Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Makna Makrifat

Makrifat adalah sebuah pemahaman mengenai amal bathin. Barang siapa yang tidak mengetahui atau memahami amal bathin dan tidak mengetahui akan pengaruhnya terhadap ibadah lahir, maka orang tersebut berada dalam kerugian yang nyata. Ilmu itu adalah merupakan pokok atau inti dari segala perkara yang ada dalam kehidupan ini yang salah satunya adalah ibadah, dan ilmu merupakan pangkal dari taat kepada Allah SWT. Oleh karena itu, ulama-ulama yang saleh dan zuhud dalam mengamalkan ilmunya, senantiasa di dasarkan pada ilmu itu sendiri. Inilah sedikit makna dari firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari golongan hamba-Nya ialah orang yang berilmu,” (QS. Fathir [25] : 28). Perasaan takut yang cukup mendalam kepada Allah dari seorang ulama menunjukkan sebuah tanda bahwa ia benar-benar memakrifati (mengenal) Allah SWT. Dengan kata lain, ilmu yang dimilikinya membuatnya untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa memiliki berbagai cara untuk menghindarkan diri dari maksiat kepada-Nya.
Sebagai hasil dari makrifat kepada-Nya, dari hati akan timbul suatu perasaan cinta kepada Allah, apabila seseorang telah mengenal diri dan Tuhannya niscaya akan mengenal dunia dan akhirat. Selanjutnya akan timbul suatu usaha atau tindakan untuk mendapatkan keridaan Allah dengan mendekatkan diri kepada-Nya, serta menjauhkan diri dari larangan Allah SWT.
Perlu diketahui bahwa ilmu yang wajib bagi setiap makhluk itu ada tiga, Pertama ilmu tauhid yaitu ilmu makrifat kepada Allah. Kedua, ilmu tasawuf yakni ilmu yang ada hubungannya dengan urusan dan pekerjaan hati, seperti ikhlas, tawakal. Ketiga yaitu ilmu syara’ yakni pengetahuan mengenai halal dan haram, tata cara peribadatan dan berbagai aturan mengenai hubungan kemanusiaan dalam kehidupan kemasyarakatan.
Dalam kehidupan ini, setiap orang mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan tingkat kedudukannya. Secara umumnya perbedaan itu akan kembali kepada tiga hal pokok, yaitu i’tikad, perbuatan dan menjauhi larangannya. Hal-hal itulah yang harus diketahui ilmunya. Dalam soal i’tikad yang wajib ialah harus sesuai dengan hak dan tidak dibenarkan i’tikad dengan mengikuti saja / taklid. Selanjutnya yang wajib dalam hal ini  ialah mengetahui ilmu tentang gerak-gerik yang wajib atas dirinya. Yang wajib dalam menjauhi larangan ialah mengetahui ilmu tentang apa-apa yang tidak boleh dikerjakan menurut hukum syara’.
Para ulama berbeda pendapat mengenai ilmu yang wajib itu. Akan tetapi yang paling mendekati maksud itu ialah ulama yang mengatakan bahwa yang wajib itu ialah ilmu untuk mengetahui tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Terutama yang berkenaan dengan bidang ilmu Tauhid, yaitu pemahaman yang baik dan benar tentang pokok-pokok agama islam, mengenai ke-Tuhanan, kenabian dan mengenai mashyar.
Sedangkan hal ini yang perlu diketahui dan dipahami dengan baik adalah beberapa topik yang ada dalam ilmu Tasawuf
Dalam hal ini Syaiful M. Maghsri telah mempelajari dan melaksanakan apa saja yang wajib dan haram menurut ilmu ini, antara lain: mempelajari sifat-sifat hati, seperti sabar, syukur, khauf, rida, zuhud, qanaah, ikhlas dan sebagainya. Ini hanya sebagaian kecil dari sifat-sifat hati yang harus diketahui dan diamalkan oleh Syaiful atau setiap orang, agar ia menjadi hamba Allah yang baik dan harus pula mengetahui lawan dari sifat-sifat itu. Agar dengan ilmu tasawuf ini Syaiful M. Maghsri dapat berhasil mengagungkan Allah dan ikhlas terhadap Allah, maka yang bersangkutan harus memiliki niat yang baik dan tulus agar selamat dari hal-hal yang merusak amal.
Sedangkan mengenai ilmu syariat, yakni ilmu fiqih, hal pokok yang harus dipelajari adalah hal-hal yang berhubungan dengan masalah tatacara beribadah kepada Allah seperti thaharah, shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Akan tetapi manfaat terpentingnya adalah segala sesuatu yang dirasakan sebagai bagian dari kewajiban syariat, maka harus dipahami dengan benar agar dapat dilaksanakan dengan sempurna. Perlu diingat disini bahwa celaka jika hanya berpegang pada hakikat saja tanpa syariat. Seperti, orang yang mengira bahwa ia bisa masuk surga tanpa amal, ia adalah orang yang melamun. Orang seperti ini ia adalah mengira bahwa tiap-tiap orang yang sungguh-sungguh beramal, dengan amalnya ia pasti akan masuk surga, maka yang demikian itu hanya akan melelahkan dirinya.
Dalam bab fiqih, tidak diwajibkan atasmu mengetahui hal-hal yang belum semestinya engkau kerjakan, seperti ilmu tentang perdagangan, perburuan, perkawinan, talak dan jinayah, Itu semua masuk fardu kifayah. Selanjutnya perlu diketahui bahwa tanjakan ilmu itu merupakan satu tanjakan yang sulit, tetapi ia dapat membawa kepada tujuan yang dimaksud. Banyak manfaatnya, sukar di tempuh dan besar bahayanya serta banyak yang berpaling sehingga mereka menjadi tersesat. Banyak juga yang terpeleset jika kurang hati-hati, dan banyak pula yang kebingungan jika sudah terpeleset. Serta banyak yang lemah karena putus di tengah jalan. Adapun manfaatnya, bahwa ilmu itu sangat diperlukan Syaiful M. Maghsri atau siapapun hamba Allah sebagai fundamental atau dasar untuk beribadah secara keseluruhan terutama ilmu Tauhid dan Tasawuf.



0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI