Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Makna Spiritualitas


          Segala puji Bagi Allah, Maharaja Yang Bijak, Yang Maha Pemurah lagi Pemulia, Sang Pemulia Yang Mulia, Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Bijaksana. Dia-lah yang menciptakan Manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; membentangkan langit dan bumi dengan kekuatan kuadrat-Nya; mengatur segala urusan dengan hikmah-Nya; dan tidak ada Ia ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada–Nya. Salawat dan salam semoga melimpah ruah kepada penghulu segala Rasul Allah beserta seluruh keluarganya yang baik lagi suci. Semoga Allah SWT menyelamatkan dan memuliakan mereka hingga hari Pembalasan.
            Jika kita berbicara mengenai spiritualitas, seolah-olah kita dibawa ke tempat yang jauh di luar diri kita. Suatu tempat yang sulit untuk dijangkau. Suatu proses pencapaian yang sulit dibayangkan dan karenanya menjadi kelihatan tidak mungkin. Apakah memang benar demikian? Marilah kita urai sedikit demi sedikit tentang apa sebenarnya spiritualitas itu.
            Spiritualitas berasal dari kata dasar "spirit" yang dalam kamus diterangkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan jiwa manusia. Memang dalam bahasa Inggris, 'spirit' bisa juga berarti roh atau hantu, atau sesuatu keadaan gaib yang berada di dalam dan di luar manusia. Kita tentunya tak hendak membicarakan persoalan yang tidak memiliki koneksi langsung dengan manusia karena proses pemahamannya akan membutuhkan waktu yang terlalu lama.
            Marilah kita menggunakan pengertian  dasar kata 'spirit' itu yang berhubungan langsung dengan manusia dan dimiliki oleh setiap manusia. Jadi, definisi yang kita gunakan untuk 'spirit' adalah jiwa manusia dan 'spiritualitas' adalah sesuatu yang ada dan berhubungan dengan jiwa manusia. Mengapa jiwa manusia? Ya, karena kita hendak bicara tentang manusia dan semua manusia yang ada di dunia ini memiliki jiwa. Lalu bagaimana kita akan dapat memahami spiritualitas itu? Bahasan-bahasan di bawah ini akan menerangkan pada Anda tentang prinsip dasar spiritual yang tentunya dapat Anda gunakan untuk memahami secara personal tentang apa itu spiritual.
            Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bicara sedikit tentang manusia dan jiwa. Setiap orang tentu paham dan mengerti sepenuh hati bahwa manusia ini terdiri dari tubuh dan jiwa. Eksistensi jiwa dapat diproyeksikan melalui pikiran, karena secara umum memang aktivitas jiwa dapat diketahui dengan pola kerja pikiran yang termanifestasikan melalui kata-kata atau perbuatan. Jadi sangat wajar jika orang yang tidak dapat lagi berpikir runtut secara umum dapat dikatakan sebagai 'lali jiwa' atau 'lupa jiwa' atau gila.
            Jiwa secara lebih mendalam dapat disejajarkan dengan hidup itu sendiri dan hidup memang runtut serta mengikuti hukum-hukum universal yang telah ditentukan (mutlak). Tapi kenapa orang yang 'lali jiwa' itu dapat dikatakan masih hidup? Yah, karena memang dia hanya 'lali jiwa' secara umum, akan tetapi orang itu tidak sepenuhnya meninggalkan jiwa. Yang terjadi adalah ia 'lupa jiwa' sehingga pikirannya tidak bisa memproyeksikan eksistensi jiwa yang termanifestasikan melalui kata-kata dan perbuatan menurut hukum kehidupan.
            Walaupun sebagian besar manusia telah merasa puas dengan pekerjaan dan penghasilan yang mereka dapat, dan sedikit sekali memberikan perhatian kepada persoalan spiritual, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang mempunyai keinginan dalam dirinya untuk mengenal dan mengetahui tentang kebenaran yang hakiki. Dorongan hati yang tersembunyi itu bisa saja tidak terlalu menonjol dalam diri seseorang sehingga tidak terlihat dipermukaan tetapi konsepsi spiritual tersebut bisa saja sewaktu-waktu bangkit.
            Sebagian orang sesat serta orang-orang munafik menganggap Tuhan adalah ilusi semata. Di sisi lain, dalam waktu bersamaan mereka tetap masih mempercayai tentang adanya ‘kebenaran abadi’ tatkala kemurnian hati, dimana wajah mereka orang berhati suci merupakan kenyataan dari alam semesta, pada waktu bersamaan menemukan berbagai macam ketidakstabilan dan kehampaan diri. Syaiful menyadari bahwa keberadaan dunia ini adalah cermin adanya kebenaran abadi. Perwujudan ini tidak mengenal batas apa pun tentang kesenangan, malah kesenangan tersebut didalam pandangannya menjadi tidak bermakna apapun.
            Anggapan tersebut memberikan pedoman dasar yang berkaitan dengan dorongan pengetahuan spiritualitas yang menggambarkan minat Syaiful M. Maghsri  pada persepsi tentang alam semesta, menumbuhkan cinta pada Allah dalam hatinya. Tarikan yang dirasakan dari dorongan kuat ini membuat Syaiful melupakan segalanya dan memberikan pengaruh dalam hati Syaiful. Hal tersebut memberikan pedoman dalam keimanan kepada sang ghaib dengan lebih nyata, dibandingkan dengan semua yang dapat didengar dan diraba. Tarikan tersebut juga merupakan dasar agama yang melahirkan keimanan kepada Allah. Tidak dapat dikatakan menjadi sebuah makna spiritualitas yang baik, bila keberimanannya tersebut disebabkan pengharapannya untuk mendapatkan pujian atau karena ketakutan pada hukuman-Nya. Akan tetapi idealnya adalah karena ingin mengenal dan mencintai-Nya semata, bukan karena alasan apa pun yang melatar belakanginya.

Syaiful M. Maghsri memaparkan dengan spiritual akan dapat menguak penyebab masalah-masalah yang sesungguhnya. Masalah dapat terjadi karena merupakan pembalikan dari kebenaran hakiki, kebenaran ilahiah. Yang selalu nampak dalam indera kita adalah apa yang ada di permukaan dan bukan apa yang sebenarnya. Manusia tidak bisa dan tidak akan mungkin menemukan kebenaran hakiki dalam pengalaman-pengalaman yang terjadi pada masa lalu. Ia hanyalah bentuk dari pola pengulangan dan yang dapat manusia pelajari hanyalah bagaimana pola itu bekerja dalam kehidupan. Manusia harus bergerak lebih maju melampaui segala berpengalaman dan masa lalu.

            Syaiful M. Maghsri menjelaskan dalam ceramahnya bahwasanya kita dapat memahami atmosfer spiritual yang bergerak maju menurut tata harmonisasi dalam kehidupan pribadi kita. Kebaikan, tak saling mengungguli, keutuhan dan peningkatan kualitas adalah bagian dari kerangka kerja alam semesta. Pengingkaran dan penolakan terhadap sistem alam semesta adalah kehancuran yang tak tergantikan.
            Karena proses yang senantiasa maju seperti halnya ruang dan waktu maka dengan sendirinya harus mampu meninggalkan masa lalu kita yang lebih terbentuk karena prinsip keterbatasan. Kita harus memiliki kehidupan diri sendiri, menjalani kehidupan kita sendiri. Kita tidak perlu menjalani kehidupan orang lain, apakah itu: saudara, istri-suami, kawan, orang tua atau bahkan idola kita. Kehidupan yang hanya menurut arahan kehidupan orang lain atau kehidupan yang hanya dijalani berdasarkan pada kehidupan orang lain akan menjadikan diri seperti katak dalam tempurung.
            Spiritualitas mengubah segala sesuatu ke kondisi kesadaran. Seluruh esensi kerja spiritualitas adalah bahwa ia mengubah kesadaran dan menghasilkan perubahan segala sesuatu dan bentuk. Segala sesuatu adalah bentuk kesadaran atau energi yang termanifestasikan. Konsep realisasi kesadaran spiritual ini adalah menurunkan ide-ide spiritual tingkat tinggi ke bentuk fisik yang bisa di raba dan kasar. Bentuk fisik yang bisa terjangkau oleh perangkat indera manusia.      
            Syaiful M. Maghsri meyakini bahwa yang menjadi titik penting dari semua spiritualitas yaitu salah satu cara sempurna dalam menjalani ibadah, berdasarkan cinta, bukan karena menginginkan sesuatu keuntungan ataupun oleh ketakutan. Ini adalah jalan untuk memahami fakta yang mendalam tentang makna spiritualitas ketika dibandingkan dengan yang terlihat dari bentuk luarnya.
            Syaiful  menyadari tantangan terasa semakin berat jika memperhatikan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Sementara putaran roda zaman sedemikian kuat dan mendorong untuk menempatkan urusan agama (spiritualitas) sebagai kebutuhan sekunder. Amat sedikit ruang dan waktu yang diberikan kepada Syaiful untuk merenungkannya lebih mendalam bahwa dirinya adalah seorang makhluk Tuhan yang beragama dan sebenarnya hanya memiliki satu tugas, yakni beribadah. Untuk siapa pun yang menyadari makna penting dari kedudukan sebagai seorang hamba, tidak ada jalan lain kecuali menaati semua perintah-Nya. Allah berfirman, “Dan Aku Tuhan Kamu sekalian, beribadahlah kepada–Ku”(QS. Al–An Biya [21]:25), “ini adalah ganjaran bagi kamu atas usaha kamu yang bersyukur,”(QS. Al–Insan 76:22). Dengan pendek kata siapa pun yang taat, dialah yang beruntung, bahagia selama-lamanya. Tapi yang tak mau taat, maka rugi dan celakalah dia, sebab waktu yang telah berlalu tak dapat dipanggil kembali.
Namun demikian masih ada juga yang sampai kepada tujuannya dan berhasil mencapai apa yang dikejarnya. Renungan akan makna spiritualitas diperoleh Syaiful dengan cara memperhatikan bagaimana Syaiful mulai menemukan metode, alat dan perlengkapan yang diperlukan serta tekun meniti metodenya yang dijalaninya sehingga Syaiful benar-benar berada dalam lindungan dan bimbingan IIlahi. Keterikatan membuat tidak ada lagi alasan, apalagi berandai-andai untuk menemukan dalih dan bukti untuk memutuskan keterikatan hati dengan pencipta-Nya. Seketika itu akan bergerak lurus menempuh jalan keselamatan. Tidak ada lagi keraguan dan bimbang, benar-benar merasa aman dengan semua bisikan nurani akan keberadaan jalan Ilahi dan kekokohan syariat melalui suri teladan Nabi-Nya-sebagai satu-satunya jalan yang harus Syaiful tempuh dengan tulus. Untuk itu, menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya merupakan suatu kenyataan yang harus ditempuh Syaiful dengan keyakinan. Semuanya dijalani dengan kebersihan nurani dan kejernihan akal pikiran.
            Pengarahan semangat diri dan pengarahan segenap kehendak pada Allah harus dipandu seorang pembimbing. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh seorang Syaiful M. Maghsri sebagai pembimbing peserta pelatihan Bioenergi yang begitu berhasrat dalam mengikuti jalan spiritual dan memusatkan diri pada Allah? Jawabannya sederhana: Syaiful membimbing setiap peserta pelatihan Bioenergi sesuai dengan tingkat energi  rohaninya. Orang yang memiliki persiapan tinggi menurut Syaiful adalah dapat langsung menempuh wilayah yang sempurna (al-walayah al-kamilah). Orang yang tingkat persiapannya lebih rendah dapat menempuh jalan yang lebih ringan dan tidak terlalu rumit. Dan orang yang kadar kondisi rohaninya lebih rendah lagi, ia dapat menempuh jalan sesuai dengan kemampuannya.



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI