilihan yang menarik, yaitu jika kita berasal dari latar belakang yang kaya, makmur dan bahagia. Tetapi faktanya, tidak setiap orang berasal dari latar belakang yang begitu menguntungkan dan sempurna, sehingga banyak orang ingin mengubah kehidupannya sesuai dengan impiannya.
Ketika di masa lalu kita membuat pilihan hidup yang salah, hal ini takkan mudah dihapus begitu saja, semudah membalikkan telapak tangan. Biarkan masa lalu mengendalikan diri kita sekarang sebagai bahan refleksi dan instrospeksi diri menjadi lebih baik. Setidaknya ada dua cara untuk membiarkan masa lalu mengendalikan diri kita. Pertama adalah dengan hidup bersama penyesalan dan Kedua adalah hidup bersama kepahitan. Setiap manusia pasti pernah menjalani hidup dengan membuat pilihan-pilihan yang salah, misalnya menjalani masa muda yang sembrono, membuat keputusan bisnis yang buruk atau prestasi akademik yang buruk saat kuliah. Tentunya orang-orang yang membuat keputusan bodoh seperti ini akan merasakan penyesalannya suatu saat nanti.  
Syaiful M. Maghsri sendiri juga menyesal atas pengalaman hidupnya di masa lalu. Ia berharap dapat mengubah masa lalu namun harapannya itu tidak akan pernah bisa terpenuhi. Masa lalu berada di luar jangkuannya sehingga  tidak mungkin diubah lagi. Penyesalan ini terasa layaknya kehilangan pusaka keluarga yang sangat berharga. Seseorang hanya bisa mengulang-ngulang penyesalan “kalau saja”. Sebagai contohnya : kalau saja saya dulu tidak memilih pekerjaan itu, kalau saja saya bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama anak saya, kalau saja saya sudah berhenti merokok dan sebagainya.
Penyesalan memiliki makna yang hampir sama dengan kepahitan, hanya berasal dari sumber yang berbeda. Penyesalan biasanya melibatkan keputusan yang telah kita ambil secara pribadi, sedangkan kepahitan biasanya berasal dari pilihan/keputusan yang dibuat oleh orang lain. Kepahitan muncul ketika kita menyadari bahwa kita sudah diperlakukan secara tidak benar. Kepahitan bisa mengubah pikiran seseorang menjadi sebuah lubang emosi  (kemarahan) dan keinginan untuk balas dendam yang tidak bisa dihindari.
Tidak ada cara apa pun yang bisa Syaiful lakukan untuk mengubah masa lalunya. Penyesalan, kepahitan atau pun balas dendam takkan bisa mengubah apa yang sudah terjadi walaupun beribu kali ia ucapkan, “kalau saja”. Ia akan menjadi tawanan dalam sukmanya yang gelap, tercekik oleh pemikiran-pemikirannya sendiri yang menekan. Kesedihan dan kepahitan telah membuat Syaiful terbelenggu pada masa lalunya.
Kegagalan-kegagalan yang dialami Syaiful telah memberikan petunjuk bagi panggilan hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap orang pasti pernah  diwarnai oleh cacat masa lalu yang tidak bisa mereka ubah atau kembalikan menjadi baik lagi. Karena kesukaran-kesukaran pada masa lalu itulah, Syaiful M. Maghsri kini telah menjadi orang yang besar karena mau berkorban dan berpengaruh bagi masyarakat.
Syaiful harus maju terus tanpa peduli berapa besarnya kepedihan akibat peristiwa masa lalu. Ia sadar tidak bisa mengubah segala hal yang sudah terjadi. Ia memiliki kekuatan tangannya, ia bisa mempercayakan kepada Allah untuk menembus masa lalu. Allah bisa menembus atau membereskan masa lalu kita, apabila kita menginginkannya. Dia memulihkannya dengan memanfaatkan yang jahat dari apa yang telah terjadi untuk mencapai sesuatu yang baik dan anugerahpun akan datang kepada manusia.
Allah akan membuat karya anugerah itu dalam kehidupan kita, asalkan kita mau melakukan 3 hal ini, yaitu memohon ampun (bertobat), mengampuni sesama serta menantikan Allah membereskan semua demi kebaikan. Pengampunan tidak datang begitu cepatnya atau selalu berakhir dengan bahagia. Pengampunan adalah  suatu proses, bukan sebuah peristiwa. Pengampunan adalah keputusan hati bukan emosi yang kita rasakan. Mungkin kita perlu mengampuni seseorang berulang kali karena satu kesalahan yang telah menyakiti kita. Dengan hal ini, Allah pun takkan ragu untuk mengampuni dosa-dosa kita sesuai dengan keikhlasan yang telah kita berikan kepada sesama.
Masa lalu telah berlalu dan sudah terjadi, tetapi Allah selalu ada dan sempurna, baik di masa lalu, sekarang atau pun di masa yang akan datang. Kalau kita datang kepada-Nya, kita akan segera berada di pusat kehendak-Nya, tanpa peduli apapun situasinya. Anugerah-Nya akan menuntun kita dalam kehidupan bahagia dan memerdekakan kita dari segala kepahitan, asalkan kita memiliki kesabaran untuk menunggunya dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi sesama dan Allah sendiri.




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI