Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Memakrifati Kesiapan Batin Dalam Menjalankan Ibadah

Ibadah merupakan suatu jalan yang sedemikian pelik, cukup banyak tanjakan yang harus di lalui, sedemikan besar bahaya yang harus dihadapi, bahkan tidak sedikit halangan dan rintangan baik yang zahir maupun yang samar-samar. Dimana kesemuanya itu bukan saja sebuah tantangan yang harus dihadapi satu persatu, akan tetapi tidak sedikit menjadi sebuah halang rintang yang bisa saja membinasakan, dimana Syaiful M. Maghsri harus sering berhadapan dengan sekian banyak tantangan dan fitnah. Mungkin inilah tantangan bagi siapapun yang hendak meniti jalan menuju surga, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, “Surga itu dikepung oleh segala macam kesukaran, sedangkan neraka di kelilingi oleh segala kenikmatan syahwat,”. Demikian pula dengan sabdanya yang lain, “Jalan ke surga itu adalah sebuah tanjakan yang penuh rintangan, sedangkan jalan ke neraka itu mudah dan datar.”
Setelah menyadari akan pentingnya ilmu dalam menjalankan ibadah, maka langkah selanjutnya lagi adalah mulai mempelajari secara detail mengenai ilmu ibadah itu sendiri. Bagaimana syarat, rukun dan tatacara dari sejumlah peribadatan seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Dan lebih penting dari itu adalah mempelajari sejumlah makna batiniah dari kewajiban-kewajiban itu termasuk di dalamnya antara lain kewajiban meninggalkan sifat-sifat tercela yang akan merusak makna ketulusan ibadah seperti sifat riya, ujub, takabur dan sebagainya.
Masalah mengenal batin ini penting dipahami dengan baik sebab terkadang seseorang terus menerus melakukan sesuatu yang dikira baik, padahal sebenarnya merusak. Salah satu yang terpenting dari pemahaman amal batin bagi Syaiful M. Maghsri adalah sikap tawakal. Sebab manusia itu tidak pernah luput dari kekhawatiran. Dan kekhawatiran biasanya sering merusak sikap tulus dan ridho dengan putusan Allah SWT. Demikian pula dengan makna kesabaran, tahan uji, tahan derita, tahan payah dalam mengerjakan ibadah kepada Allah. Intinya perlu sebuah pemahaman mendalam mengenai ilmu pembersihan hati sebelum, ketika dan sepanjang menempuh jalan ibadah.

Dalam Al-Qur’an terbentang luas dan jelas mengenai kewajiban ibadah batin dan larangan maksiat batin. Ayat-ayat yang mengenai hukum lahir hanya ada beberapa ratus ayat, tetapi yang mengenai ibadah batin itu hampir dari awal sampai akhir. Perintah tawakal, bersabar dan bersyukur, larangan riya, ujub dan takabur hampir selalu ditekankan Al-Qur’an baik sebagai sebuah perintah khusus, maupun sebagai makna atau pelajaran di balik kisah dan perintah dalam bentuk kiasan. Misalnya perintah tawakal dapat kita kutipkan dalam sebuah ayat, “Kepada Allah kamu harus tawakal, kalau kamu betul-betul beriman kepada Allah,” (QS An-Nisa 5 : 23), tentang syukur Allah berfirman , “Bersyukurlah kalian kepada Allah, jika kalian benar-benar hanya kepada-Nya beribadah,”  (QS An-Nahl 16 : 14).
Sedangkan tentang kesabaran, “Sabarlah engkau, namun sabarmu tak mungkin terjadi melainkan dengan Allah,” (QS An-Nahl 16 : 128). Perhatikan juga sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa benar-benar ikhlas kepada Allah, niscaya akan ditanggung segala urusannya dan diberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadist seperti itu, sebanyak  firman Allah tentang perintah shalat dan puasa.

Ada beberapa jenis orang yang mudah tertipu karena kekurangan memakrifati batinnya. Antara lain mereka yang sering terkena tipu karena melalaikan ilmu ini adalah sebagai berikut :
Pertama, kalangan ilmuan yang hanya memfokuskan diri pada masalah lahiriah. Mereka sedemikian mendalam mengurai argumen akliah, namun melupakan dan tidak memperhatikan pemeliharaan bathin. Mereka merasa bangga dengan ilmu lahir dan ilmu akal karena menyangka bahwa mereka sudah mendapatkan kedudukan dan pangkat di sisi Allah. Bahkan mereka berprasangka bahwa mereka sudah sampai kepada ilmu yang dapat membebaskan mereka dari siksa Allah. Bagi kalangan ini perlu diingatkan bahwa dengan penguasaan ilmu lahiriah tanpa menimbulkan dorongan untuk melakukan ibadah untuk mensucikan batinnya adalah sebuah bahaya besar
Kedua, tipuan ini bisa juga terjadi : pada ahli ibadah dan ahli beramal. Dapat berupa sikap mementingkan fadilah (keutamaan) dan sunah beribadah, tetapi meremehkan hal yang fardhu. Bahkan mereka seringkali tenggelam sampai sangat dalam, mereka mengejar fadilah dan sunnah itu, sampai timbul pertentangan yang berlarut-larut seperti sikap was-was dalam berwudhu.
Ketiga, mereka yang terkena tipuan itu adalah golongan ahli tasawuf, terutama para sufi kontemporer, antara lain dengan menunjukkan sikap bahwa ia mengaku sebagai orang yang telah memilki ilmu makrifat, merasa telah mampu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan merasa telah lulus melewati sejumlah maqam tasawuf, sehingga menghasilkan sebuah keterangan yang keliru dan kadang menyesatkan. Mereka menyangka bahwa sedemikian itu adalah ilmu yang tertinggi.
Keempat, adalah golongan penda’wah. Golongan ini sering tertipu dengan penyakit merasa paling suci sendiri, paling benar pendapat dan ucapannya dengan landasan-landasan Al-Qur’an dan Hadist padahal masih sedikit ilmunya, masih dangkal analisanya, tafsir Al-Qur’an pun belum menguasainya, hanya tahu dari terjemahannya saja. Da’wahnya selalu mendiskriditkan orang lain bukan memperbaiki dengan kelembutan dan kasih sayang. Padahal Allah tahu apa yang tersembunyi dibalik hati hamba-Nya walaupun lahirnya kelihatan melakukan ibadah.
Kelima, adalah golongan hartawan. Tipuan yang sering dihadapi oleh golongan ini adalah penyakit riya dan ujub. Mereka sedemikian gemar bersedekah kepada fakir dan miskin, tetapi dengan syarat diketahui oleh orang banyak. Mereka tidak suka bersedekah dengan diam-diam. Adapun bersedekah di hadapan orang lain dengan maksud untuk memberi contoh dan mengetuk hati orang lain supaya gemar bersedekah, hal itu baik. Dalam hal ini sedemikian yang menjadi soal ialah tujuan (niat) dalam hati atau tujuan batin.      



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI