Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Sabar

Kesabaran merupakan ketabahan yang seimbang (tidak kurang, namun juga tidak berlebihan) dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Kesabaran juga didefinisikan sebagai dorongan bagi diri sendiri untuk menjalani kewajiban-kewajiban syariat, termasuk hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang tidak harus dilakukan.     
Kesabaran mengindikasikan kebijakan, keluasan hati, moralitas tinggi serta ketabahan yang agung. Lebih dari 70 (tujuh puluh) tempat dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyinggung masalah kesabaran dan memuji orang-orang yang berlaku sabar. Allah berjanji kepada orang-orang yang berlaku sabar bahwa Ia ridha terhadap mereka dan menyukai mereka, “Allah mencintai orang-orang yang berlaku sabar.” (QS. Ali-Imran:146). Allah berjanji bahwa Ia akan selalu mendukung mereka: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berlaku sabar.”(QS. Al-Anfal:46).
Allah berjanji bahwa Ia akan memberikan mereka pahala yang melimpah: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang berlaku sabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar:10). Allah berjanji bahwa Ia akan menganugerahkan mereka dengan berbagi kebaikan: “Kami sungguh-sungguh akan menguji kalian dengan perasaan takut, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Namun sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berlaku sabar, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami semua adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami akan kembali). Mereka itulah orang-orang yang mendapat curahan keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Imam Baqir berkata, “Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan dan kesabaran. Orang yang tabah dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan dari dunia ini akan memasuki surga. Demikian juga neraka, tempat ini dikelilingi oleh syahwat dan hawa nafsu sehingga orang-orang yang menuruti syahwat dan nafsunya akan memasuki neraka.” “Pada detik-detik terakhir, kakekku memeluk dan mendekapku didadanya serta berkata, “Wahai cucuku! Tegakkanlah kebenaran walaupun pahit, karena jika engkau melakukannya, engkau akan diberikan ganjaran tanpa hisab”.
Manusia dihadapkan oleh beragam masalah hidup yang menguji kesabaran hati masing-masing. Kategori kesabaran meliputi kehormatan diri, keluasan hati, ketenangan dan langkah maju. Tak bisa dipungkiri, Syaiful M. Maghsri mau tidak mau merupakan subjek dari hal-hal tidak menyenangkan yang menimpanya di masa lalu. Ketika itu ia tidak memiliki kemampuan untuk menghentikannya. Oleh karenanya, hal terbaik yang dapat dilakukannya adalah membekali dirinya dengan kesabaran. Sebab tanpa bekal demikian, manusia pasti akan binasa dan justru menanggung berbagai beban penderitaan.
Tidak berlebihan apabila kesabaran dilukiskan sebagai sifat yang indah. Hal ini berkaitan erat dengan kesabaran manusia saat menghadapi bencana-bencana yang tak terelakkan, seperti kehilangan orang yang dicintai, harta yang dirampas ataupun penyiksaan oleh musuh. Tunduk pada bencana-bencana (demikian), padahal memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan menghadapinya merupakan jenis kelemahan luar biasa yang ditentang oleh Islam.
Di sisi lain, ada pula hal yang merusak sifat kesabaran kita, yaitu intoleransi (terhadap masalah yang dihadapi) secara berlebihan, misalnya mengungkapkan keluhan hidup dengan cara yang berlebihan. Memang dibenarkan bahwa mengungkapkan kepedihan-kepedihan mental dengan tangisan dan keluhan tentang penyakit atau musibah yang diderita merupakan kebutuhan emosi yang vital bagi manusia, namun akan lebih bijaksana apabila hal itu tidak diungkapkan secara berlebihan. Oleh karenanya, semua hal yang bersifat keluhan ini bisa diantisipasi dari dalam diri apabila kita memiliki rasa sabar yang tinggi.
Mempraktikkan perbuatan-perbuatan ketaatan kepada Allah dan menghindari perbuatan-perbuatan ketidaktaatan (maksiat) kepada-Nya merupakan dua hal yang sulit. Menegakkan ketaatan kepada Allah dan menentang ketidaktaatan kepada-Nya merupakan kewajiban-kewajiban yang sangat penting dimana hal ini dapat melatih kesabaran kita menuju jalan yang diridhai Allah.

Syekh Muhammad Alkaf berkata, “Tegakkanlah sikap ketaatan kepada Allah dan lawanlah sikap ketidaktaatan kepada-Nya. Dunia ini hanyalah sekejap, kalian tak dapat merasakan lezatnya kesenangan kepahitan dari semua yang telah berlalu dan kalian tidak akan pernah mengetahui apa yang belum terjadi. Karenanya, tunjukkanlah kesabaran pada kesempatan hidup kita  dan kalian pasti akan bahagia.

Pada hari kiamat, sekelompok orang akan langsung mengetuk pintu surga. Ketika mereka ditanya tentang identitas mereka, mereka menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang berlaku sabar (di dunia). Ketika mereka ditanya tentang jenis kesabaran mereka, mereka menjawab bahwa mereka menegakkan ketaatan kepada Allah dan menentang ketidaktaatan (maksiat) kepada-Nya. Lalu Allah berfirman, “Mereka telah berbicara jujur. Biarkanlah mereka memasuki angin surga!’ Inilah indikasi dari firman Allah: ‘Sesungguhnya hanya orang-orang yang berlaku sabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa perhitungan.’ (QS. Az-Zumar:10).
Kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan merupakan kesabaran yang baik dan indah. Sedangkan kesabaran yang lebih baik dan lebih indah adalah kemampuan menghindar dari segala hal yang dilarang oleh Allah. Kategori kesabaran ini berkaitan dengan pengendalian diri dan  menghindari sikap-sikap tidak bersyukur. Sesungguhnya, kesabaran menghadapi musibah-musibah kehidupan ini tidak lebih baik dibandingkan dengan pengendalian diri dalam menghadapi berbagai kesenangan, syahwat serta segala daya tarik duniawi. Tidak bersikap sabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan dapat menumbuhkembangkan sikap ketidaksabaran. Demikian juga, lalai dalam hal pengendalian diri yang menyangkut kesenangan-kesenangan mengakibatkan ketiadaan rasa syukur dan lahirnya tindakan-tindakan yang melampaui batas dimana keduanya sangat ditentang Allah. Demikianlah Firman Allah, “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, ketika ia melihat dirinya serba kecukupan.” (QS. Al-Alaq: 6-7).
Kesabaran dalam kenikmatan bermakna melaksanakan hak-hak kenikmatan itu dan memanfaatkannya melalui aspek-aspek sosial dan agamis, seperti membantu orang yang sedang dirundung kesulitan, menolong orang yang teraniaya, memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-orang beriman serta menjauhkan diri dari sikap tidak bersyukur dan sombong. Kesabaran merupakan naungan bagi orang yang berduka karena kesabaran membuatnya menjadi lebih tenang. Kesabaran juga merupakan kondisi tenteram dalam menghadapi intoleransi dan kegelisahan. Tanpa kesabaran, orang-orang yang tertimpa musibah akan jatuh terpuruk serta menjadi mangsa kelemahan-kelemahan mental dan fisik mereka. Kesabaran juga merupakan tumpuan harapan bagi orang-orang yang memahaminya karena pahala yang sangat besar telah disiapkan Allah bagi mereka.

Perhatikan dengan seksama manfaat-manfaat dan keindahan dari kesabaran. Renungkan pula segala  kerugian-kerugian akibat ketidaksabaran yang membekas dalam kehidupan manusia. Ketidaksabaran tidak mampu menyelesaikan satu kebutuhan pun, tidak mampu menyelematkan kita dari ketentuan-ketentuan Allah atau mengubah suatu realitas hidup. Ketidaksabaran hanya akan mendatangkan kerugian.
Mau tidak mau, kita harus mengakui kenyataan kehidupan ini yang penuh dengan kesulitan dan keprihatinan. Sesungguhnya, dunia bukanlah tempat bersenang-senang. Dunia ini adalah fana yang merupakan tempat ujian bagi orang-orang yang beriman. Seperti Syaiful M. Maghsri yang berusaha keras dalam mengikuti ujian-ujian hidup untuk meraih jenjang tinggi. Demikian pula orang-orang beriman di dunia ini, diuji untuk mengenal lingkup keimanan dan keyakinan mereka. Sebagaimana firman Allah SWT, “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Dia pun mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al-Ankabut: 2-3).

Kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari penderitaan-penderitaan yang dialami oleh orang-orang besar yang sukses mempraktikkan kesabaran semata-mata karena Allah. Mereka senantiasa menghibur diri agar dapat mengurangi penderitaan dan mengendurkan urat saraf dengan cara bepergian,  berdarmawisata atau pun membaca kisah-kisah yang menghibur hati.   
Adapun hakikat sabar adalah semacam obat pahit, obat minum yang tidak enak rasanya tapi  banyak manfaatnya, yaitu mendatangkan segala kebaikan dan menolak segala keburukan. Bagi orang yang sehat pikirannya tentu akan memaksakan diri untuk meminum obat seperti ini, ditelan seteguk demi seteguk, siap menderita akan pahit dan kerasnya lalu berkata dalam hati sebagai berikut : “Pahit Sejam, Sehat Setahun.”
Ada 4 macam godaan kesabaran dalam kehidupan manusia, yaitu  :
a)           Sabar melakukan taat.
b)          Sabar menahan diri dari maksiat.
c)           Sabar menahan diri dari godaan dunia.
d)          Sabar menderita atas cobaan-cobaan dan musibah-musibah.
Pada saat itu Syaiful merasakan pahitnya penderitaan kehidupan namun tetap sabar menghadapinya. Ia berhasil taat, manzilah-manzilahnya sabar sehingga mendapatkan ganjaran yang besar. Ia tidak jatuh dalam kemaksiatan serta jauh marabahaya di dunia. Allah juga tidak mencobainya dengan sifat serakah mengejar kesenangan duniawi, sehingga ia tidak mengalami kebimbangan hidup, baik saat ini maupun di akhirat nanti. Selanjutnya, ia pun tidak pernah gagal bersabar dalam menghadapi musibah dan kehilangan segala sesuatu yang dicintainya. Syaiful menyadari bahwa kesabaran datang karena sikap taat, takwa dan zuhud sehingga ia mendapatkan perlindungan dan kemuliaan yang besar dari Allah.
Buah dari kesabaran sangatlah banyak, diantaranya mampu menolak mudarat, membuat hati bahagia, menghapus rasa kesal serta dijauhkan dari siksa dunia dan akhirat. Ketika Syaiful M. Maghsri merasakan lemah dan tidak mampu bersabar, ia akan dijauhkan dari berbagai perlindungan Allah dan dirinya akan terkena mudarat di dalam kehidupan. Oleh karenanya, jika ia tidak mau taat, mau manfaatnya tapi tidak mau bersabar, tidak bisa memelihara hati (merusak ketenangan jiwa) atau tidak sabar (istikamah/dawam) dalam beribadah, ia tidak akan sampai kepada suatu manzilah yang mulia dalam taat yaitu derajat istikamah. Demikian pula jika ia tidak dapat menahan nafsu, hatinya akan dipenuhi dengan kebimbangan. Saat ia tidak sabar menghadapi musibah, ia tidak akan memperoleh ganjaran. Bahkan jika Syaiful tidak bisa menanamkan kesabaran di dalam dirinya saat menghadapi musibah, ia akan mendapatkan dua musibah; yang pertama luput dari sesuatu dan kedua luput dari ganjaran, dan gantinya dianggap sebagai makruh, yaitu segala hal yang tidak ia inginkan dan jauh dari kesabaran yang dianugerahkan oleh Allah.
Menurut Syaiful M. Maghsri, bersabar atas penderitaan akibat musibah harus benar-benar dijalankan dengan ikhlas hati, jangan sampai menghilangkan nilai spiritual dalam kehidupan, Engkau harus bersungguh-sungguh, kalau yang satu luput, yang lain jangan sampai luput pula. Ini termasuk kata-kata yang padat; sedikit kata-katanya namun sangat bermakna. Sepertihalnya yang dilakukan oleh Ali saat beliau menta’ziyah seseorang; Ia berkata demikian, “Kalau engkau bersabar, maka takdirmu akan berjalan dengan diberikan ganjaran tapi jika engkau tidak mau bersabar, maka takdir tetap berjalan kepadamu sebagai orang yang berdosa.”
Pendek kata, kesabaran akan mampu memutuskan hubungan hati dengan hubungan-hubungan lain yang merusak serta mencegah hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk manusia disertai dengan tawakal yang murni dengan menyerahkan semuanya itu kepada Allah SWT. Jika manusia tidak memahami rahasia menahan nafsu keluh kesah karena ketidaksabaran, ia akan cepat jatuh dalam lubang kegelisahan. Kehidupan ini memang selalu diiringi dengan kepahitan; kadang susah menemukan solusinya karena beban terlampau berat. Tetapi inilah yang harus dijalani; kita harus senantiasa berpikir positif, melangkah dijalan yang lurus, tetap berusaha dan menciptakan kebahagian-kebahagian baru tanpa harus dikuasi oleh kenikmatan duniawi. Dalam hadist yang sudah masyhur, Rasulullah bersabda, “Aku mencegah/ menahan kekasih-kekasihku, wali-waliku dari kenikamatan dunia.’
Apabila Allah mencoba engkau dengan kesusahan, pahamilah dengan sabar! Allah sebenarnya tidak perlu menguji dan mencoba kamu karena Allah Tahu keberadaanmu. Allah melihat kelemahanmu, Allah Mahakasih Sayang kepadamu. Tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah SAW, “Sungguh Allah lebih kasih kepada hamba-Nya  yang mukmin daripada seorang ibu yang kasih-sayang terhadap anaknya.” Allah telah memperbanyak cobaan terhadap wali-wali-Nya dan terhadap pilihan-pilihan-Nya yang merupakan hamba-hamba-Nya yang paling disayangi-Nya sehingga Rasulullah bersabda, “Apabila Allah Kasih Sayang terhadap satu kaum, pasti mereka akan dicoba oleh Allah.” Inilah makna terdalam dari kesabaran. Ketika Allah menguji kesabaran kita dengan cobaan hidup, inilah tanda kasih sayang-Nya; tingkat kesabaran kita akan dijadikan sebagai modal untuk mencapai kehidupan akhirat yang damai dan bahagia.




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI