Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Syukur


Menurut Syaiful M. Maghsri, sikap syukur berkaitan dengan ungkapan rasa terimakasih kita kepada Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat sehingga kita pun harus bisa memanfaatkannya dengan penuh bijaksana, sesuai dengan kehendak-Nya. Sikap syukur merupakan salah satu kualitas kesempurnaan yang tumbuh dan membuat kekal nikmat-nikmat yang diterima seseorang.
Disebabkan Allah itu Maha Segalanya, maka Allah tidak memperoleh manfaat apa pun dari ungkapan syukur seseorang. Sesungguhnya manfaat-manfaat ungkapan syukur ini akan kembali kepada orang yang mengucap ‘syukur itu sendiri karena ia mengekspresikan penghargaannya terhadapi nikmat-nikmat Illahi. Jadi, kebahagiaan orang yang bersyukur terletak pada bobot ketaatannya kepada Allah.
Syariat Islam melalui teks-teks Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW telah mengajak umat manusia untuk menumbuhkembangkan sikap syukur, “Bersyukurlah kepada-Ku dan Janganlah Kalian Ingkar.” (QS. Al-Baqarah: 152).
“Makanlah rezeki pemberian Tuhanmu dan bersyukulah kepada-Ku.”(QS. Saba:15).
“Ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan kepada kalian, ‘Sungguh sekiranya kalian bersyukur, maka Aku akan semangkin menambah anugerah kepada kalian. Namun sekiranya kalian ingkar, ingatlah bahwa siksaan-Ku sangat pedih,”
“Sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”(QS. Saba : 13).
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang makan lalu mengucapkan syukur akan mendapat pahala setara dengan orang yang berpuasa secara ikhlas karena Allah. Orang yang bersyukur karena memiliki kesehatan yang baik, akan memiliki pahala derita penyakitnya. Orang yang dianugerahi berbagai nikmat lalu bersyukur, akan mendapat pahala yang setara dengan orang yang tertimpa musibah dan ridha menerimanya.”
Imam Shadiq berkata, “Orang yang diberikan nikmat lalu ia bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat padanya. Allah berfirman, “Jika kalian bersyukur, maka aku akan semangkin menambah kepada kalian (nikmat-nikmatKu).
“Ungkapan syukur atas setiap nikmat, tak soal berapa besar nikmat itu, merupakan ungkapan pujian atas nikmat itu.”
“Ungkapan syukur yang ditujukan kepada Allah atas setiap nikmat, seberapa besar pun nikmat itu, sesungguhnya lebih baik dan lebih berbobot dibandingkan dengan nikmat itu sendiri.”
“Sungguh, jika salah seorang diantara kalian meminum air maka Allahakan menganugerahi surga baginya karena perbuatannya itu. Orang yang mengambil kendi (yang berisi air), meminum air dari kendi itu dengan menyebut nama Allah, lalu ia berhenti sejenak padahal ia masih menginginkannya, lalu ia memuji Allah, meminum lagi airnya, berhenti sejenak padahal ia masih menginginkannya, lalu ia memuji Allah lagi, lalu meminum lagi, kemudian ia berhenti dan memuji Allah, maka Allah memutuskan bahwa ia berhak memasuki surga.
Sifat syukur dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori :
1.        Syukur Hati
2.        Syukur Lisan
3.        Syukur  Tubuh
Apabila hati kita penuh dengan pengakuan terhadap nikmat-nikmat yang Allah berikan, maka lidah kita akan mengungkapkan syukur. Apabila hati dan lidah kita bersatu dalam mengungkapkan perasaan-perasaan syukur, maka keduanya akan menginspirasikan tubuh kita untuk mengungkapkan syukur dengan jalan tunduk dan mewujudkannya dalam bentuk-bentuk ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, terdapat beberapa kategori dan metode ungkapan syukur :
a)        Syukur Hati adalah mengakui nikmat dan mengetahui bahwa sumber-sumber nikmat itu adalah Allah.
b)       Syukur Lisan adalah mengucapkan syukur kepada Sang Maha Pemberi.
c)        Syukur Tubuh adalah dengan melibatkan tubuh dalam perbuatan-perbuatan ketaatan kepada Allah dan menghindarkannya dari keterlibatan dalam berbagai maksiat kepada-Nya.
Kita harus mengungkapkan syukur atas setiap nikmat Allah dalam bentuk yang pantas, yakni sebagai berikut:
a)        Bersyukur atas kekayaan yang Allah berikan adalah dengan jalan membelanjakan sebagian kekayaan itu dalam lingkup-lingkup ketaatan kepada Allah.  
b)       Bersyukur atas ilmu pengetahuan yang Allah berikan adalah dengan jalan menyebarluaskan konsep-konsepnya yang bermanfaat.
c)        Bersyukur atas kedudukan tinggi yang Allah berikan, yaitu dengan jalan membela orang-orang yang lemah dan tertindas serta menyelamatkan dari kezaliman yang menimpa mereka.
‘Syukur yang hakiki’ atas setiap nikmat tak dapat dicapai melalui upaya-upaya apa pun yang kita lakukan, sebab memperlihatkan sikap syukur merupakan salah satu nikmat dan faktor kesuksesan yang Allah berikan. Dalam kenyataannya, manusia terlalu sulit untuk mengungkapkan ‘syukur yang pantas’ atas setiap nikmat.
Imam Shadiq meriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Musa As, “Wahai Musa, bersyukurlah kepada-Ku dengan pantas.” Nabi Musa bertanya, “Bagaimanakah aku dapat bersyukur pada-Mu dengan pantas, sedangkan aku tak dapat menemukan suatu cara untuk mengungkapkan syukur pada-Mu selain daripada apa yang telah engkau anugerahi (ajarkan) padaku?” Allah menjawab, “ Wahai Musa, selama engkau menyadari fakta ini, berarti engkau telah bersyukur kepada-Ku dengan pantas”

Perhargaan atas berbagai pemberian, berbuat baik, dan berterima kasih kepada orang-orang yang memberikan karunianya kepada kita merupakan ciri khas pribadi-pribadi mulia. Semangkin banyak mereka mendapatkan karunia, maka semangkin mereka berterimakasih. Sesungguhnya, setiap kedipan mata, setiap kata yang terucap melalui mulut, setiap gerakan tubuh dan setiap tarikan nafas  merupakan anugerah-anugerah Allah.
Jika kita wajib berterimakasih atas pemberian-pemberian makhluk Allah, maka bagaimanakah sikap kita jika si pemberi itu adalah Allah Maha Pencipta yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung dan karunia-karunia-Nya tak terhingga?      

Mengungkapkan syukur akan membuat seseorang semangkin dekat dengan Allah, memperoleh ridha-Nya serta semakin mendapat curahan nikmat atas anugerah-nya. Di sisi lain, sikap tidak bersyukur merupakan sikap pribadi-pribadi hina. Al-Qur’an menegaskan bahwa sikap tidak bersyukur (kufur) merupakan faktor utama kejatuhan bangsa-bangsa dan hilangnya keberkahan-keberkahan atas mereka.
Ketika Imam Shadiq ditanya tentang tafsir dari firman Allah, “Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami!’Dan mereka menzalimi diri mereka sendiri, lalu Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya itu semua merupakan bukti-bukti kekuasaan kami bagi orang-orang yang berlaku sabar dan selalu syukur.”(QS.Saba:19). Beliau berkata: “Mereka adalah sebagian orang yang mana desa-desa mereka saling berhubungan (berdekatan). Mereka memiliki sungai-sungai yang airnya mengalir dan banyak kekayaan, namun mereka tidak bersyukur kepada Allah dan mengubah apa (keimanan) yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, Allah mengubah nikmat-nikmat yang mereka miliki (menjadi bencana). ‘Sesungguhnya, Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu sendiri yang berusaha mengubah nasibnya.’(QS. Ar-Ra’du: 11). Maka Allah mengirimkan air bah kepada mereka yang menghancurkan desa-desa mereka, membinasakan negeri mereka serta menelan harta kekayaan mereka sebagai ganti dua kebun yang mereka miliki. Allah memberikan kepada mereka dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit dan menumbuhkan beberapa tumbuhan yang sangat merugikan mereka. ‘Inilah orang-orang yang kami hancurkan sebab mereka tidak beriman dan kami tidak menyiksa siapa pun selain orang-orang yang tidak bersyukur.”
Silahkan renungkan dengan benar segala nikmat agung dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Oleh karenanya, di dalam kehidupan ini sebaiknya jangan mengarahkan pandangan pada orang-orang yang bergelimang kemewahan yang memiliki harta berlebihan dan kesenangan-kesenangan palsu dunia ini, namun arahkanlah pandangan kepada orang-orang yang menderita kesulitan hidup dan mereka yang memiliki penghasilan terbatas sehingga hidup dalam garis kemiskinan.
Renungkan dalam hati bahwa Allah telah menyelamatkan kita dari berbagai bencana, Allah telah mengubah segala penyakit yang kita derita menjadi kesehatan tubuh yang prima serta Allah telah menghapus penderitaan kita menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Atas dasar itulah kita patut bersyukur karena Allah Maha Baik atas segala hal yang ada di alam semesta ini.                           
Para ulama membedakan antara puji dan syukur. Mereka menyimpulkan bahwa puji mengarah kepada bentuk-bentuk tasbih dan tahlil, termasuk amalan-amalan yang zahir (wiridan). Sedangkan syukur itu termasuk dalam keadaan seperti sabar, tafwid. Dengan demikian, syukur itu adalah amalan batin sebab syukur itu berhadapan dengan kufur sedangkan puji berhadapan dengan aral. Selain itu, puji juga lebih umum dan banyak, sedangkan syukur itu lebih sedikit dan khusus. Firman Allah SWT, “Dan sedikit sekali di antara hamba-Ku yang suka bersyukur.”
Syukur itu adalah taat dengan segenap anggota tubuh kepada Allah Sang Pencipta Alam Semesta, baik menyendiri atau pun bersama-sama, baik secara lisan maupun di dalam hati. Syukur dapat diartikan pula dengan menjalankan ketaatan, baik secara lahir maupun batin. Syukur itu menjauhi maksiat, menjaga hati dan lisan supaya jangan maksiat kepada Allah. Dengan demikian, kewajiban hamba Allah dari segi wajibnya bersyukur adalah bahwa setiap orang  harus mengagungkan Allah agar kita menghindari perbuatan maksiat, sesuai besarnya nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT. Apabila sudah demikian, kita telah melakukan inti dari syukur, kemudian dilanjutkan dengan bersungguh-sungguh dalam berbakti kepada Allah.
Diantara nikmat-nikmat yang bersamaan dengan datangnya musibah, kita tidak perlu takut akan hadirnya keterpurukan. Segala musibah itu tidaklah kekal, tidak akan terus menerus karena segala musibah pasti ada akhirnya. Hal yang harus kita yakini bahwa musibah itu datangnya dari Allah, bukan dari makhluk mana pun.
Inilah renungan syukur. Syukur bermakna mengagungkan Allah sehingga akan menghalangi manusia dari perbuatan maksiat. Orang yang bersyukur berarti menjaga dirinya jangan sampai kufur (tidak mensyukuri nikmat). Nikmat itu bukan sekedar dunia dan harta bendanya, kemuliaan di dunia, kebangsawanan maupun keluhuran di dunia yang pada akhirnya membuat mereka tidak menganggap adanya agama, ilmu dan kebenaran serta tidak memahami hak orang lain. Ada segolongan orang-orang yang sudah dikhususkan diberi nikmat oleh Allah SWT, diantaranya nikmat keagamaan, baik dalam hal ilmu maupun amal. Mereka terlihat begitu memahami segala nikmat Allah daripada orang-orang lainnya karena mampu mengagungkan nikmat & karunia Allah serta mampu bersyukur atas segala nikmat yang telah diterimanya.

Nabi Muhammad SAW pun memuji syukur atas kepayahan-kepayahan sebagaimana syukurnya kesenangan, sebagaimana sabdanya, “Puji syukur kepada Allah atas musibahnya yang menyedihkan dan atas nikmat-Nya yang membahagiakan.” Orang yang bersyukur itu, itulah yang lebih utama dalilnya firman Allah SWT, “Sedikit sekali diantara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” Jadi orang yang bersyukur itu, oleh Allah SWT dijadikan lebih khusus, sebagaimana firman-Nya dalam memuji Nabi Nuh as, “Nuh itu seorang hamba yang benar-benar bersyukur.” Sesungguhnya yang bersyukur itu suka bersabar dan begitu pula orang yang bersabar pada hakikatnya suka bersyukur. Orang yang bersyukur terhadap banyaknya cobaan-cobaan di dunia, tidak luput dari cobaan-cobaan yang disabari (mendapat nikmat di dunia pasti ada cobaanya), dan tidak aral (berkeluh kesah) sebab syukur itu artinya mengagungkan kepada Pemberi Nikmat, sampai dengan batas kemampuan yang menghalangi baginya daripada berbuat maksiat kepada Allah, sedangkan aral itu adalah maksiat.

Orang yang ibadah kepada Allah SWT akan sangat bersungguh-sungguh dan dawam dalam melatih diri, memelihara nafsu dari syahwat-syahwatnya dan dari kelezatan-kelezatan serta mengendalikan anggota tubuhnya dalam segala gerak-geriknya. Mereka berharap agar Allah menyempurnakan shalatnya serta memenuhi adab-adab dan taharahnya. Setelah sekian lama memohon kepada Allah dengan penuh harapan, mereka berharap kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk bermunajat dengan bersih dan nikmat di kehidupan ini.
Apabila seseorang tidak diberi kebaikan sama sekali oleh Allah SWT, sebagaimana yang diinginkan, hal itu disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Oleh karenanya, manusia hendaknya bersunguh-sungguh agar mengetahui limpahan nikmat dari Allah SWT sehingga bisa mengagungkan dan memanfaatkan nikmat Allah SWT dengan bijaksana. Jika sudah demikian, maka pantaslah apabila kita di beri nikmat, pantaslah apabila terus-terusan memperolehnya, kemudian Allah SWT memberi karunia pula yakni dikekalkannya nikmat tersebut pada dirimu, sebagaimana karunia-Nya ketika pertama kali memberi nikmat. 




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI