Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Mencari Bimbingan Allah

Hal pertama yang harus dilakukan Syaiful M. Maghsri adalah sejauh mungkin mengajukan berbagai pertanyaan mengenai agama-agama, sehingga ia menjadi mengenal keesaan dan bimbingan Allah. Ia perlu berusaha memperoleh pengetahuan dasar yang cukup sebagai pegangan untuk tujuannya itu. Setelah melakukan penyelidikan mengenai keesaan Allah dan kerasulan Nabi, maka ia akan keluar dari daerah kekafiran dan masuk ke dalam ajaran  keimanan yang merupakan bagian Islam. Argumentasi dan koreksi tentang suatu, menurut kesepakatan para ahli hukum adalah penting dan diwajibkan bagi setiap Muslim, demi kepentingan pengetahuan dan dasar ‘kepercayaan’.  Jika seseorang tidak mendapatkan tingkat derajat kepuasaan yang diharapkan, di samping upaya terbaik, ia mestinya tidak kehilangan semangat, dan perlu berdoa dan bersikap tunduk dengan rendah hati. Ini adalah metode yang dilakukan oleh HM. Syaiful M. Maghsri dalam kehidupannya.
Berdoa dengan kerendahan hati berarti, bahwa Syaiful M. Maghsri mengakui kelemahannya, dan bersungguh-sungguh mencari bimbingan dari Allah yang selalu membantunya dalam mencari kebenaran hakiki. Sebagaimana firman Allah SWT, “Mereka yang bekerja keras mencari keridhaan kami, benar-benar akan kami tunjukkan jalan kepada kami.” (QS. Al-Ankabut 29 : 69)

Syaiful M. Maghsri teringat akan mengikuti proses pembersihan jiwa, proses spiritual lewat pelajaran Rohani.  Suatu pagi ia jatuh mengantuk dalam posisi berdiam diri di tikar sembahyang, tiba-tiba Syaiful melihat seakan ada dua orang duduk di depannya. Salah seorang dari mereka adalah Syeh Muhammad Alkaf (kini telah almarhum) dan saudaranya Agus M. Maghsri. Syekh Muhammad Alkaf berkata (namun perkataannya dan pendengaranku melalui perantara saudaraku itu), “Selama hidup, aku dihadapkan dengan begitu banyak masalah yang sulit untuk diselesaikan, sepertinya mereka lelah dengan sendirinya. Bahwa mereka telah dipertikaikan oleh tangan-tangan gaib, dunia yang tak terlihat. Peristiwa ini untuk pertama kali mengungkapkan kepadaku tentang adanya hubungan antara alam metafisis dengan dunia, dan hubunganku dengan keberadaan alam di luar dunia ini.”
Pada waktu itu, aku merasakan bahwa berbagai permasalahan dan kesulitan yang dihadapi Syekh Muhammad Alkaf tersebut adalah gambaran peristiwa yang dialami pada masa kanak-kanaknya. Maksudnya adalah, jika seseorang mencari bimbingan Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah pasti akan membantunya pula. Tentu akan sangat bermanfaat, apabila sedang mencari pertolongan dari Allah adalah dengan berpedoman kepada ayat-ayat Al-Qur’an. Allah berfirman, “Ingatlah bahwa hati akan terpuaskan (tenang) dengan senantiasa mengingat kepada Allah.” juga akan sangat berguna dengan sering mengucapkan “Ya Fattahu” dan “Ya dalilal Mutahayyirin” secara berulang-kali, ucapkan kata-kata tersebut dengan perhatian dan kesungguhan  yang tinggi.

Syekh Muhammad Alkaf  bercerita kepadaku, ketika ia sedang dalam perjalanan dengan bis dari Cirebon ke Jakarta. Ada seorang pemuda yang gagah duduk di dekatnya. Tidak terjadi percakapan di antara mereka, tetapi entah mengapa pemuda tersebut mulai menangis, Syekh terkejut dan bertanya sebab apa ia menangis. Si pemuda berkata,

“Aku akan menceritakan kisahku kepada Anda. Aku adalah seorang insyur teknik sipil sejak kecil aku dididik untuk tidak meyakini tentang adanya Tuhan, dan juga tidak percaya akan adanya ‘hari kebangkitan’, tetapi aku merasa suka kepada orang religius, apakah mereka itu Islam, Kristen, Protestan, Hindu, maupun Budha. Suatu malam aku menghadiri sebuah pesta yang diselenggarakan oleh teman-temanku, kadang-kadang kami mengikuti beberapa jenis permainan, musik dan menari, tetapi tak lama kemudian aku mulai merasa mempermalukan diri sendiri. Aku pergi ke tingkat atas dan menangis di sana. Aku berkata, “Oh, Tuhan! Bantulah aku jika  engkau benar-benar ada. Beberapa waktu berselang aku kembali ke lantai bawah dan pesta tersebut berakhir ketika fajar menyingsing. Kemudin di malam yang lain, sewaktu aku sedang menyelesaikan pekerjaan bersama timku dan beberapa pegawai lainnya, aku didatangi oleh sarjana yang religius dengan wajah yang berseri-seri. Ia menyapa dan berkata bahwa dia ingin mengobrol bersamaku. Aku menjawab, bahwa aku akan menemuinya pada hari berikutnya di waktu sore. Setelah ia pergi, sebagian rekan kerjaku memberikan tanggapan meremehkan tentangnya, menolak  kalau orang itu adalah benar-benar orang yang alim. Aku hanya menanggapi, “Aku pikir ia adalah kaum fakir-miskin, yang sedang membutuhkan bantuan.””
“Ketika kami mendekati Jakarta. Aku melihat insiyur muda itu kembali menangis, ia menyadari keherananku dan berujar, “Kelihatannya kita sudah masuk wilayah Bekasi.”

Cerita ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa siapa pun yang mencari bimbingan Allah dengan bersungguh-sungguh, tentu akan berhasil dalam tujuannnya itu. Sekalipun ia skeptis tentang Monoteisme-keesaan Allah, ia akan mendapat “petunjuk”.
Setelah berhasil menyelesaikan tahapan ini, Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual perlu mengejar pencapaian Islam dan keimanan yang utama’. Sehubungan dengan ini, langkah pertama yang mendesak untuk dilakukan adalah mengetahui ketentuan-ketentuan hukum Islam. Pengetahuan ini harus diperoleh dari ahli hukum yang kompeten. Biasanya mendapatkan pengetahuan terbaik adalah dengan langsung mempraktekkannya. Selalu bertindak sesuai dengan hukum Islam, karena pengetahuan jauh lebih baik bila tercermin di dalam tindakan, karena tindakan menghasilkan hukum.

Menurut Syaiful M. Maghsri jika seseorang yakin mengenai kebenaran dari ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, maka ia harus mengamalkannya. Jika tidak, berarti ia tidak percaya pada keyakinan yang dipelajarinya itu, sehingga tidak lebih daripada kesan mentalitas belaka. Sebagai contoh, jika meyakini kemutlakan pertolongan dari Allah, maka Syaiful tidak akan pernah berputus asa mencoba untuk mendapatkn uang, biar bagaimanapun sulitnya. Ia akan mencukupi nafkahnya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama Islam, sehingga merasa tenang dalam membahagiakan keluarganya. Namun sebaliknya, bila ada seseorang selalu cemas dengan pekerjaa dan semata-mata bergantung penuh pada upah dari kerja kerasnya, maka kemungkinan ia tidak yakin pada perlindungan dengan Allah dan absolusitas-Nya. Hal inilah yang dimaksudkan dengan pola tindakan merupakan cermin dari pengetahuan; sebuah perumpamaan yang menunjukkan bagaimana hubungan tingkat perbuatan dan pengetahuan. Ketika seseorang mengungkap isi hatinya: “Segenap kemuliaan dan pujian hanya kepada Tuhanku yang Agung,” ini berarti ia mengakui adanya kenistaan dan ketakber-dayaannya sebagai manusia. Secara harfiah dapat difahami bahwasanya kekuasaan dan kemuliaan tidak bisa terfahami tanpa memahami konsepsi kenistaan dan ketakberdayaan sebagai manusia.

Dan sebaliknya tidak seorang pun menjadi lemah tanpa dapat menjadi kuat. Oleh karena itu kesadaran manusia berkata-sewaktu merendahakan diri dan kusyu’ beribadah kepada Allah: “Segenap kemuliaan dan pujian hanya bagi Tuhanku yang Agung,” Inilah yang disebut dengan perkataan dan tindakan merupakan pancaran dari pemahaman,” maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semua (QS. Al-Faathir, 35:10) ayat ini membicarakn fakta tersebut.
Kesadaran itu penting bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual untuk kebaikan dirinya dengan mentaati semua kewajiban dan menahan diri dari semua perbuatan tercela. Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam tentu saja menodai perjalanan jiwa spiritualnya. Selanjutnya, juga sia-sia dan akan mengotori  hati dan jiwa, bila latihan spiritual tersebut hanya untuk mendapatkan pujian, ini sama saja dengan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat, seperti memakai kosmetik pada badan yang kotor. Di samping menjaga diri dengan menjaga perilaku yang mulia dan menjaga diri dari perbuatan tercela, juga sangat penting untuk istiqamah berbuat yang  terbaik secara terus-menerus, serta menjauhkan diri dari orang-orang yang berbuat kemungkaran. Mencapai keutamaan iman dan Islam tergantung perilaku keseharian kita. Ingat bahwa setiap perbuatan mempunyai konsekuensi, efek, dan berperan dalam pembentukan iman, seperti apa yang diungkapkan oleh Muhammad Bin Muslim, “Keimanan dapat dipertanggung jawabkan dalam perbuatan, karena perbuatan adalah bagian dari iman. Iman tidak bisa dikatakan kokoh tanpa berbuat kebajikan.”
Oleh karena itu Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual terus berusaha memperlihatkan perilaku terpuji-sebisa mungkin sedemikian rupa-sehingga ia mencapai tahapan-tahapan iman. Iman Ali pernah berkata bahwa iman menghasilkan perilaku yang sempurna. Karena itu adalah penting bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual untuk terus berbuat kebajikan, dalam menuju kesempurnaan iman, sebab iman tidak akan mencapai kesempurnaan bila tidak dijaga dengan amal kebajikan. Misalnya, jika seseorang menjaga kebersihan dirinya hanya pada waktu mempunyai uang saja, itu berarti ia seorang pemalas dan berlalai diri. Setiap bagian tubuh harus mendapatkan perawatan, sama halnya dengan iman, dimana seluruh bagiannya harus dijaga dan dirawat dengan baik, sebaliknya bila tidak, maka tingkat keimanannya menjadi kurang sempurna.

Menurut Syaiful M. Maghsri, Hati adalah pemimpin dari semua organ tubuh yang harus dijaga dengan terus mengingat dan menyadari keberadaan Allah dari tanda-tanda Ketuhanan, yaitu ‘keberadaan’ manusia dan alam semesta. Begitulah caranya hati mendapatkan suntikan semangat dari iman. “Niscaya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’du, 13 : 28). Ketika setiap bagian tubuh telah memperoleh sinar keimanan, pengembara perlu meningkatkan tahapan spiritualnya, dengan mempunyai tingkat keyakinan yang utuh dan masuk ke wilayah iman dan islam secara kafah. Sebagaiman firman Allah, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am, 6 : 82)
Keuntungan dari menjalani pembelajaran ruhani, bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual tidak  saja  akan ditempatkan pada ‘sisi kanan’, tetapi juga akan menyelematkan dirinya dari sergapan dan godaan setan. Firman Allah SWT, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak mempunyai kekhawatiran sedikit pun dalam diri mereka, dan bersedih hati.” (QS. Yunus 10 : 62)

Takut mempunyai pengertian kawatir adanya bahaya yang akan segera terjadi, sehingga menimbulkan rasa cemas. Dukacita adalah bentuk kesusahan jiwa yang disebabkan oleh sebuah musibah atau peristiwa yang tidak menyenangkan. Bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual tidak mengenal semua itu, karena ia mempercayakan semua masalahnya hanya kepada Allah. Ia menyerahkan segenap hidup dalam keharibaan Allah. Pada orang-orang seperti ini, mereka telah masuk ke wilayah kepasrahkan diri di sisi Allah bagaikan teman karibnya belaka. Iman Ali menggambarkan tahapan ini dengan ungkapan,
 “Ia melihat jalan Allah, membentang panjang, menyadari tanda-tanda-Nya, dan melewati berbagai rintangan yang ada. Ia berada dalam kepastian langkah bahwa sepertinya ia sedang melihat segala sesuatu terang benderang bagaikan cahaya mentari.”
Dan beliau juga berkata, “Ilmu pengetahuan dapat memberikan wawasan yang mendalam, sehingga mereka telah menghayati makna keimanan, mudah menghadapi berbagai godaan kesenangan hidup yang mungkon sulit buat orang-orang kebanyakan, bahkan mereka terbiasa untuk menampik hal-hal sepele itu. Walau badan berada di dunia ini, namun jiwa mereka berada di surga yang mulia.
Pada tahapan ini pintu visi dan inspirasi telah terbuka bagi Syaiful M. Maghsri sebagai pengembara spiritual. Kehidupan ini disesaki oleh aktivitas seperti perkawinan, pekerjaan, dan perdagangan, ataupun pertanian, dan Syaiful M. Maghsri juga menjalani dan ambil bagian dalam aktivitas keduniawian, tetapi jiwanya berada ke sisi malaikat yang menghuni pusaran dunia. Orang seperti Syaiful tetap hidup di lingkungan masyarakat, bersosialisasi, bepergian ke berbagai tempat, makan, dan juga tidur. Walaupun begitu jiwa Syaiful selalu ingin bersahaja senantiasa berada dalam kasih-sayang Allah. Siapapun yang melihatnya, bisa melihat bahwa ia merupakan bentuk kesempurnaan  sikap-pandang dari kegalauan. Dengan kata lain, Syaiful M. Maghsri di samping dirinya disibukkan dengan kebutuhan sehari-hari, juga selalu memelihara hubungannya dengan Allah. Sebuah “api cinta” yang selalu membara dalam hatinya, bentuk pelepasan rasa duka, dan resah yang mendera; tetapi tak seorang pun-kecuali Allah- yang memahami perasaan dirinya.
Meskipun demikian secara umum, Syaiful M. Maghsri dapat membedakan antara kecintaannya kepada Allah, dengan bentuk cintanya kepada selain Allah dalam derajat yang sangat berbeda, berdasarkan jalan kebenaran yang membimbingnya. Dari uraian ini jelaslah bahwa ratapan, tangisan, dan doa bukanlah sebuah kepalsuan, ataupun karena mereka bersungguh-sungguh bermohon semata-mata demi mencapai maksud-maksud tertentu. Hal seperti itu akibat dari pengertian yang salah, karena ketidaktahuan saja. Berkaitan dengan hal tersebut, para Imam utama mengatakan: apapun yang tidak masuk akalnya terhadap panggilan Allah kepada manusia disebut pertolongan dari doa yang berpura-pura.
Sungguh sangat tidak tepat untuk mengatakan bahwa ratapan yang meluluhkan hati tentang Imam Ali dan Imam Zaynal Abidin adalah sebuah tipuan belaka, atau untuk tujuan pembelajaran saja? Semuanya bukan. Mereka adalah golongan pemimpin agama yang telah menjalani dan mencapai tingkat penyerahan diri (pasrah) secara keseluruhan kepada Allah.
Setelah dapat menyelesaikan semua tahapan perjalanan spiritual dan karenannya telah tumbuh dalam diri mereka keutuhan kualitas diri sebagai mata air dunia bagi orang banyak. Inilah apa yang dikatakan bahwa Syaiful M. Maghsri menerima sinar Keilahian di dalam setiap langkah hidup, yang memelihara dan memperkokoh keimanannya kepada dunia tertinggi. Langkahnya diharapkan tidak pernah melenceng sedikit pun dari ketentuan hukum dunia yang hampa ini.
Ketika Syaiful M. Maghsri telah menjalani semua hal tersebut di atas, disebut telah berhasil menyiasati dunia dan mengalahkan setan. Ia berhasil menaklukkan dunia dan keluar sebagai pemenang. Pada waktu itu dia telah melewati dunia material dan masuk ke dunia jiwa. Oleh karena itu usaha perjalanan besarnya ini akan dapat mencapai alam malaikat, spiritual, dan alam yang tak terhingga, sehingga berhasil menjangkau alam Keilahian.  



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI