Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Otak Kanan dan Kiri

Dominannya yang kanan, khususnya tangan kanan-memberi konsekuensi dalam cara berpikir. Karena gerakan tubuh sebelah kanan, termasuk tangan, dikontrol secara neorologis oleh otak kiri. Karena itu pula, dominasi tangan kanan dapat berarti dominasi otak kiri.
Fakta ini sangat signifikan, baik secara fisik (misalnya orang kena stroke pada otak kiri akan memberikan gangguan pada bagian tubuh belahan kanan) maupun secara simbolis (sebagai kuatnya pengaruh otak kiri dalam kegiatan pengambilan keputusan).
Tubuh manusia, baik dalam perkembangan spesies maupun individu, memang sudah diprogram sedemikian rupa untuk mengontrol gerakan secara berlawanan. Hampir semua organ gerak dan bagian tubuh sebelah kiri dikontrol oleh otak sebelah kanan. Sebaliknya, organ gerak kanan dan bagian tubuh sebelah kanan diatur dan diawasi oleh otak sebelah kiri. Kontrol yang terjadi melalui serabut-serabut saraf yang berjalan hilir mudik pada tulang belakang (vertebrate) berlangsung sepanjang waktu. Tepat di tulang belakang bagian leher, kira-kira setinggi lekukan yang dilewati garis imajiner yang menghubungkan bagian terbawah kedua daun telinga, serabut saraf tersebut berjalan menyilang. Ahli saraf, menyebutnya decusasio. Kontrol berlawanan terjadi setelah penyilangan serabut saraf ini.   
Fakta-fakta fisik di atas itu tidak saja penting dari segi organisasi otak, tetapi juga sangat penting dalam pengembangan belahan-belahan otak. Dengan melatih organ-organ gerak, misalnya melalui gerakan teratur dan rutin, akan dapat mengembangkan otak ke arah aktualisasi optimal. Misalnya, dengan menyeimbangkan kedua belahan tangan dan kaki dalam bergerak, akan dapat mengoptimalkan kedua belahan otak.
Beberapa cara kerja otak kiri, antara lain kegiatan analitis dan faktual, telah menjadi trend selama ratusan tahun dalam cara berpikir umat manusia. Milenium yang lalu, manusia bertanya tentang “what is” (apa ini) ketika kita menghadapi sesuatu. Sesuatu itu kemudian dianalisis sedemikian rupa menjadi bagian-bagian kecil, yang sungguh-sungguh objektif. Cara berpikir seperti ini hanya tertuju pada “pembetulan kesalahan”. Konsekuensinya, semua pemikiran adalah pemecahan persoalan atau meluruskan apa yang keliru.  
Untuk menghadapi trend transformasi dan teknologi, menurut Syaiful corak berpikir seperti ini tidak cocok lagi. “What Can be” (apa yang mungkin dilakukan) adalah pertanyaan yang relevan diajukan untuk masa kini. Cara berpikir analitis, yang khas otak kiri itu, membuat manusia tidak berkembang dengan baik. Hal ini membuat manusia kehilangan kreativitasnya, karena ia menghadapi sesuatu yang memang sudah ada. Pemikirannya tidak berkembang, statis, dan tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Berpikir analitis adalah linear. Dalam kegiatan berpikir, tujuan berpikir analitis, vertikal atau linear itu adalah kebenaran. Gaya seperti ini tidak menghasilkan jalur baru bagi otak.
Sebaliknya, bertanya “apa yang mungkin” dilakukan, seperti ciri khas imajinatif otak kanan, akan membawa pada ribuan kemungkinan dan ribuan kreativitas. Memberikan porsi pada otak kanan akan menghasilkan banyak kemungkinan. Seperti mendaki gunung, sang pendaki menciptakan jalur-jalur baru yang lebih menantang untuk menuju puncak.
Trend yang dipotret oleh Syaiful M. Maghsri ini, slowly but surely menjadi trend baru di semua bidang kehidupan, pemikiran konstruktif dan imajinatif hanya dapat muncul dengan corak berpikir otak kanan. Gayanya bersifat lateral (menyamping).
Walau ada kesadaran seperti itu, pikiran-pikiran analitis tidak secepat itu menghilang dari “peredaran”. Apalagi pikiran-pikiran yang berbasis pada indra manusia (yang dianggap sahih adalah yang faktual, yang dapat diserap oleh indra. Padahal, semua kearifan selalu menyebut indra sebagai biang nafsu jelek manusia) dan pikiran-pikiran manusia matematis. Sebagai contoh, IQ masih menjadi ukuran kecerdasan hampir di semua lembaga pendidikan. Intelligence Quotient atau kecerdasan rasio itu masih dipercaya sebagai kunci untuk mencapai kesuksesan. Anak-anak yang cerdas, yang karena itu dianggap pasti sukses dalam kehidupan, adalah mereka yang nilai rapornya bagus semua atau indeks prestasinya di atas rata-rata.



Konsekuensi logis dari corak berpikir otak kiri itu turut mebentuk arah sistem pendidikan. Arah itu menjadi keliru karena tiga paradigma dasar yang membentuknya: (1) ukuran kecerdasan adalah nilai matematika dan bahasa, (2)  kunci kesuksesan adalah nilai-nilai IQ (rapor, indeks prestasi, lain-lain.), dan (3) orientasi pada pemecahan masalah. IQ (Intelligence Quotient) sebagai sebagi ukuran kecerdasan, sejak itu pula kemampuan matematis “merajai”.
Konsekuensi yang paling tragis atas pendewaan otak kiri itu adalah hilangnya kearifan dari diri manusia. Eksploitasi, baik terhadap alam maupun diri manusia itu sendiri, berkembang sangat pesat.
Puncak tertinggi terjadi ketika pemetaan gen mencapai 90 persen, dan teknologi kloning akan diterapkan pada manusia. Bukan penemuan itu sendiri yang memicunya, melainkan motivasi kesombongan manusia yang melenyapkan kearifan. Padahal, banyak fakta membuktikan bahwa setinggi apa pun penemuan manusia jika itu disertai ambisi-ambisi yang jelek, maka kehancurannya yang dituai.

Betapa pun kesadaran-kesadaran itu sedang menjadi tren, tetapi tanpa perubahan paradigma hal itu tidak akan berlangsung lama. Paradigma otak kiri harus diubah. Paling sedikit, misalnya mengubah kebiasaan memecah-mecah fakta atau objek menjadi kebiasaan mengutuhkan fakta atau objek. Kebiasaan melihat hutan dari pohon-pohonnya saja harus dilengkapi dengan memandang hutan dari atas atau dari luar.
Paradigma otak kanan akan menghasilkan dunia yang lebih luas. Untuk memperoleh sesuatu yang lebih bermakna, manusia harus belajar sesuatu secara terpadu (integral) dan menyeluruh (holistis). Cara berpikir linear yang tipikal otak kiri cukup baik, tetapi corak itu tidaklah cukup untuk menjawab permasalahan manusia.       
Dalam banyak hal, sejak manusia berada di bumi, cara berpikir otak kiri telah cukup banyak menolong. Bukti-bukti arkeologis dan bioantrologi menunjukkan bahwa berpikir yang linear, sekuensial, otomatis, merupakan ciri khas makhluk-makhluk bersaraf pada masa awal kehidupan biologis. Pada masa modern pun, berpikir linear memberi keuntungan. Termasuk memudahkan manusia. Karena pola-pola yang sudah terpatri dalam otak yang bereaksi secara otomatis terhadap rangsangan dari luar telah membantu manusia untuk dapat bertahan hidup. Adanya ancaman-ancaman dari luar dan respons cepat manusia memungkinkan ia dapat hidup seperti hari ini.  
Dalam dunia sains, berpikir linear juga telah menghasilkan banyak penemuan berharga. Tiruan jaringan saraf manusia, yang disebut komputer, adalah salah satu contoh hasil berpikir manusia secara linear. Bahkan, mesin itu bekerja dengan cara meniru mekanisme pikiran linear. Misalnya, kita memakai otak kita secara linear dan ternyata menghasilkan penemuan berharga bagi kita.
Walaupun begitu, ada juga ilmuwan yang menyadari bahwa berpikir linear itu sangat baik, tetapi tidaklah cukup. Ada juga yang menyebut bahwa dengan hanya berpikir linear mnusia hanya menggunakan setengah otaknya saja.
Dengan kesadaran seperti di atas, misalnya, bila dilihat dari segi aspek pendidikan, cara belajar  dan cara berpikir harus lebih luas dalam memakai dua belahan otak manusia. Untuk operasionalisasi kesadaran itu, maka pekerjaan yang mula-mula  adalah kesadaran akan potensi-potensi dasar manusia yang semuanya berkaitan erat dengan otak.

Komponen-komponen itu meliputi; (1) indra, (2) rasio, (3) emosi, dan (4) intuisi. Belahan-belahan otak sendiri telah menjadi “tempat” bagi komponen-komponen dasar tersebut. Konsekuensi logisnya, gerakan-gerakan tubuh (kinestetis), kecakapan pemecahan masalah kematangan emosi, dan kepiawian menggali alam bawah sadar merupakan keterampilan utama mengubah cara berbelajar dan cara berpikir. Gilirannya nanti, mengubah manusia secara keseluruhan.
Menurut Syaiful M. Maghsri fakultas akal (al-‘aql) adalah semacam wahyu dalam diri manusia. Ia adalah fitrah yang diturunkan dalam diri manusia (AL-fitrah Al-Munadzdzalah). Fakultas akal itu sekaligus membawa dua dimensi otak; yang rasional dan yang intuitif. Singkatnya, dualisme otak kiri-otak kanan itu telah menjadi wacana menarik. Tidak saja untuk kepentingan ilmiah, tetapi juga menjadi semacam terapi terhadap “kebodohan” dan ketidakmampuan berpikir.

Dijaman yang serba modern ini banyak sekali masyarakat yang berpikir insferis/serba keberadaan. Apa yang dilihat secara lahiriah dengan mata biasa itulah yang dianggap kebenaran, semuanya dinilai dengan lahir tanpa mempertimbangkan ada apa dibalik yang lahiriah tersebut. Bila kita diajak bicara dengan seseorang, dimana cara orang tersebut berbicara sangat sopan, kadang-kadang menyanjung Anda apabila orang tersebut menawarkan keuntungan kuat Anda maka seketika Anda terpengaruh dan tergiur selanjutnya apapun ajakan orang tersebut Anda ikuti? Mengapa demikian? dipastikan Anda hanya berpikir tentang keuntungan yang sifatnya lahiriah, keuntungan yang sifatnya logika tanpa memperhatikan suara batin Anda, padahal batin Anda sudah berbisik “Tidak mungkin hanya dengan mencari seorang akan dapat motor gratis” bisikan ini terabaikan karena yang ada dalam pikiran Anda hanya motor saja cara berfikir inilah yang disebut berfikir daya “Otak Kiri”.



0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI