Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Yakin

Keyakinan merupakan kepercayaan yang teguh terhadap prinsip-prinsip agama. Kepercayaan demikian harus sesuai dengan realitas kehidupan dan tidak terpengaruh oleh rasa ragu dalam diri setiap orang. Jika tidak, seseorang akan sulit menemukan arah kehidupannya bahkan ini hanya akan menambah kebodohan di dalam dirinya.
Syariat Islam telah memberikan perhatian khusus berkaitan dengan keyakinan dan mencurahkan pujian-pujian mulia kepada orang-orang yang memiliki keyakinan. Amirul Mukminim Ali berkata, “Tak ada orang yang dapat menemukan rasa keimanan sejati sebelum ia percaya bahwa apa pun yang menimpanya tidak akan pernah luput darinya, dan apa pun yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya. Sumber sejati kerugian dan keuntungan berada hanya dalam kekuasaan Allah.”
Imam Shadiq berkata, “Keimanan (menjadi Mukmin) adalah lebih baik dibandingkan dengan Islam (menjadi Muslim). Keyakinan (menjadi Mutaqin) adalah lebih baik dibandingkan dengan keimanan. Sesunggunhya tak ada yang lebih kuat dibandingkan dengan keyakinan. “Amalan sedikit yang sinambung (dilakukan terus-menerus) bersama dengan keyakinan adalah lebih baik dalam pandangan Allah dibandingkan dengan amalan-amalan yang banyak namun tanpa keyakinan”.
Menghindar dari mencari ridha manusia, menghindar dari tidak membuat ridha Allah serta menghindar dari mencela seseorang atas sesuatu yang Allah tidak berikan padamu merupakan bagian-bagian sesungguhnya dari keyakinan Muslim. Rezeki tidak dapat diperoleh melalui sikap kikir dan tidak akan dihentikan ketika seseorang tidak menyukainya. Jika kita lari dari rezeki yang telah Allah tentukan, hal ini tak ada bedanya dengan lari dari kematian. Oleh karenanya, percayalah bahwa rezeki itu akan menggapai kita sebagaimana kematian juga akan menjemput kita suatu saat nanti. Atas dasar keadilan dan persamaan (hak), Allah akan melimpahkan kebahagiaan dan ketenteraman sesuai dengan keyakinan dan keridhaan seseorang. Sebaliknya, Allah juga akan menurunkan keprihatinan dan kedukaan sesuai dengan kecurigaan dan ketidakpuasan manusia.
Suatu hari, Imam Ridha diminta untuk mengidentifikasi siapakah yang terbaik diantara dua orang. Salah seorang selalu berkata jujur, namun ia melakukan kejahatan-kejahatan, meminum khamar dan melakukan dosa-dosa besar.  Orang yang satunya kurang memiliki keyakinan namun ia tidak pernah melakukan kejahatan-kejahatan demikian. Imam berkata, “Orang yang pertama adalah seperti seseorang yang tertidur di jalan yang benar. Segera setelah ia terbangun, ia akan menempuh jalan yang benar itu. Sedangkan orang yang kedua adalah seperti orang yang tertidur di jalan yang salah. Ketika ia terbangun ia tak dapat mengenal jalan yangg benar yang harus ia tempuh. 
Imam Shadiq meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memperhatikan seorang pemuda di masjid setelah shalat shubuh. Pemuda itu terlihat mengantuk, wajahnya pucat, tubuhnya kurus dan matanya cekung. Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Pemuda itu menjawab, “Aku memulai pagi ini dengan penuh keyakinan!” Rasulullah SAW kagum dengan jawaban ini, karenanya beliau berkata, “Setiap keyakinan memiliki bukti. Apa bukti yang engkau miliki?” Pemuda itu berkata, “Wahai Rasulullah! Keyakinanku tampak melalui kesedihanku, mataku yang tidak tertidur dan kehausan di siang bolong. Karenanya, aku benar-benar menganggap sepi dunia ini bersama berbagai kesenangannya, seolah-olah singgasana Tuhanku sedang disiapkan untuk menggelar Pengadilan Akbar, seolah-olah semua manusia termasuk diriku sedang dikumpulkan disana untuk dimintai pertanggung jawaban, dan seolah-olah para penghuni surga sedang menikmati kebahagiaan dan saling memperkenalkan diri mereka satu sama lainnya, serta seolah-olah mereka sedang bersandar di kursi-kursi yang empuk, dan seolah-olah para penghuni neraka sedang disiksa dan dibariskan, dan kini aku dapat mendengar gemuruh api di kedua telingaku.Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Allah telah mencerahkan hati orang ini dengan keimanan.” Rasulullah SAW kemudian memintanya untuk tetap mempertahankan keimanan dan keyakinan demikian. Pemuda ini meminta Rasulullah SAW agar berdoa kepada Allah bagi kesyahidannya dan Rasulullah SAW pun mendoakannya. Tak berapa lama kemudian, pemuda ini ikut serta pada salah satu peperangan bersama Rasulullah SAW dan syahid dalam peperangan.
Orang-orang yang memiliki keyakinan akan tumbuh berkembang dan tercerahkan melalui cahaya-cahaya keyakinan yang gemerlap sehingga pada akhirnya mereka memperoleh beraneka-ragam kesempurnaan mental yang mengangkat mereka menuju suatu kedudukan spiritual yang tinggi. Ilusi-ilusi dunia takkan mampu membelokkan hati mereka saat menempuh perjuangan spiritual karena harapan mereka adalah meraih kedudukan-kedudukan tinggi dan kebahagiaan abadi kehidupan akhirat seperti yang mereka harapkan selama ini.
Mereka mengerahkan seluruh upaya untuk melakukan perbuatan-perbuatan ketaatan kepada Allah demi meraih ridha-Nya. Mereka benar-benar mempercayai-Nya dalam suka dan duka. Mereka tidak takut dan tidak mengharapkan sesuatu selain keridhaan Allah sebab mereka selalu yakin akan perlindungan dan kebijakan-Nya yang baik. Oleh karena itu, doa-doa mereka terkabulkan dan karisma-karisma mereka juga terpancar. Akhirnya, mereka mendapatkan curahan rahmat dari Allah.
Imam Shadiq berkata, “Ibarat anak tangga, keimanan terdiri dari sepuluh tingkatan yang harus ditempuh satu demi satu. Orang yang memiliki dua tingkatan keimanan tidak boleh meremehkan orang yang memiliki satu keimanan. Oleh karenanya, kalian tidak boleh meremehkan orang yang memiliki tingkatan keimanan yang lebih rendah dari kalian agar orang yang memiliki tingkatan keimanan yang lebih tinggi dari kalian tidak pula meremehkan kalian. Seharusnya kalian memperlakukan dengan sangat lembut orang yang keimanannya lebih dari kalian dan kalian seharusnya tidak membebaninya dengan beban-beban yang berat yang dapat mematahkan tulang punggungnya. Sesungguhnya, orang yang melemahkan seorang beriman harus mampu mengokohkannya lagi.
Keimanan alamiah merupakan keimanan yang Allah anugerahkan, seperti keimanan para nabi dan para wasi (pewaris/pelaksana wasiat) mereka. Individu-individu demikian merupakan contoh-contoh keimanan tertinggi dan keyakinan yang agung. Dalam hal ini tak ada keragu-keraguan maupun inspirasi-inspirasi setan yang dapat mempengaruhi keyakinan mereka. Di sisi lain, ada pula manusia yang memiliki ‘keimanan semu , yaitu keimanan palsu yang hanya diucapkan tanpa memiliki realitas apa pun dalam diri seseorang. Kategori keimanan demikian akan sangat mudah dipengaruhi oleh keraguan-raguan dan inspirasi-inspirasi buruk di kehidupan. Imam Shadiq berkata, “Seseorang dapat memulai harinya dengan keimanan namun menutup harinya dengan kekufuran atau sebaliknya. Sebagian orang meminjam keimanan lalu memakainya. Padahal keimanan haruslah dimiliki oleh setiap manusia (tak perlu meminjam), melekat terus menerus dan takkan lepas hingga ia mencapai akhir kehidupannya.
Allah menciptakan kenabian melalui para nabi sehingga mereka tak pernah kufur. Demikian juga, Allah menciptakan kesuksesan kenabian melalui para wasiat nabi sehingga mereka tak pernah kufur. Untuk orang-orang selain mereka, keimanan yang Allah berikan kepada manusia adalah sebagai pinjaman. Namun jika manusia senantiasa berdoa dan memohon dengan sangat kepada Allah, mereka akan berada dalam ‘keimanan’ itu dan memilikinya.  
Penyesalan, kesedihan dan kegundahan akan dirasakan orang yang tidak memperoleh manfaat dari apa yang disebut dengan iman. Ia pun tidak akan bisa menyadari bagaimana mengelola keimanan, baik untuk kebaikan ataupun hal yang buruk di dalam hidupnya. Orang yang segala perbuatannya sesuai dengan kata-katanya akan terselamatkan, sedangkan orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan kata-katanya memiliki keimanan semu. Keimanan ini merupakan keimanan yang sedikit alamiah yang telah tumbuh dan berkembang hingga mencapai suatu tingkatan yang besar (setiap keimanan memiliki tingkatan yang berbeda).

Kini, izinkanlah saya (Syaiful M. Maghsri) untuk memberikan beberapa nasihat yang dapat membantu Anda dalam melindungi ‘keimanan alamiah’ dan menyelamatkan ‘keimanan yang diusahakan dengan gigih’.
Dianjurkan kepada Anda untuk bergaul dengan individu-individu yang beriman dan saleh serta menghindari bergaul dengan individu-individu pendosa dan jahat. Pergaulan memainkan peranan besar dalam meraih moralitas-moralitas. Merujuk pada fakta ini, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang  manusia akan mengikuti keimanan sahabatnya. Oleh karenanya, kalian harus memilih sahabat-sahabat untuk kalian gauli.”

Hindarilah menelaah dan mendengarkan buku-buku yang menyimpang (dari ajaran suci) serta ungkapan-ungkapan orang-orang yang menyesatkan dimana perhatian utama mereka adalah bagaimana cara meracuni ide-ide suci orang lain. Tujuan mereka hanyalah untuk menjauhkan kita dari hikmah Islami dan merusak nilai-nilai serta konsep-konsep keimanan kita melalui mentalitas kehidupan mereka.
Dianjurkan untuk merenungkan makhluk-makhluk Allah, penciptaannya yang indah, pengaturannya yang akurat serta hikmah pengelolaannya yang mempesona. Seperti Firman Allah, “Di bumi terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang memiliki keyakinan. Dan juga terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah dalam dirimu sendiri. Tidakkah kalian memperhatikannya?” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21).
Dianjurkan pula agar kita selalu berusaha keras dan mempraktikkan perbuatan-perbuatan ketaatan kepada Allah. Dianjurkan untuk menghindari perbuatan maksiat kepada Allah agar mentalitas seseorang dapat benar-benar menjadi mantap melalui konsep-konsep keimanan. Sesungguhnya, jiwa manusia sesuci air segar jika tidak terkotori oleh polusi-polusi kehidupan.
Kebanyakan manusia dapat memperoleh manfaat melalui cahaya keimanan. Sebagaimana firman Allah, “Demi jiwa serta penyempurnaannya, Allah mengilhami jiwa itu dengan jalan kefasikan dan ketakwaan. Beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 7-10).
Imam Shadiq berkata, “ketika seseorang melakukan dosa, titik hitam muncul pada hatinya. Jika ia bertobat, titik hitam itu menghilang. Namun jika ia terus melakukan dosa-dosa, titik hitam itu akan bertambah banyak hingga menutupi hati. Orang itu tidak akan pernah menggapai kebahagiaan.  
Apabila Syaiful M. Maghsri merasa bahwa Allah menghindarkan dunia dari padanya atau sering melimpahkan kesulitan dan cobaan kepadanya, Syaiful semakin yakin bahwa dirinya memang berada di sisi Allah. Menjadi hamba-Nya yang dikasihani dan dicintai seperti Syaiful akan ditempatkan pada kedudukan yang tinggi pada pandangan-Nya. Allah pun sedang membawa dia menempuh jalan ke arah wali-wali-Nya sebab Allah itu senantiasa melihatnya, dimanapun dan kapanpun. Semua ini dilakukan semata-mata untuknya, bukan untuk keuntungan Allah sendiri. Dalam hal ini, Allah sungguh berjasa melalui pemeliharaan-Nya dan kemaslahatan untuk Syaiful dengan memperbanyak ganjaran dan balasan yang baik serta menempatkannya di tempat orang-orang yang baik dan orang-orang yang dicintai-Nya di sisi Allah. Banyak sudah kita melihat hal-hal yang baik dan pemberian-pemberian-Nya yang mulia. Selain itu, Allah juga yang memberi taufik dengan jasa-Nya dan karunia-Nya.

Jikalau Syaiful M. Maghsri sudah meyakini bahwa Allah Ta’ala mampu menjamin rezeki untuk kebutuhan hidupnya dan melakukan ibadah kepada-Nya, berarti  Syaiful sudah yakin pula bahwa Allah itu Masa Kuasa. Apa saja yang dikehendaki-Nya dan bagaimanapun caranya semata-mata Allah lakukan untuk melimpahkan rizki dalam setiap hal dan setiap saat. Syaiful sudah tahu dengan pasti, maka ia akan tawakal, percaya kepada jaminan-Nya yang benar dan kepada janji-Nya yang tulus. Oleh karenanya, tentu hatinya menjadi tenteram dan berpaling dari segala hal yang dibenci Allah karena ia tahu bahwa itu tidak akan dapat membelanya dan tidak akan dapat mencukupkan kehidupannya tanpa pemberian dari Allah SWT. Tawakallah kepada-Nya, jangan kepada yang lain.

Setelah Syaiful M. Maghsri memiliki keyakinan ini, ia akan meninggalkan tadbir (bersusah payah memikirkan diri sendiri, mengatur ini itu ataupun memikirkan yang bukan-bukan) dalam setiap langkah hidupnya. Syaiful akan menyerahkan semuanya kepada Yang Mengatur langit dan bumi dan ia pun akan mengistirahatkan diri (hati)-nya dari hal-hal yang sesungguhnya takkan pernah terjangkau oleh pengetahuan dan pikiran manusia, seperti “Bagaimana dengan besok? Apakah yang kita rencanakan tidak akan gagal? Apakah ini bisa terjadi? Dan bagaimana kelak jadinya?” Semua ini tidak perlu kita pikirkan dan jangan pernah lagi mengatakan, “barangkali” atau “kalau begitu’ karena secara tak langsung semua ini hanya akan membuat bimbang hati dan menyia-nyiakan waktu hidup kita.




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI