Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Otak Kanan dan Kiri

Dominannya yang kanan, khususnya tangan kanan-memberi konsekuensi dalam cara berpikir. Karena gerakan tubuh sebelah kanan, termasuk tangan, dikontrol secara neorologis oleh otak kiri. Karena itu pula, dominasi tangan kanan dapat berarti dominasi otak kiri.
Fakta ini sangat signifikan, baik secara fisik (misalnya orang kena stroke pada otak kiri akan memberikan gangguan pada bagian tubuh belahan kanan) maupun secara simbolis (sebagai kuatnya pengaruh otak kiri dalam kegiatan pengambilan keputusan).
Tubuh manusia, baik dalam perkembangan spesies maupun individu, memang sudah diprogram sedemikian rupa untuk mengontrol gerakan secara berlawanan. Hampir semua organ gerak dan bagian tubuh sebelah kiri dikontrol oleh otak sebelah kanan. Sebaliknya, organ gerak kanan dan bagian tubuh sebelah kanan diatur dan diawasi oleh otak sebelah kiri. Kontrol yang terjadi melalui serabut-serabut saraf yang berjalan hilir mudik pada tulang belakang (vertebrate) berlangsung sepanjang waktu. Tepat di tulang belakang bagian leher, kira-kira setinggi lekukan yang dilewati garis imajiner yang menghubungkan bagian terbawah kedua daun telinga, serabut saraf tersebut berjalan menyilang. Ahli saraf, menyebutnya decusasio. Kontrol berlawanan terjadi setelah penyilangan serabut saraf ini.   
Fakta-fakta fisik di atas itu tidak saja penting dari segi organisasi otak, tetapi juga sangat penting dalam pengembangan belahan-belahan otak. Dengan melatih organ-organ gerak, misalnya melalui gerakan teratur dan rutin, akan dapat mengembangkan otak ke arah aktualisasi optimal. Misalnya, dengan menyeimbangkan kedua belahan tangan dan kaki dalam bergerak, akan dapat mengoptimalkan kedua belahan otak.
Beberapa cara kerja otak kiri, antara lain kegiatan analitis dan faktual, telah menjadi trend selama ratusan tahun dalam cara berpikir umat manusia. Milenium yang lalu, manusia bertanya tentang “what is” (apa ini) ketika kita menghadapi sesuatu. Sesuatu itu kemudian dianalisis sedemikian rupa menjadi bagian-bagian kecil, yang sungguh-sungguh objektif. Cara berpikir seperti ini hanya tertuju pada “pembetulan kesalahan”. Konsekuensinya, semua pemikiran adalah pemecahan persoalan atau meluruskan apa yang keliru.  
Untuk menghadapi trend transformasi dan teknologi, menurut Syaiful corak berpikir seperti ini tidak cocok lagi. “What Can be” (apa yang mungkin dilakukan) adalah pertanyaan yang relevan diajukan untuk masa kini. Cara berpikir analitis, yang khas otak kiri itu, membuat manusia tidak berkembang dengan baik. Hal ini membuat manusia kehilangan kreativitasnya, karena ia menghadapi sesuatu yang memang sudah ada. Pemikirannya tidak berkembang, statis, dan tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Berpikir analitis adalah linear. Dalam kegiatan berpikir, tujuan berpikir analitis, vertikal atau linear itu adalah kebenaran. Gaya seperti ini tidak menghasilkan jalur baru bagi otak.
Sebaliknya, bertanya “apa yang mungkin” dilakukan, seperti ciri khas imajinatif otak kanan, akan membawa pada ribuan kemungkinan dan ribuan kreativitas. Memberikan porsi pada otak kanan akan menghasilkan banyak kemungkinan. Seperti mendaki gunung, sang pendaki menciptakan jalur-jalur baru yang lebih menantang untuk menuju puncak.
Trend yang dipotret oleh Syaiful M. Maghsri ini, slowly but surely menjadi trend baru di semua bidang kehidupan, pemikiran konstruktif dan imajinatif hanya dapat muncul dengan corak berpikir otak kanan. Gayanya bersifat lateral (menyamping).
Walau ada kesadaran seperti itu, pikiran-pikiran analitis tidak secepat itu menghilang dari “peredaran”. Apalagi pikiran-pikiran yang berbasis pada indra manusia (yang dianggap sahih adalah yang faktual, yang dapat diserap oleh indra. Padahal, semua kearifan selalu menyebut indra sebagai biang nafsu jelek manusia) dan pikiran-pikiran manusia matematis. Sebagai contoh, IQ masih menjadi ukuran kecerdasan hampir di semua lembaga pendidikan. Intelligence Quotient atau kecerdasan rasio itu masih dipercaya sebagai kunci untuk mencapai kesuksesan. Anak-anak yang cerdas, yang karena itu dianggap pasti sukses dalam kehidupan, adalah mereka yang nilai rapornya bagus semua atau indeks prestasinya di atas rata-rata.



Konsekuensi logis dari corak berpikir otak kiri itu turut mebentuk arah sistem pendidikan. Arah itu menjadi keliru karena tiga paradigma dasar yang membentuknya: (1) ukuran kecerdasan adalah nilai matematika dan bahasa, (2)  kunci kesuksesan adalah nilai-nilai IQ (rapor, indeks prestasi, lain-lain.), dan (3) orientasi pada pemecahan masalah. IQ (Intelligence Quotient) sebagai sebagi ukuran kecerdasan, sejak itu pula kemampuan matematis “merajai”.
Konsekuensi yang paling tragis atas pendewaan otak kiri itu adalah hilangnya kearifan dari diri manusia. Eksploitasi, baik terhadap alam maupun diri manusia itu sendiri, berkembang sangat pesat.
Puncak tertinggi terjadi ketika pemetaan gen mencapai 90 persen, dan teknologi kloning akan diterapkan pada manusia. Bukan penemuan itu sendiri yang memicunya, melainkan motivasi kesombongan manusia yang melenyapkan kearifan. Padahal, banyak fakta membuktikan bahwa setinggi apa pun penemuan manusia jika itu disertai ambisi-ambisi yang jelek, maka kehancurannya yang dituai.

Betapa pun kesadaran-kesadaran itu sedang menjadi tren, tetapi tanpa perubahan paradigma hal itu tidak akan berlangsung lama. Paradigma otak kiri harus diubah. Paling sedikit, misalnya mengubah kebiasaan memecah-mecah fakta atau objek menjadi kebiasaan mengutuhkan fakta atau objek. Kebiasaan melihat hutan dari pohon-pohonnya saja harus dilengkapi dengan memandang hutan dari atas atau dari luar.
Paradigma otak kanan akan menghasilkan dunia yang lebih luas. Untuk memperoleh sesuatu yang lebih bermakna, manusia harus belajar sesuatu secara terpadu (integral) dan menyeluruh (holistis). Cara berpikir linear yang tipikal otak kiri cukup baik, tetapi corak itu tidaklah cukup untuk menjawab permasalahan manusia.       
Dalam banyak hal, sejak manusia berada di bumi, cara berpikir otak kiri telah cukup banyak menolong. Bukti-bukti arkeologis dan bioantrologi menunjukkan bahwa berpikir yang linear, sekuensial, otomatis, merupakan ciri khas makhluk-makhluk bersaraf pada masa awal kehidupan biologis. Pada masa modern pun, berpikir linear memberi keuntungan. Termasuk memudahkan manusia. Karena pola-pola yang sudah terpatri dalam otak yang bereaksi secara otomatis terhadap rangsangan dari luar telah membantu manusia untuk dapat bertahan hidup. Adanya ancaman-ancaman dari luar dan respons cepat manusia memungkinkan ia dapat hidup seperti hari ini.  
Dalam dunia sains, berpikir linear juga telah menghasilkan banyak penemuan berharga. Tiruan jaringan saraf manusia, yang disebut komputer, adalah salah satu contoh hasil berpikir manusia secara linear. Bahkan, mesin itu bekerja dengan cara meniru mekanisme pikiran linear. Misalnya, kita memakai otak kita secara linear dan ternyata menghasilkan penemuan berharga bagi kita.
Walaupun begitu, ada juga ilmuwan yang menyadari bahwa berpikir linear itu sangat baik, tetapi tidaklah cukup. Ada juga yang menyebut bahwa dengan hanya berpikir linear mnusia hanya menggunakan setengah otaknya saja.
Dengan kesadaran seperti di atas, misalnya, bila dilihat dari segi aspek pendidikan, cara belajar  dan cara berpikir harus lebih luas dalam memakai dua belahan otak manusia. Untuk operasionalisasi kesadaran itu, maka pekerjaan yang mula-mula  adalah kesadaran akan potensi-potensi dasar manusia yang semuanya berkaitan erat dengan otak.

Komponen-komponen itu meliputi; (1) indra, (2) rasio, (3) emosi, dan (4) intuisi. Belahan-belahan otak sendiri telah menjadi “tempat” bagi komponen-komponen dasar tersebut. Konsekuensi logisnya, gerakan-gerakan tubuh (kinestetis), kecakapan pemecahan masalah kematangan emosi, dan kepiawian menggali alam bawah sadar merupakan keterampilan utama mengubah cara berbelajar dan cara berpikir. Gilirannya nanti, mengubah manusia secara keseluruhan.
Menurut Syaiful M. Maghsri fakultas akal (al-‘aql) adalah semacam wahyu dalam diri manusia. Ia adalah fitrah yang diturunkan dalam diri manusia (AL-fitrah Al-Munadzdzalah). Fakultas akal itu sekaligus membawa dua dimensi otak; yang rasional dan yang intuitif. Singkatnya, dualisme otak kiri-otak kanan itu telah menjadi wacana menarik. Tidak saja untuk kepentingan ilmiah, tetapi juga menjadi semacam terapi terhadap “kebodohan” dan ketidakmampuan berpikir.

Dijaman yang serba modern ini banyak sekali masyarakat yang berpikir insferis/serba keberadaan. Apa yang dilihat secara lahiriah dengan mata biasa itulah yang dianggap kebenaran, semuanya dinilai dengan lahir tanpa mempertimbangkan ada apa dibalik yang lahiriah tersebut. Bila kita diajak bicara dengan seseorang, dimana cara orang tersebut berbicara sangat sopan, kadang-kadang menyanjung Anda apabila orang tersebut menawarkan keuntungan kuat Anda maka seketika Anda terpengaruh dan tergiur selanjutnya apapun ajakan orang tersebut Anda ikuti? Mengapa demikian? dipastikan Anda hanya berpikir tentang keuntungan yang sifatnya lahiriah, keuntungan yang sifatnya logika tanpa memperhatikan suara batin Anda, padahal batin Anda sudah berbisik “Tidak mungkin hanya dengan mencari seorang akan dapat motor gratis” bisikan ini terabaikan karena yang ada dalam pikiran Anda hanya motor saja cara berfikir inilah yang disebut berfikir daya “Otak Kiri”.

Baca selengkapnya

Otak Manusia

Otak manusia sesungguhnya memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetapi, kekuatan dahsyat itu seringkali hanya tersimpan berupa potensi karena ketidakpahaman dalam pemanfaatannya. Potensi otak manusia untuk menciptakan, menyimpan, dan belajar boleh dikatakan tidak terbatas. Selama hidup, manusia hanya menggunakan sebahagian kecil saja dari kemampuan berpikir tersebut.
Pikiran bawah sadar berguna menyimpan semua pengalaman hidup, citra seseorang, termasuk impian. Ia selama ini hanya berfungsi sebagai bank memori, padahal potensinya jauh lebih besar dari itu. Kekuatan pikiran bawah sadar dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tiga sampai tujuh kali lebih cepat, dengan kemampuan relaksasi sebagai kekuatan tambahan. Emosi seseorang juga ditentukan oleh pikiran bawah sadar yang kemudian diekspresikan dalam perilaku melalui pikiran sadar.
Untuk mendayagunakan potensi otak yang begitu besar, maka perlu diketahui tentang gelombang energi otak (brainwave), yang tebagi dalam empat keadaan: beta, alpha, tetha, dan delta. Kondisi beta adalah keadaan sehari-hari yang dialami setiap orang (kecepatan 13 s/d 28 putaran per detik), keadaan di mana seseorang terjaga dan bisa memikirkan beberapa hal secara serempak. Pada kondisi didominasi oleh cara berpikir logika.

Secara garis besar, otak manusia terbagi dalam dua bagian: otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memproses segala macam angka, matematika, bahasa, dan hal-hal yang menyangkut logika lainnya. Sementara otak kanan memproses segala macam keindahan, seni, rasa, kreativitas, dan segala sesuatu yang tidak lagi bersifat verbal. Pengendalian emosi dan kesadaran diri juga terletak pada otak kanan.
Dari keseluruhan kemampuan otak, maksimal hanya 10% yang dipergunakan setiap hari. Sisanya dibiarkan menganggur. Ibarat gunung es yang kelihatan di permukaan, sedangkan bagian terbesar dari gunung es itu berada di bawah permukaan. Artinya, begitu besar potensi otak manusia yang belum tergali dan dimanfaatkan.
Dengan maksimal 10% potensi otak yang telah dimanfaatkan, manusia sudah menghasilkan karya-karya hebat ataupun tampak hebat. Bayangkan bagaimana jadinya jika manusia bisa memanfaatkan sebagian lain atau 90% potensi otak tersebut.
Pikiran bawah sadar disebut juga otak intuitif, keputusan besar dan hebat yang dibuat oleh eksekutif jagoan dan pemimpin ulung dihasilkan oleh otak intuitif, bukan oleh otak sadar (rasional). Antara pikiran sadar dan bawah sadar dibatasi sebuah garis filter penghubung yang disebut dengan recticular activating system, sehingga seseorang tetap terlihat sadar dan waras.

Gelombang otak alpha (kecepatan sekitar 7 s/d 13 putaran per detik), di mana otak hanya bisa berpikir tentang satu hal saja, tidak lebih. Keadaan alpha adalah keadaan yang rileks tanpa stres, sehingga orang mudah masuk ke pikiran bawah sadar, bisa mengubah citra diri maupun keadaan, bisa menetapkan tujuan, belajar dan membaca ‘secara cerdas’.
Keadaan alpha mudah dicapai, yaitu ketika kita sedang melamun atau berkhayal. Anak-anak berumur 0 s/s 5 tahun (balita) hidup dalam keadaan alpha. Itu sebabnya mereka mampu menyerap informasi dengan cepat, dan langsung menembus pikiran bawah sadarnya. Oleh karena itu, anak-anak adalah kelompok orang yang paling cepat memahami segala sesuatu yang baru dan sulit sekalipun.
Kondisi theta adalah keadaan ketika dapat bermimpi (kecepatannya sekitar 3,5 s/d 7 putaran per detik). Dalam kondisi ini, pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Penyembuhan diri dari penyakit bisa diperoleh dalam kondisi ini. Terakhir adalah gelombang otak delta (kecepatannya 0,5 putaran per detik), yang terjadi saat kita tidur pulas dan tanpa mimpi. Otak alpha dan tetha merupakan dua potensi terbesar dari otak bawah sadar yang bisa dimanfaatkan untuk kesuksesan manusia.

Menurut Syaiful ada dua alasan mengapa otak jauh lebih penting; pertama, walaupun ia tidak bisa bekerja sendiri, secara biologi ia adalah pusat bagi semua aktivitas tubuh, baik itu kegiatan sadar maupun tidak sadar (otonom). Ia layaknya CPU (Central Processing Unit) dalam sebuah sistem komputer bagi tubuh manusia, dan kedua secara simbolis, ia diposisikan pada bagian tubuh teratas dan menempati posisi paling tinggi dari semua organ tubuh. Ia disimpan dalam batok kepala yang berlapis-lapis dan sangat kuat. Juga direndam dalam cairan (cerebrospinalis) yang diproduksinya sendiri yang membuatnya tahan gempa dan goyangan.
Dari segi evolusi, kepala yang berada pada posisi teratas menunjukkan kesempurnaan dari makhluk manusia. Makin tegak posisi tubuh, makin sempurna fungsinya. Ini menjadi alasan mengapa manusia disebut Homo Erectus (makhluk yang berdiri tegak). Ketegakan itu berhubungan dengan daya dari isi kepala (otak) yang membuat makhluk itu menjadi bijaksana. Inilah alasannya sehingga manusia disebut homo sapiens (makhluk bijaksana). Kebijaksanaan itu pula timbul karena otak terus berkembang tanpa bosan, bahkan kadangkala tanpa diinginkan oleh pemiliknya.

Otak adalah organ yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta ini. Ia  adalah satu-satunya bagian tubuh yang paling berkembang dan secara otomatis dapat mempelajari dirinya sendiri. Otak adalah organ yang bilamana dirawat, dijaga, dan dipelihara secara serius dan teratur, dapat bertahan sampai lebih dari seratus tahun. Tidak seperti organ tubuh lain, yang kian tua kian rusak, otak justru makin tua makin menunjukkan fungsi yang kian luas dan lebar. Kian tua interkoneksi antar sel saraf (neuron)  karena memang pengalaman hidup makin banyak, kian padat dalam otak manusia.
Seperti pernyataan yang sering didengar; “makin tua, makin menjadi”, begitulah otak manusia. Otak memang dapat dibentuk dan terus-menerus berubah, dalam jangka milidetik demi milidetik. Kelebihan otak terletak pada sifat plastis-nya.
Dalam bentuk dan cara kerja pun, otak menampakkan keunggulan dibandingkan dengan organ tubuh lainnya seperti; jantung, hati, paru, ginjal, kantung kencing, kantung empedu, semua yang ada dalam tubuh manusia-bekerja dengan cara sama, sejak mereka ‘diciptakan sampai ketika mereka rusak dan hancur. Otak tidak seperti itu. Ia berubah dan bekerja dengan cara yang berbeda, detik demi detik, waktu demi waktu. Dan itu terjadi secara molekuler melalui belajar. Hebatnya, ia bisa belajar seumur hidup. Dan pada belajar pula terletak kekuatan otak. Karena itu, reformasi otak mengandung arti juga pemaksimalan kemampuan manusia untuk belajar. Syaiful M. Maghsri orang yang berprinsip Long life education (‘Uthlubu al-‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi, tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat) adalah ia yang menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal.
Karena otak pula, Syaiful hari ini berbeda dengan ia yang kemarin. Setiap informasi yang diakses akan memberi nuansa baru bagi hubungan antar sel saraf dan antar jaringan otak. Dan ini mengubah isi pikiran, bahkan termasuk cara berpikir. Unit kecerdasan terkecil ada pada ujung sel-sel saraf ini, makin banyak sel-sel ini berhubungan, makin banyak ikatan sel saraf, makin banyak pula informasi yang diakses.
Ada benarnya keyakinan Syaiful M. Maghsri yang berpendapat bahwa hidup itu seperti sungai: mengalir, mengalir, dan mengalir. “Segala sesuatu mengalir,” kata Syaiful, “karena itu, ia berubah dan tidak menetap.” Seperti itulah sel-sel saraf : “mengalir” terus dan tidak menetap. Karena itu, seseorang tidak dapat berada pada sebuah aliran sungai yang sama. Persis seperti tidak mungkinnya sel saraf tetap dan begitu-begitu saja. Yang hebat, ia dapat berubah, tetapi tidak menghilangkan informasi yang telah disimpannya. Penataan sel saraf berlangsung terus, sepanjang hidup.
Dari lingkungan ia belajar, ia membentuk kumpulan informasi mental dalam kepalanya. Itulah perilakunya. Tingkah pola si anak atau orang dewasa ditentukan oleh informasi yang disimpan dalam otaknya. Pengalaman akan disimpan dalam sel-sel otak, menumpuk dari waktu ke waktu, dan semakin si empunya otak itu belajar, pengalaman itu akan menimbulkan kebijaksanaan (wisdom), Otak dan akal dapat menjadi jalan masuk untuk mengenal diri manusia. Bukan saja karena akal merupakan komponen tertinggi diri manusia, melainkan juga karena akal mencitrakan dan memberikan ciri khas bagi manusia.

Menurut Syaiful M. Maghsri, meneliti diri sendiri memberi konsekuensi. Persinggungan sains dan agama (atau sesuatu yang non-empiris) dan munculnya kesadaran-kesadaran kemanusiaan (paling tidak, tentang kemisteriusan manusia) adalah sedikit dari konsekuensi itu. Masalah penting dari semua itu adalah keinginan mengenal diri secara utuh. Syaiful telah memulai dengan sikap spekulatif dalam mengenal dirinya sendiri.  Aspek-aspek non-empiris berhasil dikuakkan untuk menunjukkan bahwa proses pengenalan diri adalah inti dari keberadaan manusia. Tatkala instrumentasi ilmiah  sedemikian berkembang, memilih jalur empiris dan rasional untuk proses pengenalan diri. Otak, dan lebih luas lagi akal, adalah salah satu tema dari jalur empiris yang dipilih.

Fenomena phantom limb adalah sedikit contoh bagaimana otak membentuk gambaran tentang diri. Menurut Syaiful M. Maghsri salah satu produk otak adalah pikiran. Manusia boleh saja mati, tetapi pikiran-pikirannya bisa jadi tetap hidup. Mengapa demikian? karena pikiran-pikiran disebarkan, disosialisasikan, bahkan didiskusikan.
Adanya aspek-aspek intuitif, yang diberi porsi pada bagian kanan otak, dan aspek-aspek rasional yang diberi tempat pada otak kiri, telah memberi pengaruh besar pada jalur mistisme dari ilmu pengetahuan tentang manusia. Oleh karena itu, dualisme otak, seperti terjadi pada orang-orang Barat, sangat tidak dikenal dalam tradisi pengetahuan Islam.


Sesungguhnya dalam hidup ini kita dilengkapi dengan perangkat berfikir yang luar biasa canggihnya, bila seseorang mampu memahami, mendalami dan kemudian memanfaatkan dalam seluruh aspek kehidupan maka dengan ijin Tuhan orang dapat berhasil dan sukses dalam hidupnya. Potensi inilah yang telah dicari selama ini oleh HM. Syaiful M. Maghsri selama bertahun-tahun dan akhirnya Allah SWT, memberi petunjuk kepadanya. Melalui perjalanan spiritualnya yang cukup panjang dan berliku, penuh hambatan dan rintangan, Syaiful mampu menangkap berbagai fenomena kehidupan dan fenomena alam semesta, diantaranya fenomena berfikir manusia. Menurut Syaiful agar seseorang dapat mencapai keberhasilan dalam hidupnya baik hidup di dunia maupun akhirat perlu berfikir secara rasional dan menjalankan pendekatan secara ruhaniah dengan pendekatan 4 pola pikir terpadu.



Perlu diketahui bahwa ada empat istilah digunakan dalam bab ini. Kebanyakan makna dari nama-nama ini telah teracuni oleh berbagai kekeliruan karena kebodohan, juga telah terkaburkan oleh istilah yang bermacam-macam. Syaiful M. Maghsri akan menerangkan makna nama-nama tersebut sesuai dengan maksudnya.


Baca selengkapnya

Mencari Bimbingan Allah

Hal pertama yang harus dilakukan Syaiful M. Maghsri adalah sejauh mungkin mengajukan berbagai pertanyaan mengenai agama-agama, sehingga ia menjadi mengenal keesaan dan bimbingan Allah. Ia perlu berusaha memperoleh pengetahuan dasar yang cukup sebagai pegangan untuk tujuannya itu. Setelah melakukan penyelidikan mengenai keesaan Allah dan kerasulan Nabi, maka ia akan keluar dari daerah kekafiran dan masuk ke dalam ajaran  keimanan yang merupakan bagian Islam. Argumentasi dan koreksi tentang suatu, menurut kesepakatan para ahli hukum adalah penting dan diwajibkan bagi setiap Muslim, demi kepentingan pengetahuan dan dasar ‘kepercayaan’.  Jika seseorang tidak mendapatkan tingkat derajat kepuasaan yang diharapkan, di samping upaya terbaik, ia mestinya tidak kehilangan semangat, dan perlu berdoa dan bersikap tunduk dengan rendah hati. Ini adalah metode yang dilakukan oleh HM. Syaiful M. Maghsri dalam kehidupannya.
Berdoa dengan kerendahan hati berarti, bahwa Syaiful M. Maghsri mengakui kelemahannya, dan bersungguh-sungguh mencari bimbingan dari Allah yang selalu membantunya dalam mencari kebenaran hakiki. Sebagaimana firman Allah SWT, “Mereka yang bekerja keras mencari keridhaan kami, benar-benar akan kami tunjukkan jalan kepada kami.” (QS. Al-Ankabut 29 : 69)

Syaiful M. Maghsri teringat akan mengikuti proses pembersihan jiwa, proses spiritual lewat pelajaran Rohani.  Suatu pagi ia jatuh mengantuk dalam posisi berdiam diri di tikar sembahyang, tiba-tiba Syaiful melihat seakan ada dua orang duduk di depannya. Salah seorang dari mereka adalah Syeh Muhammad Alkaf (kini telah almarhum) dan saudaranya Agus M. Maghsri. Syekh Muhammad Alkaf berkata (namun perkataannya dan pendengaranku melalui perantara saudaraku itu), “Selama hidup, aku dihadapkan dengan begitu banyak masalah yang sulit untuk diselesaikan, sepertinya mereka lelah dengan sendirinya. Bahwa mereka telah dipertikaikan oleh tangan-tangan gaib, dunia yang tak terlihat. Peristiwa ini untuk pertama kali mengungkapkan kepadaku tentang adanya hubungan antara alam metafisis dengan dunia, dan hubunganku dengan keberadaan alam di luar dunia ini.”
Pada waktu itu, aku merasakan bahwa berbagai permasalahan dan kesulitan yang dihadapi Syekh Muhammad Alkaf tersebut adalah gambaran peristiwa yang dialami pada masa kanak-kanaknya. Maksudnya adalah, jika seseorang mencari bimbingan Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah pasti akan membantunya pula. Tentu akan sangat bermanfaat, apabila sedang mencari pertolongan dari Allah adalah dengan berpedoman kepada ayat-ayat Al-Qur’an. Allah berfirman, “Ingatlah bahwa hati akan terpuaskan (tenang) dengan senantiasa mengingat kepada Allah.” juga akan sangat berguna dengan sering mengucapkan “Ya Fattahu” dan “Ya dalilal Mutahayyirin” secara berulang-kali, ucapkan kata-kata tersebut dengan perhatian dan kesungguhan  yang tinggi.

Syekh Muhammad Alkaf  bercerita kepadaku, ketika ia sedang dalam perjalanan dengan bis dari Cirebon ke Jakarta. Ada seorang pemuda yang gagah duduk di dekatnya. Tidak terjadi percakapan di antara mereka, tetapi entah mengapa pemuda tersebut mulai menangis, Syekh terkejut dan bertanya sebab apa ia menangis. Si pemuda berkata,

“Aku akan menceritakan kisahku kepada Anda. Aku adalah seorang insyur teknik sipil sejak kecil aku dididik untuk tidak meyakini tentang adanya Tuhan, dan juga tidak percaya akan adanya ‘hari kebangkitan’, tetapi aku merasa suka kepada orang religius, apakah mereka itu Islam, Kristen, Protestan, Hindu, maupun Budha. Suatu malam aku menghadiri sebuah pesta yang diselenggarakan oleh teman-temanku, kadang-kadang kami mengikuti beberapa jenis permainan, musik dan menari, tetapi tak lama kemudian aku mulai merasa mempermalukan diri sendiri. Aku pergi ke tingkat atas dan menangis di sana. Aku berkata, “Oh, Tuhan! Bantulah aku jika  engkau benar-benar ada. Beberapa waktu berselang aku kembali ke lantai bawah dan pesta tersebut berakhir ketika fajar menyingsing. Kemudin di malam yang lain, sewaktu aku sedang menyelesaikan pekerjaan bersama timku dan beberapa pegawai lainnya, aku didatangi oleh sarjana yang religius dengan wajah yang berseri-seri. Ia menyapa dan berkata bahwa dia ingin mengobrol bersamaku. Aku menjawab, bahwa aku akan menemuinya pada hari berikutnya di waktu sore. Setelah ia pergi, sebagian rekan kerjaku memberikan tanggapan meremehkan tentangnya, menolak  kalau orang itu adalah benar-benar orang yang alim. Aku hanya menanggapi, “Aku pikir ia adalah kaum fakir-miskin, yang sedang membutuhkan bantuan.””
“Ketika kami mendekati Jakarta. Aku melihat insiyur muda itu kembali menangis, ia menyadari keherananku dan berujar, “Kelihatannya kita sudah masuk wilayah Bekasi.”

Cerita ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa siapa pun yang mencari bimbingan Allah dengan bersungguh-sungguh, tentu akan berhasil dalam tujuannnya itu. Sekalipun ia skeptis tentang Monoteisme-keesaan Allah, ia akan mendapat “petunjuk”.
Setelah berhasil menyelesaikan tahapan ini, Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual perlu mengejar pencapaian Islam dan keimanan yang utama’. Sehubungan dengan ini, langkah pertama yang mendesak untuk dilakukan adalah mengetahui ketentuan-ketentuan hukum Islam. Pengetahuan ini harus diperoleh dari ahli hukum yang kompeten. Biasanya mendapatkan pengetahuan terbaik adalah dengan langsung mempraktekkannya. Selalu bertindak sesuai dengan hukum Islam, karena pengetahuan jauh lebih baik bila tercermin di dalam tindakan, karena tindakan menghasilkan hukum.

Menurut Syaiful M. Maghsri jika seseorang yakin mengenai kebenaran dari ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, maka ia harus mengamalkannya. Jika tidak, berarti ia tidak percaya pada keyakinan yang dipelajarinya itu, sehingga tidak lebih daripada kesan mentalitas belaka. Sebagai contoh, jika meyakini kemutlakan pertolongan dari Allah, maka Syaiful tidak akan pernah berputus asa mencoba untuk mendapatkn uang, biar bagaimanapun sulitnya. Ia akan mencukupi nafkahnya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama Islam, sehingga merasa tenang dalam membahagiakan keluarganya. Namun sebaliknya, bila ada seseorang selalu cemas dengan pekerjaa dan semata-mata bergantung penuh pada upah dari kerja kerasnya, maka kemungkinan ia tidak yakin pada perlindungan dengan Allah dan absolusitas-Nya. Hal inilah yang dimaksudkan dengan pola tindakan merupakan cermin dari pengetahuan; sebuah perumpamaan yang menunjukkan bagaimana hubungan tingkat perbuatan dan pengetahuan. Ketika seseorang mengungkap isi hatinya: “Segenap kemuliaan dan pujian hanya kepada Tuhanku yang Agung,” ini berarti ia mengakui adanya kenistaan dan ketakber-dayaannya sebagai manusia. Secara harfiah dapat difahami bahwasanya kekuasaan dan kemuliaan tidak bisa terfahami tanpa memahami konsepsi kenistaan dan ketakberdayaan sebagai manusia.

Dan sebaliknya tidak seorang pun menjadi lemah tanpa dapat menjadi kuat. Oleh karena itu kesadaran manusia berkata-sewaktu merendahakan diri dan kusyu’ beribadah kepada Allah: “Segenap kemuliaan dan pujian hanya bagi Tuhanku yang Agung,” Inilah yang disebut dengan perkataan dan tindakan merupakan pancaran dari pemahaman,” maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semua (QS. Al-Faathir, 35:10) ayat ini membicarakn fakta tersebut.
Kesadaran itu penting bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual untuk kebaikan dirinya dengan mentaati semua kewajiban dan menahan diri dari semua perbuatan tercela. Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam tentu saja menodai perjalanan jiwa spiritualnya. Selanjutnya, juga sia-sia dan akan mengotori  hati dan jiwa, bila latihan spiritual tersebut hanya untuk mendapatkan pujian, ini sama saja dengan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat, seperti memakai kosmetik pada badan yang kotor. Di samping menjaga diri dengan menjaga perilaku yang mulia dan menjaga diri dari perbuatan tercela, juga sangat penting untuk istiqamah berbuat yang  terbaik secara terus-menerus, serta menjauhkan diri dari orang-orang yang berbuat kemungkaran. Mencapai keutamaan iman dan Islam tergantung perilaku keseharian kita. Ingat bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi, efek, dan berperan dalam pembentukan iman, seperti apa yang diungkapkan oleh Muhammad Bin Muslim, “Keimanan dapat dipertanggung jawabkan dalam perbuatan, karena perbuatan adalah bagian dari iman. Iman tidak bisa dikatakan kokoh tanpa berbuat kebajikan.”
Oleh karena itu Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual terus berusaha memperlihatkan perilaku terpuji-sebisa mungkin sedemikian rupa-sehingga ia mencapai tahapan-tahapan iman. Iman Ali pernah berkata bahwa iman menghasilkan perilaku yang sempurna. Karena itu adalah penting bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual untuk terus berbuat kebajikan, dalam menuju kesempurnaan iman, sebab iman tidak akan mencapai kesempurnaan bila tidak dijaga dengan amal kebajikan. Misalnya, jika seseorang menjaga kebersihan dirinya hanya pada waktu mempunyai uang saja, itu berarti ia seorang pemalas dan berlalai diri. Setiap bagian tubuh harus mendapatkan perawatan, sama halnya dengan iman, dimana seluruh bagiannya harus dijaga dan dirawat dengan baik, sebaliknya bila tidak, maka tingkat keimanannya menjadi kurang sempurna.

Menurut Syaiful M. Maghsri, Hati adalah pemimpin dari semua organ tubuh yang harus dijaga dengan terus mengingat dan menyadari keberadaan Allah dari tanda-tanda Ketuhanan, yaitu ‘keberadaan’ manusia dan alam semesta. Begitulah caranya hati mendapatkan suntikan semangat dari iman. “Niscaya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’du, 13 : 28). Ketika setiap bagian tubuh telah memperoleh sinar keimanan, pengembara perlu meningkatkan tahapan spiritualnya, dengan mempunyai tingkat keyakinan yang utuh dan masuk ke wilayah iman dan islam secara kafah. Sebagaiman firman Allah, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am, 6 : 82)
Keuntungan dari menjalani pembelajaran ruhani, bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual tidak  saja  akan ditempatkan pada ‘sisi kanan’, tetapi juga akan menyelematkan dirinya dari sergapan dan godaan setan. Firman Allah SWT, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak mempunyai kekhawatiran sedikit pun dalam diri mereka, dan bersedih hati.” (QS. Yunus 10 : 62)

Takut mempunyai pengertian kawatir adanya bahaya yang akan segera terjadi, sehingga menimbulkan rasa cemas. Dukacita adalah bentuk kesusahan jiwa yang disebabkan oleh sebuah musibah atau peristiwa yang tidak menyenangkan. Bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual tidak mengenal semua itu, karena ia mempercayakan semua masalahnya hanya kepada Allah. Ia menyerahkan segenap hidup dalam keharibaan Allah. Pada orang-orang seperti ini, mereka telah masuk ke wilayah kepasrahkan diri di sisi Allah bagaikan teman karibnya belaka. Iman Ali menggambarkan tahapan ini dengan ungkapan,
 “Ia melihat jalan Allah, membentang panjang, menyadari tanda-tanda-Nya, dan melewati berbagai rintangan yang ada. Ia berada dalam kepastian langkah bahwa sepertinya ia sedang melihat segala sesuatu terang benderang bagaikan cahaya mentari.”
Dan beliau juga berkata, “Ilmu pengetahuan dapat memberikan wawasan yang mendalam, sehingga mereka telah menghayati makna keimanan, mudah menghadapi berbagai godaan kesenangan hidup yang mungkon sulit buat orang-orang kebanyakan, bahkan mereka terbiasa untuk menampik hal-hal sepele itu. Walau badan berada di dunia ini, namun jiwa mereka berada di surga yang mulia.
Pada tahapan ini pintu visi dan inspirasi telah terbuka bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual. Kehidupan ini disesaki oleh aktivitas seperti perkawinan, pekerjaan, dan perdagangan, ataupun pertanian, dan Syaiful M. Maghsri juga menjalani dan ambil bagian dalam aktivitas keduniawian, tetapi jiwanya berada ke sisi malaikat yang menghuni pusaran dunia. Orang seperti Syaiful tetap hidup di lingkungan masyarakat, bersosialisasi, bepergian ke berbagai tempat, makan, dan juga tidur. Walaupun begitu jiwa Syaiful selalu ingin bersahaja senantiasa berada dalam kasih-sayang Allah. Siapapun yang melihatnya, bisa melihat bahwa ia merupakan bentuk kesempurnaan  sikap-pandang dari kegalauan. Dengan kata lain, Syaiful M. Maghsri di samping dirinya disibukkan dengan kebutuhan sehari-hari, juga selalu memelihara hubungannya dengan Allah. Sebuah “api cinta” yang selalu membara dalam hatinya, bentuk pelepasan rasa duka, dan resah yang mendera; tetapi tak seorang pun-kecuali Allah- yang memahami perasaan dirinya.
Meskipun demikian secara umum, Syaiful M. Maghsri dapat membedakan antara kecintaannya kepada Allah, dengan bentuk cintanya kepada selain Allah dalam derajat yang sangat berbeda, berdasarkan jalan kebenaran yang membimbingnya. Dari uraian ini jelaslah bahwa ratapan, tangisan, dan doa bukanlah sebuah kepalsuan, ataupun karena mereka bersungguh-sungguh bermohon semata-mata demi mencapai maksud-maksud tertentu. Hal seperti itu akibat dari pengertian yang salah, karena ketidaktahuan saja. Berkaitan dengan hal tersebut, para Imam utama mengatakan: apapun yang tidak masuk akalnya terhadap panggilan Allah kepada manusia disebut pertolongan dari doa yang berpura-pura.
Sungguh sangat tidak tepat untuk mengatakan bahwa ratapan yang meluluhkan hati tentang Imam Ali dan Imam Zaynal Abidin adalah sebuah tipuan belaka, atau untuk tujuan pembelajaran saja? Semuanya bukan. Mereka adalah golongan pemimpin agama yang telah menjalani dan mencapai tingkat penyerahan diri (pasrah) secara keseluruhan kepada Allah.
Setelah dapat menyelesaikan semua tahapan perjalanan spiritual dan karenannya telah tumbuh dalam diri mereka keutuhan kualitas diri sebagai mata air dunia bagi orang banyak. Inilah apa yang dikatakan bahwa Syaiful M. Maghsri menerima sinar Keilahian di dalam setiap langkah hidup, yang memelihara dan memperkokoh keimanannya kepada dunia tertinggi. Langkahnya diharapkan tidak pernah melenceng sedikit pun dari ketentuan hukum dunia yang hampa ini.
Ketika Syaiful M. Maghsri telah menjalani semua hal tersebut di atas, disebut telah berhasil menyiasati dunia dan mengalahkan setan. Ia berhasil menaklukkan dunia dan keluar sebagai pemenang. Pada waktu itu dia telah melewati dunia material dan masuk ke dunia jiwa. Oleh karena itu usaha perjalanan besarnya ini akan dapat mencapai alam malaikat, spiritual, dan alam yang tak terhingga, sehingga berhasil menjangkau alam Keilahian.  

Baca selengkapnya

Pola Hidup Dalam Menuntut Ilmu dan Makrifat

Mendaki tanjakan ilmu dan makrifat memiliki banyak tantangan. Tantangan terbesar adalah keharusan untuk ikhlas dalam menuntut ilmu dan makrifat. Untuk itu kerahkanlah seluruh kekuatan lahir dan bathin untuk mencapai keikhlasan dalam menuntut ilmu. Sekali lagi dalam menutut ilmu hendaknya ditujukan beramal dan bukan hanya untuk dijadikan perhatian.
Harus diketahui bahwa bahaya dalam menempuh tingkatan ilmu adalah besar. Siapa yang menuntut ilmu hanya untuk mengambil perhatian orang kepadanya, atau untuk dapat bergaul dengan orang-orang besar, atau ingin lebih tinggi dari lawan, atau untuk mengejar kekayaan, maka perjalanan keniagaannya akan hancur, yakni ilmunya itu tidak bermanfaat dan perhitungan jual belinya akan rugi. Karena dunia jika dibandingkan dengan pahala akhirat tidak berharga apa-apa. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa-siapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bersaing dengan para ulama atau untuk mujadalah dengan orang-orang jahil atau untuk mengambil perhatian orang kepadanya, ia akan masuk neraka.” Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, “Pada malam mi’raj telah diperhatikan kepadaku neraka, aku dapati bahwa isinya yang terbanyak ialah orang-orang yang fakir.” Para sahabat berkata, “Apakah mereka fakir harta?” Sahut Rasulullah, “Bukan! Tapi mereka fakir karena tiada ilmu.”

Sebagai kesimpulan ialah jika engkau benar-benar memikirkan tentang dalil-dalil perbuatan Allah, engkau akan yakin bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Hidup, Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Berfirman. Dengan firman-Nya yang qodim yang tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya, Maha suci dari segala kekurangan dan kecelakaan, tidak bersifat dengan sifat yang baru, dan tiada harus bagi-Nya apa-apa yang diharuskan bagi makhluk, tiada menyerupai sesuatu dari makhluk-Nya apa-apa yang diharuskan bagi makhluk, tiada menyerupai sesuatu dari makhluk-Nya, tidak ada sesuatu yang menyamai kepada-Nya dan tidak diliputi oleh tempat serta jihad dan tidak kena cacat.

Barang siapa tidak mau belajar, tentu ia tidak dapat meyakinkan dan menetapkan hukum-hukum ibadah, tidak akan dapat melaksanakan hak / syarat-syarat sebagaimana mestinya. Jika sekiranya ada orang mengerjakan ibadah, seperti ibadahnya malaikat tujuh lapis di langit tapi tanpa ilmu, orang itu termasuk golongan yang rugi, karena hasilnya hanyalah lelah dan pahalanya nihil. Oleh karena itu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dengan jalan meneliti, mengikuti dan mempelajarinya. Dan jauhilah kemalasan dan kebosanan dalam menuntut ilmu, karena jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan.
Dan tatkala diketahui bahwa mukjizat Rasulullah dan ayat-ayat Allah serta tanda-tanda kenabiannya, tentu yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah dan percaya atas Wahyu-Nya. Tentu pula akan terlihat dengan jelas bahwa apa-apa yang di iktikadkan oleh ulama salaf yang saleh bahwa kaum Mukmin akan dapat melihat Allah di akhirat, dan bahwa Allah ada, dan adanya tiada pada jihad yang dibatasi. Dan tentu engkau ketahui pula bahwa Al-Qur’an itu adalah firman Allah yang Qodim dan bukan makhluk yaitu bukan huruf yang berpisah-pisah dan bukan suara. Karena jika demikian termasuk sebagian dari jumlah makhluk.
Ketahuilah bahwa tidak akan terjadi lintasan kekhawatiran dan lirikan mata, baik di alam sebelah bawah maupun di alam sebelah atas, kecuali dengan ketetapan dari Allah, takdir-Nya maupun kehendak-Nya. Dan dari Allah juga apa-apa yang baik dan yang buruk, yang manfaat dan yang mudarat, yang iman dan kekufuran. Dan karena ketentuan, karunia dan keadilan Allah juga orang mendapat ganjaran dan siksaan.
Berdasarkan keyakinan ini, maka dapat diketahui pula bahwa apa-apa yang disebut oleh Rasulullah SAW mengenai urusan akhirat, seperti mahsyar, bangkit dari kubur, siksa kubur, soal Mungkar-Nangkir, Mizan dan Sirath, adalah sebuah kebenaran yang nyata. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan mengada-ngada dalam agama dan menurutkan hawa nafsu tanpa petunjuk.
Sekali lagi,  jika seseorang disertai ilmunya dan terus giat memakmurkan akhirat, maka ia telah menjadi seorang hamba Allah yang alim dan beramal karena Allah diatas kesadaran, tidak jahil dan tidak zalim, maka baginya kemuliaan yang sangat besar. Allah jugalah yang diharapkan untuk memberi petunjuk dengan sebaik-baiknya taufiq. Dialah Tuhan Yang Maha Penyayang. La Haula La Quwwata Illa Billahil’Aliyyil’Azhim.         
  

Baca selengkapnya

Memakrifati Kesiapan Batin Dalam Menjalankan Ibadah

Ibadah merupakan suatu jalan yang sedemikian pelik, cukup banyak tanjakan yang harus di lalui, sedemikan besar bahaya yang harus dihadapi, bahkan tidak sedikit halangan dan rintangan baik yang zahir maupun yang samar-samar. Dimana kesemuanya itu bukan saja sebuah tantangan yang harus dihadapi satu persatu, akan tetapi tidak sedikit menjadi sebuah halang rintang yang bisa saja membinasakan, dimana Syaiful M. Maghsri harus sering berhadapan dengan sekian banyak tantangan dan fitnah. Mungkin inilah tantangan bagi siapapun yang hendak meniti jalan menuju surga, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, “Surga itu dikepung oleh segala macam kesukaran, sedangkan neraka di kelilingi oleh segala kenikmatan syahwat,”. Demikian pula dengan sabdanya yang lain, “Jalan ke surga itu adalah sebuah tanjakan yang penuh rintangan, sedangkan jalan ke neraka itu mudah dan datar.”
Setelah menyadari akan pentingnya ilmu dalam menjalankan ibadah, maka langkah selanjutnya lagi adalah mulai mempelajari secara detail mengenai ilmu ibadah itu sendiri. Bagaimana syarat, rukun dan tatacara dari sejumlah peribadatan seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Dan lebih penting dari itu adalah mempelajari sejumlah makna batiniah dari kewajiban-kewajiban itu termasuk di dalamnya antara lain kewajiban meninggalkan sifat-sifat tercela yang akan merusak makna ketulusan ibadah seperti sifat riya, ujub, takabur dan sebagainya.
Masalah mengenal batin ini penting dipahami dengan baik sebab terkadang seseorang terus menerus melakukan sesuatu yang dikira baik, padahal sebenarnya merusak. Salah satu yang terpenting dari pemahaman amal batin bagi Syaiful M. Maghsri adalah sikap tawakal. Sebab manusia itu tidak pernah luput dari kekhawatiran. Dan kekhawatiran biasanya sering merusak sikap tulus dan ridho dengan putusan Allah SWT. Demikian pula dengan makna kesabaran, tahan uji, tahan derita, tahan payah dalam mengerjakan ibadah kepada Allah. Intinya perlu sebuah pemahaman mendalam mengenai ilmu pembersihan hati sebelum, ketika dan sepanjang menempuh jalan ibadah.

Dalam Al-Qur’an terbentang luas dan jelas mengenai kewajiban ibadah batin dan larangan maksiat batin. Ayat-ayat yang mengenai hukum lahir hanya ada beberapa ratus ayat, tetapi yang mengenai ibadah batin itu hampir dari awal sampai akhir. Perintah tawakal, bersabar dan bersyukur, larangan riya, ujub dan takabur hampir selalu ditekankan Al-Qur’an baik sebagai sebuah perintah khusus, maupun sebagai makna atau pelajaran di balik kisah dan perintah dalam bentuk kiasan. Misalnya perintah tawakal dapat kita kutipkan dalam sebuah ayat, “Kepada Allah kamu harus tawakal, kalau kamu betul-betul beriman kepada Allah,” (QS An-Nisa 5 : 23), tentang syukur Allah berfirman , “Bersyukurlah kalian kepada Allah, jika kalian benar-benar hanya kepada-Nya beribadah,”  (QS An-Nahl 16 : 14).
Sedangkan tentang kesabaran, “Sabarlah engkau, namun sabarmu tak mungkin terjadi melainkan dengan Allah,” (QS An-Nahl 16 : 128). Perhatikan juga sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa benar-benar ikhlas kepada Allah, niscaya akan ditanggung segala urusannya dan diberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadist seperti itu, sebanyak  firman Allah tentang perintah shalat dan puasa.

Ada beberapa jenis orang yang mudah tertipu karena kekurangan memakrifati batinnya. Antara lain mereka yang sering terkena tipu karena melalaikan ilmu ini adalah sebagai berikut :
Pertama, kalangan ilmuan yang hanya memfokuskan diri pada masalah lahiriah. Mereka sedemikian mendalam mengurai argumen akliah, namun melupakan dan tidak memperhatikan pemeliharaan bathin. Mereka merasa bangga dengan ilmu lahir dan ilmu akal karena menyangka bahwa mereka sudah mendapatkan kedudukan dan pangkat di sisi Allah. Bahkan mereka berprasangka bahwa mereka sudah sampai kepada ilmu yang dapat membebaskan mereka dari siksa Allah. Bagi kalangan ini perlu diingatkan bahwa dengan penguasaan ilmu lahiriah tanpa menimbulkan dorongan untuk melakukan ibadah untuk mensucikan batinnya adalah sebuah bahaya besar
Kedua, tipuan ini bisa juga terjadi : pada ahli ibadah dan ahli beramal. Dapat berupa sikap mementingkan fadilah (keutamaan) dan sunah beribadah, tetapi meremehkan hal yang fardhu. Bahkan mereka seringkali tenggelam sampai sangat dalam, mereka mengejar fadilah dan sunnah itu, sampai timbul pertentangan yang berlarut-larut seperti sikap was-was dalam berwudhu.
Ketiga, mereka yang terkena tipuan itu adalah golongan ahli tasawuf, terutama para sufi kontemporer, antara lain dengan menunjukkan sikap bahwa ia mengaku sebagai orang yang telah memilki ilmu makrifat, merasa telah mampu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan merasa telah lulus melewati sejumlah maqam tasawuf, sehingga menghasilkan sebuah keterangan yang keliru dan kadang menyesatkan. Mereka menyangka bahwa sedemikian itu adalah ilmu yang tertinggi.
Keempat, adalah golongan penda’wah. Golongan ini sering tertipu dengan penyakit merasa paling suci sendiri, paling benar pendapat dan ucapannya dengan landasan-landasan Al-Qur’an dan Hadist padahal masih sedikit ilmunya, masih dangkal analisanya, tafsir Al-Qur’an pun belum menguasainya, hanya tahu dari terjemahannya saja. Da’wahnya selalu mendiskriditkan orang lain bukan memperbaiki dengan kelembutan dan kasih sayang. Padahal Allah tahu apa yang tersembunyi dibalik hati hamba-Nya walaupun lahirnya kelihatan melakukan ibadah.
Kelima, adalah golongan hartawan. Tipuan yang sering dihadapi oleh golongan ini adalah penyakit riya dan ujub. Mereka sedemikian gemar bersedekah kepada fakir dan miskin, tetapi dengan syarat diketahui oleh orang banyak. Mereka tidak suka bersedekah dengan diam-diam. Adapun bersedekah di hadapan orang lain dengan maksud untuk memberi contoh dan mengetuk hati orang lain supaya gemar bersedekah, hal itu baik. Dalam hal ini sedemikian yang menjadi soal ialah tujuan (niat) dalam hati atau tujuan batin.      

Baca selengkapnya

Makna Makrifat

Makrifat adalah sebuah pemahaman mengenai amal bathin. Barang siapa yang tidak mengetahui atau memahami amal bathin dan tidak mengetahui akan pengaruhnya terhadap ibadah lahir, maka orang tersebut berada dalam kerugian yang nyata. Ilmu itu adalah merupakan pokok atau inti dari segala perkara yang ada dalam kehidupan ini yang salah satunya adalah ibadah, dan ilmu merupakan pangkal dari taat kepada Allah SWT. Oleh karena itu, ulama-ulama yang saleh dan zuhud dalam mengamalkan ilmunya, senantiasa di dasarkan pada ilmu itu sendiri. Inilah sedikit makna dari firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari golongan hamba-Nya ialah orang yang berilmu,” (QS. Fathir [25] : 28). Perasaan takut yang cukup mendalam kepada Allah dari seorang ulama menunjukkan sebuah tanda bahwa ia benar-benar memakrifati (mengenal) Allah SWT. Dengan kata lain, ilmu yang dimilikinya membuatnya untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa memiliki berbagai cara untuk menghindarkan diri dari maksiat kepada-Nya.
Sebagai hasil dari makrifat kepada-Nya, dari hati akan timbul suatu perasaan cinta kepada Allah, apabila seseorang telah mengenal diri dan Tuhannya niscaya akan mengenal dunia dan akhirat. Selanjutnya akan timbul suatu usaha atau tindakan untuk mendapatkan keridaan Allah dengan mendekatkan diri kepada-Nya, serta menjauhkan diri dari larangan Allah SWT.
Perlu diketahui bahwa ilmu yang wajib bagi setiap makhluk itu ada tiga, Pertama ilmu tauhid yaitu ilmu makrifat kepada Allah. Kedua, ilmu tasawuf yakni ilmu yang ada hubungannya dengan urusan dan pekerjaan hati, seperti ikhlas, tawakal. Ketiga yaitu ilmu syara’ yakni pengetahuan mengenai halal dan haram, tata cara peribadatan dan berbagai aturan mengenai hubungan kemanusiaan dalam kehidupan kemasyarakatan.
Dalam kehidupan ini, setiap orang mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan tingkat kedudukannya. Secara umumnya perbedaan itu akan kembali kepada tiga hal pokok, yaitu i’tikad, perbuatan dan menjauhi larangannya. Hal-hal itulah yang harus diketahui ilmunya. Dalam soal i’tikad yang wajib ialah harus sesuai dengan hak dan tidak dibenarkan i’tikad dengan mengikuti saja / taklid. Selanjutnya yang wajib dalam hal ini  ialah mengetahui ilmu tentang gerak-gerik yang wajib atas dirinya. Yang wajib dalam menjauhi larangan ialah mengetahui ilmu tentang apa-apa yang tidak boleh dikerjakan menurut hukum syara’.
Para ulama berbeda pendapat mengenai ilmu yang wajib itu. Akan tetapi yang paling mendekati maksud itu ialah ulama yang mengatakan bahwa yang wajib itu ialah ilmu untuk mengetahui tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Terutama yang berkenaan dengan bidang ilmu Tauhid, yaitu pemahaman yang baik dan benar tentang pokok-pokok agama islam, mengenai ke-Tuhanan, kenabian dan mengenai mashyar.
Sedangkan hal ini yang perlu diketahui dan dipahami dengan baik adalah beberapa topik yang ada dalam ilmu Tasawuf
Dalam hal ini Syaiful M. Maghsri telah mempelajari dan melaksanakan apa saja yang wajib dan haram menurut ilmu ini, antara lain: mempelajari sifat-sifat hati, seperti sabar, syukur, khauf, rida, zuhud, qanaah, ikhlas dan sebagainya. Ini hanya sebagaian kecil dari sifat-sifat hati yang harus diketahui dan diamalkan oleh Syaiful atau setiap orang, agar ia menjadi hamba Allah yang baik dan harus pula mengetahui lawan dari sifat-sifat itu. Agar dengan ilmu tasawuf ini Syaiful M. Maghsri dapat berhasil mengagungkan Allah dan ikhlas terhadap Allah, maka yang bersangkutan harus memiliki niat yang baik dan tulus agar selamat dari hal-hal yang merusak amal.
Sedangkan mengenai ilmu syariat, yakni ilmu fiqih, hal pokok yang harus dipelajari adalah hal-hal yang berhubungan dengan masalah tatacara beribadah kepada Allah seperti thaharah, shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Akan tetapi manfaat terpentingnya adalah segala sesuatu yang dirasakan sebagai bagian dari kewajiban syariat, maka harus dipahami dengan benar agar dapat dilaksanakan dengan sempurna. Perlu diingat disini bahwa celaka jika hanya berpegang pada hakikat saja tanpa syariat. Seperti, orang yang mengira bahwa ia bisa masuk surga tanpa amal, ia adalah orang yang melamun. Orang seperti ini ia adalah mengira bahwa tiap-tiap orang yang sungguh-sungguh beramal, dengan amalnya ia pasti akan masuk surga, maka yang demikian itu hanya akan melelahkan dirinya.
Dalam bab fiqih, tidak diwajibkan atasmu mengetahui hal-hal yang belum semestinya engkau kerjakan, seperti ilmu tentang perdagangan, perburuan, perkawinan, talak dan jinayah, Itu semua masuk fardu kifayah. Selanjutnya perlu diketahui bahwa tanjakan ilmu itu merupakan satu tanjakan yang sulit, tetapi ia dapat membawa kepada tujuan yang dimaksud. Banyak manfaatnya, sukar di tempuh dan besar bahayanya serta banyak yang berpaling sehingga mereka menjadi tersesat. Banyak juga yang terpeleset jika kurang hati-hati, dan banyak pula yang kebingungan jika sudah terpeleset. Serta banyak yang lemah karena putus di tengah jalan. Adapun manfaatnya, bahwa ilmu itu sangat diperlukan Syaiful M. Maghsri atau siapapun hamba Allah sebagai fundamental atau dasar untuk beribadah secara keseluruhan terutama ilmu Tauhid dan Tasawuf.

Baca selengkapnya

Keutamaan Ilmu Dalam Pelatihan Bioenergi

Semua dimensi kehidupan berjalan sesungguhnya demi ilmu dan ibadah. Ibadah tanpa ilmu adalah percuma, karena ilmu adalah poros kehidupan, segala sesuatu berputar di sekitarnya. Demi mengamalkan ilmu itulah ibadah, maka dikatakan bahwa ilmu dan ibadah itu adalah dua permata. Demikian pula dengan apa yang termaktub dalam kitab suci yang diturunkan Allah SWT dan semua ajaran para Rasul yang diutus-Nya adalah demi kepentingan ilmu dan ibadah. Bahkan penciptaan langit, bumi, dan seisinya juga dilakukan demi tujuan ilmu dan ibadah.
Allah berfirman, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu,”(QS. Ath-Thalaq [65] : 12).
Melalui tafakur tentang langit dan bumi, kita berharap akan memperoleh ilmu itu. Dengan ayat ini sebagai dalil, sudah cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa ilmu itu memang mulia.
Semangkin jelaslah bahwa ilmu adalah permata, kedudukannya lebih mulia daripada ibadah. Hanya saja harus tetap diperhatikan bahwa ibadah pun tidak boleh dilupakan, harus dikerjakan berdasarkan ilmu. Jika seseorang beribadah tanpa dasar ilmu, maka ibadahnya itu bagaikan debu yang berhamburan di tiup angin. Dalam hal ini Imam Hasan Al-Basri pernah berkata, “Tuntutlah ilmu, tapi tidak melupakan ibadah, dan kerjakanlah ibadah, tapi tidak boleh lupa pada ilmu. “Atau lebih tegas lagi seperti dinyatakan Rasulullah SAW sendiri, “Ilmu itu imamnya amal, sedangkan amal adalah makmumnya.”

Menurut Syaiful M. Maghsri wajib hukumnya bagi tiap-tiap hamba untuk menyatakan bahwa hidup itu pada hakikatnya adalah perjalanan untuk mencari ilmu dan melaksanakan ibadah. Maka oleh Syaiful kedua hal ini dijadikan agenda pokok kehidupannya, Insya Allah kesuksesan baik di dunia maupun di akherat akan segera diraih oleh Syaiful sebagai penempuh ilmu dan ibadah. Dalam hal ini Nabi bersabda, “Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ibadah seperti kelebihan atas orang yang terendah dari umatku,” (HR. Tarmidzi). Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Aku lebih suka melihat kepada wajah orang yang berilmu walau hanya dengan satu tatapan dari pada beribadah satu tahun penuh, puasa siangnya penuh, shalat malam harinya.” Perhatikan pula sabdanya yang lain. “Inginkah kamu sekalian tahu yang paling mulia diantara penghuni surga?” lalu para sahabat menjawab,”Kami amat ingin mengetahuinya ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah Saw, bersabda, “Mereka adalah para alim ulama, ahli ilmu, dan umatku.”

Alasan utama mengapa ilmu harus didahulukan dari ibadah adalah demi keberhasilan dan kesahihan ibadah itu sendiri. Untuk itu wajib bagi Syaiful M. Maghsri yang sedang menempuh jalan spiritual untuk mengenal dahulu siapa yang harus disembah, setelah itu baru dilakukan penyembahan kepada-Nya. Orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu setan, tetapi sebaliknya orang tidak berilmu amat mudah tertipu setan. Jelas kiranya bahwa Syaiful M. Maghsri atau siapa pun hamba Allah perlu memiliki ilmu untuk melakukan ibadah. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Diberikan ilmu itu oleh Allah kepada orang-orang yang bahagia dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka,” (HR. Abu Nu’aim).
Dalam hal ini orang yang pikirannya sederhana adalah lebih selamat. Sederhana, tidak berpikir secara mendalam, meskipun bisa dikatakan kurang ilmunya, tetapi ia lebih selamat dari pada orang yang berlagak mempunyai ilmu, tetapi dasar i’tikadnya tidak benar. Orang yang sederhana itu secara garis besar adalah mereka yang beriman kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada Akhirat. Untuk itu dalam menuntut ilmu, jika tidak memiliki kesempatan untuk memperdalamnya, maka paling tidak harus dipertahankan sisi garis besar keimanan akan hal-hal pokok. Tananamkan dalam sanubari bahwa, “Saya beriman kepada Allah SWT, berserah diri kepada Allah dan beriman kepada akhirat. Jadikanlah itu sebagai bekal menjalankan ibadah, mencari rezeki yang halal dan mencari pengetahuan yang berguna bagi masyarakat. Sikap sederhana seperti ini saja sudah cukup dan Insya Allah akan menjamin keselamatan hidup kita di dunia dan di akherat.
Pada suatu ketika, Rasulullah pernah memperingatkan orang-orang yang sedang berdebat tentang takdir. Melihat kejadian itu Rasulullah lalu bersabda, “Sesatnya orang-orang terdahulu itu, karena suka berdebat antara lain tentang qodo dan qodar.” Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, “Orang-orang yang asalnya benar, tapi kemudian sesat, itu dimulai karena suka berbantah-bantah. Dan berbantah-bantahan itu kadang-kadang memperebutkan hal-hal yang tidak ada gunanya. Ingatlah bahwa sebagian besar dari penghuni surga itu adalah orang-orang yang pikirannya sederhana saja.”
Dalam kehidupan ini yang namanya perdebatan dan memperdalam ilmu tidak dilarang dan bukanlah sesuatu yang tidak bermanfaat. Akan tetapi hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan dan diributkan. Bagi kalangan awam cukup dengan mempercayai apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur’an dan as-sunah. Semua ini untuk menghindari dari hal-hal yang tidak baik, karena memperdebatkan sesuatu makna yang dilakukan oleh bukan ahlinya hanya akan mendatangkan mudarat dan membuka pintu bahaya besar berupa kekeliruan i’tikad bahkan bisa menjadi bit’ah.
Faktor lain yang menyebabkan bahaya ibadah tanpa ilmu adalah lemahnya iman, terlebih jika pada saat yang bersamaan, orang yang lemah imannya terkena penyakit hubbud-dunya. Jika sudah benar-benar dikuasai oleh hubbud-dunya, maka tak ada lagi tempat untuk cinta kepada Allah SWT. Inilah hati orang-orang yang digambarkan Allah sebagai orang yang “hatinya sudah dicap, jadi mereka tidak bisa mengerti,” (QS. At-Taubah [9] : 89). Hatinya sudah dipenuhi kotoran dosa yang tidak bisa dibersihkan lagi. Maka bagi orang seperti ini yang ada dipikirannya hanyalah dunia, dunia dan dunia sampai dengan ajal menjelang. Na’udhubillah min dzalik!       
Baca selengkapnya