Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Ikhlas

Keikhlasan berkaitan dengan menyucikan perbuatan dan amalan dari cacat-cacat riya (pamrih) demi menjadikan perbuatan dan amalan kita semata-mata karena Allah, sesuai dengan firman-Nya, “Siapa pun yang menginginkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia melakukan amalan-amalan saleh dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu dalam ibadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
“Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada agama-Nya. Agama Allah adalah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar: 2-3)
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa pun yang berkhidmat (mengabdi) kepada Allah dengan ikhlas selama empat puluh hari, Allah akan memancarkan hikmah dari hati dan lisannya.”
“Manusia tak dapat memiliki pengetahuan luas sebelum ia menganggap manusia lain sebagai media dalam berhubungan dengan Allah dan menganggap dirinya sebagai manusia yang paling hina.”Amirul Mukminin Ali berkata, “Dunia ini benar-benar dunia kejahilan kecuali majelis-majelis ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan benar-benar merupakan ilmu pengetahuan kejahilan kecuali ilmu pengetahuan yang dipraktikkan. Semua pratik ilmu pengetahuan adalah riya kecuali yang dilakukan dengan ikhlas. Keikhlasan juga tidak aman sebelum hasil yang baik terwujud.” Imam Jawad berkata, “Keikhlasan adalah ibadah terbaik.”
Nilai-nilai perbuatan bervariasi sesuai dengan tujuan-tujuannya. Ukuran kualitas dan diterimanya amalan-amalan tergantung pada kemuliaan tujuan dan kesucian dari cacat-cacat tipuan, pengaburan dan kemunafikan. Dari sudut syariat Islam, faktor pendorong satu-satunya adalah niat yang memotivasi amalan. Bila niat benar-benar ditujukan kepada Allah dan disucikan dari cacat-cacat riya, maka amalannya akan diterima oleh Allah. Sebaliknya, jika tipuan dan riya bercampur dengan niat, maka yang terjadi adalah kemurkaan dan penolakan Allah.
Dalam hal ini, keikhlasan merupakan landasan keimanan dan syarat yang ditentukan bagi sahnya amalan-amalan. Keikhlasan juga bebas dari jerat dan tipuan Iblis, “Iblis menjawab, “Demi kemualiaan-Mu, aku akan mnyesatkan mereka (manusia) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas diantara mereka.”(QS. Shad: 82-83).
Keikhlasan merupakan bintang petunjuk yang cemerlang yang menunjukkan jalan-jalan ketaatan sesungguhnya dan ibadah yang tulus kepada Allah. Setan telah menggunakan seluruh perangkapnya untuk menjerat manusia melalui beraneka-ragam harapan-harapan besar yang menipu, seperti kesenangan memiliki reputasi dan kesuksesan, meraih kekayaan serta mencari keinginan-keinginan material.
Kadang-kadang inspirasi-inspirasi setan dapat menyusup dalam bentuk bisikan yang lembut dan menipu. Akibatnya, seseorang mungkin merasa melakukan amalan-amalan baik dengan ikhlas, namun jika ia mengujinya secara seksama, ia akan menemukan bahwa perbuatan-perbuatannya itu bercampur dengan riya. Inilah sesungguhnya salah satu kesalahan dimana tak ada orang yang dapat menghindarinya kecuali hamba-hamba Allah yang suci. Dikisahkan bahwa Syaiful M. Maghsri berkata, “Selama lima tahun saya terbiasa melaksanakan shalat-shalat berjamaah di masjid pada shaf  pertama. Suatu hari, saya terlambat disebabkan suatu hal dan saya terpaksa melaksanakan shalat pada shaf kedua. Segera saya berhenti shalat, sebab saya merasa malu. Yang terjadi kemudian adalah saya menyadari bahwa shalat-shalat saya terdahulu (selama lima tahun) merupakan kesenanganku saja.”
Juga dikisahkan bahwa seorang ahli ibadah berpuasa selama empat puluh tahun tanpa membiarkan siapa pun, termasuk kaum kerabatnya memperhatikan puasanya. Ia terbiasa membawa makanannya untuk diberikan sebagai sedekah dalam perjalanannya menuju pasar hingga anggota keluarganya mengira ia akan menyantap makanannya di pasar, sedangkan orang-orang pasar mengira bahwa ia telah memakan makanannya di rumah.
Faktor pendorong riya yang paling penting adalah menarik kekaguman manusia dan meraih kepuasan (keridhaan) mereka. Sebenarnya meraih kepuasaan (keridhaan) manusia merupakan tujuan yang tak dapat dicapai, sebab seorang manusia tak mampu untuk memuaskan orang banyak. Satu-satunya yang harus dicari keridhaannya adalah Allah, Sang Maha Pengendali seluruh urusan makhluk-Nya dan Mahakuasa atas segala sesuatu.
Dikisahkan oleh Syaiful bahwa seorang pria keturunan ningrat dari kota Yogyakarta memutuskan untuk beribadah kepada Allah agar orang-orang dapat memujinya. Selama beberapa lama, ia melakukan ibadah luar biasa kepada Allah, namun setiap individu yang lewat di hadapannya mengetahui bahwa ia berlaku riya. Suatu hari, ia berkata kepada dirinya bahwa ia telah meletihkan dirinya dan menghabiskan kehidupannya dalam kesia-siaan. Ketika ia mempraktikkannya, setiap individu yang lewat dihadapannya menjadi kagum dengan ibadahnya dan berkata bahwa ia adalah orang yang saleh.
Melakukan ikhlas dan ingat akan karunia Allah memiliki faedah yang sangat besar, antara lain berupa penerimaan Allah akan semua amal baik kita. Apabila tidak demikian, maka semua amalmu tidak akan diterima, dan hilanglah pahalamu baik seluruhnya ataupun sebagian. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah berfirman, “Aku ini paling tidak butuh disertai oleh orang lain. Barang siapa mengamalkan sesuatu, kemudian disertakan yang lain selain dari pada-Ku, maka bagian-Ku untuk yang lain itu, sebab aku tidak akan menerima selain daripada ikhlas hanya untuk-Ku.”
Menurut para ulama, ikhlas itu ada dua macam yaitu ikhlas dalam amal dan ikhlas dalam memohon pahala. Adapun ikhlas dalam amal ialah niat taqarrub kepada Allah, niat mengagungkan perintah–Nya serta niat melaksanakan seruan Allah. Hal yang dapat mendorong semua ini ialah ijtihad yang sungguh-sungguh. Lawan dari ikhlas ialah kemunafikan, yakni taqarrub kepada selain daripada Allah. Ikhlas dalam memohon pahala yaitu dimaksudkan untuk mencapai kebahagiaan akhirat dengan amal yang baik. Ikhlas dalam hal ini memiliki pengertian bahwa dengan melakukan kebaikan, seseorang menginginkan akan memperoleh pahala di akhirat, ini tidak ditolak oleh Allah. Namun jika tidak bisa mendapat kebaikan di dunia, mereka mengharapkan amal kebaikannya itu akan mendapatkan manfaat (diterima) di akhirat.
Rasulullah bersabda sewaktu beliau ditanyai mengenai ikhlas, “ikhlas ialah hal yang kita tekadkan di dalam hati hanya kepada Allah semata, kemudian istiqamah sebagaimana yang telah di perintahkan-Nya.” Janganlah menyembah kepada nafsu dan jangan pula menyembah kepada diri sendiri. Inilah isyarat bahwa selain kepada Allah haruslah dipisahkan dari jalan pikiran. Itulah ikhlas yang sesungguhnya. Sedangkan riya sebagai lawannya ikhlas, yaitu ingin memperoleh kemanfaatan dunia dengan jalan melakukan ibadah.
Mengikhlaskan amal itu ialah dengan mengusahakan amal itu khusus untuk beribadah. Adapun mengikhlaskan dalam memohon pahala yaitu bahwa amal itu ingin dikabulkan serta ingin pahala yang banyak. Sedangkan nifaq itu membatalkan pahalanya amal. Kalau amal memakai nifaq, maka hilanglah sifat qurbah. Riya yang khusus tidak pernah dipunyai oleh orang-orang yang makrifat. Mengikhlaskan amal itu harus bersamaan dengan pekerjaan, harus disadari dari awal sampai akhir, terkecuali dalam ikhlas meminta ganjaran terkadang dilakukan di akhir, setelah pekerjaan selesai. Adapun nilai dari amal tersebut penentuannya terletak diakhir pekerjaannya. Kalau di tutup dengan ikhlas, maka termasuk amal yang ikhlas demikian juga sebaliknya. Sebagian ulama berpendapat bahwa ibadah yang wajib itu bisa menegakkan ikhlas sampai datang maut.
Apabila kamu bertanya, “Dimanakah tempatnya ikhlas itu ? ketahuilah, amal-amal itu ada tiga bagian, yaitu :
  1. Ada bagian dimana disana terdapat dua ikhlas yang bersama-sama, yaitu ikhlas beribadat kepada Allah dan ikhlas dalam memohon pahala dari akhirat, yaitu ibadah zahir yang asli.
  2. Bagian yang sama sekali tidak ada tempatnya untuk kedua-keduanya, yaitu ibadah batin yang asli, sebab dalam hal ini hanya Allah sendiri yang mengetahuinya, jadi tidak ada riya.
  3. Sebagian yang ikhlas mengharapkan sebagian pahala di akhirat, yaitu mengikhlaskan amal yang mubah, seperti makan. Maka kalau kita menghendaki pahala dari amal yang mubah ini ialah dengan jalan mengikhlas/berniat. Dengan demikian makan kita akan mendapatkan pahala.
Membaca surat Al-Waqi’ah dalam keadaan rezeki sedang sulit merupakan sesuatu yang ada dan dianjurkan dalam hadist Rasulullah. Apabila ada yang bertanya, “Layakkah bagi orang-orang yang ahli tajarrud, zuhud dan ahli sabar serta ahli melatih diri, memohon rezeki kepada Allah dengan membaca surah Al-Waqi’ah?” Perlu diketahui bahwa hal ini diamalkan karena merupakan sunnah Nabi. Jadi kita boleh memohon rezeki dengan niat untuk bekal ibadah. Yang paling penting adalah maksudnya, yakni adanya qanaah dalam hati, serta dijadikan bekal untuk beribadah. Dasarnya bukanlah mengikuti hawa nafsu dan syahwat, dan bukan pula karena lemahnya hati tidak kuat menahan kesengsaraan.



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI