Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Tawakal

Bertawakal kepada Allah bermakna bergantung pada-Nya dan menyerahkan semua urusan kita kepada-Nya. Sumber tawakal kepada Allah adalah kekuatan hati dan keyakinan. Sedangkan ketiadaan tawakal kepada Allah bersumber dari kelemahan hati dan pengaruh berbagai ilusi. Sebagaimana firman Allah berikut ini, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159).
Katakanlah wahai Muhammad, ‘Tak akan ada bencana yang menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepada kami. Dialah Pelindung kami dan kepada Allah hendaklah orang-orang beriman bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).
Imam Shadiq juga meriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Daus As,“Hamba-hamba-Ku yang sepenuh hati menggantungkan harapan pada-ku, lalu seluruh langit dan bumi berkomplot untuk mencelakakannya, maka aku sungguh-sungguh akan memberinya jalan keluar hingga ia dapat lolos dari perangkap mereka. Namun hamba-hamba-ku yang menggantungkan harapannya pada makhluk-makhluk-Ku, akan Aku putuskan tali yang menghubungkannya dengan seluruh langit dan Aku tenggelamkan bumi yang berada di bawah kakinya, kemudian Aku tidak peduli dimana ia akan binasa.”
Orang yang dianugerahi tiga hal berikut tidak akan dicabut dari tiga hal lainnya, yaitu :
a.        Orang yang dianugerahi kesempatan untuk berdoa kepada Allah, tidak akan dicabut dari haknya untuk ditanggapi Allah.
b.        Orang yang dianugerahi sikap syukur, tidak akan dicabut dari penambahan nikmat.
c.         Orang yang dianugerahi sikap tawakal kepada Allah, tidak akan dicabut dari hak mendapat perlindungan-Nya.

Tawakal kepada Allah tidak berarti mengabaikan ikhtiar (usaha) dan tidak bermakna pasrah secara total dalam menghadapi berbagai peristiwa dan krisis. Sesungguhnya, tawakal kepada Allah bermakna percaya dan bergantung kepada-Nya semata-mata, sebab Dia (Allah) merupakan sumber seluruh kebaikan dan sebab-sebab, berkuasa penuh atas seluruh makhluk-Nya dan Mahakuasa untuk memberikan kesuksesan kepada siapapun  yang Dia kehendaki.
Memiliki sikap tawakal demikian kepada Allah tidak boleh dipertentangkan dengan ketergantungan kita pada sarana alamiah dan sebab-sebab lahiriah untuk meraih tujuan-tujuan kita, seperti menyiapkan bekal bagi perjalanan kita, menyediakan alat perang untuk bertempur menghadapi musuh-musuh kita, mengobati penyakit-penyakit kita serta  melindungi diri kita dari berbagai bahaya. Semua ini diperlukan untuk melindungi manusia dan dalam meraih tujuan-tujuannya. Allah telah memutuskan untuk menjadikan hal-hal ini berlangsung sesuai sebab-sebab alamiahnya. Sekalipun demikian, perlu sekali untuk menggantungkan harapan dan bertawakal kepada Allah demi meraih tujuan-tujuan kita.

Rasulullah SAW memperhatikan seorang badui yang tidak menambatkan untanya semata-mata karena tawakal kepada Allah, beliau (Rasulullah SAW) berkata kepadanya, “Tambatkanlah untamu, setelah itu bertawakallah!”
Manusia dalam kehidupan ini rentan terhadap berbagai bencana, persoalan dan krisis dimana ia harus berjuang menghadapinya. Terkadang manusia mampu menghadapi itu, terkadang tidak. Dalam banyak hal, bencana-bencana demikian merontokkan manusia serta membuatnya tak berdaya dan patah semangat. Bila demikian halnya, manusia hidup dalam kecemasan permanen, sebab ia terpaksa mengantisipasi kemungkinan kerugian, kemiskinan dan penyakit yang akan dideritanya. Adalah benar bahwa peradaban modern telah membantu mengurangi beban-beban kehidupan karena tersedianya berbagai sarana hiburan. Namun peradaban modern gagal untuk menyiapkan mentalitas-mentalitas yang penuh ketenangan. Kecemasan masih menaungi manusia dan menjerat leher manusia yang mengakibatkan manusia mengalami  penyakit-penyakit mental, kasus-kasus bunuh diri serta beragam guncangan jiwa.
Melalui konstitusi moralnya, Islam mampu mengurangi kecemasan–kecemasan manusia dan memompa mereka dengan energi-energi spiritual tinggi, seperti toleransi, kesabaran, tawakal dan keimanan. Lambat laun hal ini membantu manusia dalam meraih kedamaian hati dan mengubah ketakutan menjadi ketenteraman. Tawakal kepada Allah merupakan salah satu faktor terpenting untuk meraih martabat diri, harga diri serta kedamaian hati nurani.
Untuk mencapai kedamaian hidup, hendaknya kita memahami ayat-ayat Allah dan hadist-hadist yang mengonfirmasikan manfaat-manfaat tawakal kepada Allah. Memperkuat keimanan kepada Allah, tawakal atas ketentuannya yang baik dan menganggap-Nya sebagai sumber kebaikan, pusat pembuat sebab-sebab serta Mahakuasa atas segala sesuatu adalah hal yang akan selau mendekatkan kita kepada Allah.
Renungkan seluruh kebaikan-kebaikan Allah dan perhatianya-Nya yang luar biasa kepada manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Sadari betul bahwa Allah benar-benar melindungi orang yang menggantungkan harapan pada-Nya dan bahwa Ia senantiasa menyelamatkan orang yang memohon bantuan-Nya.
Ambillah hikmah dan pelajaran dari suasana kehidupan yang terus mengalami perubahan. Banyak orang yang tadinya miskin kini menjadi kaya, banyak orang yang tadinya kaya kini menjadi miskin, banyak orang yang tadinya terkenal kini menjadi tersingkirkan dan banyak orang yang tadinya tersingkirkan kini menjadi terkenal. Oleh karenanya, untuk meraih tawakal yang benar terhadap Allah,  kita harus menjalani kehidupan yang ridha dengan apa pun yang Allah berikan kepada kita.




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI