Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Otak Manusia

Otak manusia sesungguhnya memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetapi, kekuatan dahsyat itu seringkali hanya tersimpan berupa potensi karena ketidakpahaman dalam pemanfaatannya. Potensi otak manusia untuk menciptakan, menyimpan, dan belajar boleh dikatakan tidak terbatas. Selama hidup, manusia hanya menggunakan sebahagian kecil saja dari kemampuan berpikir tersebut.
Pikiran bawah sadar berguna menyimpan semua pengalaman hidup, citra seseorang, termasuk impian. Ia selama ini hanya berfungsi sebagai bank memori, padahal potensinya jauh lebih besar dari itu. Kekuatan pikiran bawah sadar dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tiga sampai tujuh kali lebih cepat, dengan kemampuan relaksasi sebagai kekuatan tambahan. Emosi seseorang juga ditentukan oleh pikiran bawah sadar yang kemudian diekspresikan dalam perilaku melalui pikiran sadar.
Untuk mendayagunakan potensi otak yang begitu besar, maka perlu diketahui tentang gelombang energi otak (brainwave), yang tebagi dalam empat keadaan: beta, alpha, tetha, dan delta. Kondisi beta adalah keadaan sehari-hari yang dialami setiap orang (kecepatan 13 s/d 28 putaran per detik), keadaan di mana seseorang terjaga dan bisa memikirkan beberapa hal secara serempak. Pada kondisi didominasi oleh cara berpikir logika.

Secara garis besar, otak manusia terbagi dalam dua bagian: otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memproses segala macam angka, matematika, bahasa, dan hal-hal yang menyangkut logika lainnya. Sementara otak kanan memproses segala macam keindahan, seni, rasa, kreativitas, dan segala sesuatu yang tidak lagi bersifat verbal. Pengendalian emosi dan kesadaran diri juga terletak pada otak kanan.
Dari keseluruhan kemampuan otak, maksimal hanya 10% yang dipergunakan setiap hari. Sisanya dibiarkan menganggur. Ibarat gunung es yang kelihatan di permukaan, sedangkan bagian terbesar dari gunung es itu berada di bawah permukaan. Artinya, begitu besar potensi otak manusia yang belum tergali dan dimanfaatkan.
Dengan maksimal 10% potensi otak yang telah dimanfaatkan, manusia sudah menghasilkan karya-karya hebat ataupun tampak hebat. Bayangkan bagaimana jadinya jika manusia bisa memanfaatkan sebagian lain atau 90% potensi otak tersebut.
Pikiran bawah sadar disebut juga otak intuitif, keputusan besar dan hebat yang dibuat oleh eksekutif jagoan dan pemimpin ulung dihasilkan oleh otak intuitif, bukan oleh otak sadar (rasional). Antara pikiran sadar dan bawah sadar dibatasi sebuah garis filter penghubung yang disebut dengan recticular activating system, sehingga seseorang tetap terlihat sadar dan waras.

Gelombang otak alpha (kecepatan sekitar 7 s/d 13 putaran per detik), di mana otak hanya bisa berpikir tentang satu hal saja, tidak lebih. Keadaan alpha adalah keadaan yang rileks tanpa stres, sehingga orang mudah masuk ke pikiran bawah sadar, bisa mengubah citra diri maupun keadaan, bisa menetapkan tujuan, belajar dan membaca ‘secara cerdas’.
Keadaan alpha mudah dicapai, yaitu ketika kita sedang melamun atau berkhayal. Anak-anak berumur 0 s/s 5 tahun (balita) hidup dalam keadaan alpha. Itu sebabnya mereka mampu menyerap informasi dengan cepat, dan langsung menembus pikiran bawah sadarnya. Oleh karena itu, anak-anak adalah kelompok orang yang paling cepat memahami segala sesuatu yang baru dan sulit sekalipun.
Kondisi theta adalah keadaan ketika dapat bermimpi (kecepatannya sekitar 3,5 s/d 7 putaran per detik). Dalam kondisi ini, pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Penyembuhan diri dari penyakit bisa diperoleh dalam kondisi ini. Terakhir adalah gelombang otak delta (kecepatannya 0,5 putaran per detik), yang terjadi saat kita tidur pulas dan tanpa mimpi. Otak alpha dan tetha merupakan dua potensi terbesar dari otak bawah sadar yang bisa dimanfaatkan untuk kesuksesan manusia.

Menurut Syaiful ada dua alasan mengapa otak jauh lebih penting; pertama, walaupun ia tidak bisa bekerja sendiri, secara biologi ia adalah pusat bagi semua aktivitas tubuh, baik itu kegiatan sadar maupun tidak sadar (otonom). Ia layaknya CPU (Central Processing Unit) dalam sebuah sistem komputer bagi tubuh manusia, dan kedua secara simbolis, ia diposisikan pada bagian tubuh teratas dan menempati posisi paling tinggi dari semua organ tubuh. Ia disimpan dalam batok kepala yang berlapis-lapis dan sangat kuat. Juga direndam dalam cairan (cerebrospinalis) yang diproduksinya sendiri yang membuatnya tahan gempa dan goyangan.
Dari segi evolusi, kepala yang berada pada posisi teratas menunjukkan kesempurnaan dari makhluk manusia. Makin tegak posisi tubuh, makin sempurna fungsinya. Ini menjadi alasan mengapa manusia disebut Homo Erectus (makhluk yang berdiri tegak). Ketegakan itu berhubungan dengan daya dari isi kepala (otak) yang membuat makhluk itu menjadi bijaksana. Inilah alasannya sehingga manusia disebut homo sapiens (makhluk bijaksana). Kebijaksanaan itu pula timbul karena otak terus berkembang tanpa bosan, bahkan kadangkala tanpa diinginkan oleh pemiliknya.

Otak adalah organ yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta ini. Ia  adalah satu-satunya bagian tubuh yang paling berkembang dan secara otomatis dapat mempelajari dirinya sendiri. Otak adalah organ yang bilamana dirawat, dijaga, dan dipelihara secara serius dan teratur, dapat bertahan sampai lebih dari seratus tahun. Tidak seperti organ tubuh lain, yang kian tua kian rusak, otak justru makin tua makin menunjukkan fungsi yang kian luas dan lebar. Kian tua interkoneksi antar sel saraf (neuron)  karena memang pengalaman hidup makin banyak, kian padat dalam otak manusia.
Seperti pernyataan yang sering didengar; “makin tua, makin menjadi”, begitulah otak manusia. Otak memang dapat dibentuk dan terus-menerus berubah, dalam jangka milidetik demi milidetik. Kelebihan otak terletak pada sifat plastis-nya.
Dalam bentuk dan cara kerja pun, otak menampakkan keunggulan dibandingkan dengan organ tubuh lainnya seperti; jantung, hati, paru, ginjal, kantung kencing, kantung empedu, semua yang ada dalam tubuh manusia-bekerja dengan cara sama, sejak mereka ‘diciptakan sampai ketika mereka rusak dan hancur. Otak tidak seperti itu. Ia berubah dan bekerja dengan cara yang berbeda, detik demi detik, waktu demi waktu. Dan itu terjadi secara molekuler melalui belajar. Hebatnya, ia bisa belajar seumur hidup. Dan pada belajar pula terletak kekuatan otak. Karena itu, reformasi otak mengandung arti juga pemaksimalan kemampuan manusia untuk belajar. Syaiful M. Maghsri orang yang berprinsip Long life education (‘Uthlubu al-‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi, tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat) adalah ia yang menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal.
Karena otak pula, Syaiful hari ini berbeda dengan ia yang kemarin. Setiap informasi yang diakses akan memberi nuansa baru bagi hubungan antar sel saraf dan antar jaringan otak. Dan ini mengubah isi pikiran, bahkan termasuk cara berpikir. Unit kecerdasan terkecil ada pada ujung sel-sel saraf ini, makin banyak sel-sel ini berhubungan, makin banyak ikatan sel saraf, makin banyak pula informasi yang diakses.
Ada benarnya keyakinan Syaiful M. Maghsri yang berpendapat bahwa hidup itu seperti sungai: mengalir, mengalir, dan mengalir. “Segala sesuatu mengalir,” kata Syaiful, “karena itu, ia berubah dan tidak menetap.” Seperti itulah sel-sel saraf : “mengalir” terus dan tidak menetap. Karena itu, seseorang tidak dapat berada pada sebuah aliran sungai yang sama. Persis seperti tidak mungkinnya sel saraf tetap dan begitu-begitu saja. Yang hebat, ia dapat berubah, tetapi tidak menghilangkan informasi yang telah disimpannya. Penataan sel saraf berlangsung terus, sepanjang hidup.
Dari lingkungan ia belajar, ia membentuk kumpulan informasi mental dalam kepalanya. Itulah perilakunya. Tingkah pola si anak atau orang dewasa ditentukan oleh informasi yang disimpan dalam otaknya. Pengalaman akan disimpan dalam sel-sel otak, menumpuk dari waktu ke waktu, dan semakin si empunya otak itu belajar, pengalaman itu akan menimbulkan kebijaksanaan (wisdom), Otak dan akal dapat menjadi jalan masuk untuk mengenal diri manusia. Bukan saja karena akal merupakan komponen tertinggi diri manusia, melainkan juga karena akal mencitrakan dan memberikan ciri khas bagi manusia.

Menurut Syaiful M. Maghsri, meneliti diri sendiri memberi konsekuensi. Persinggungan sains dan agama (atau sesuatu yang non-empiris) dan munculnya kesadaran-kesadaran kemanusiaan (paling tidak, tentang kemisteriusan manusia) adalah sedikit dari konsekuensi itu. Masalah penting dari semua itu adalah keinginan mengenal diri secara utuh. Syaiful telah memulai dengan sikap spekulatif dalam mengenal dirinya sendiri.  Aspek-aspek non-empiris berhasil dikuakkan untuk menunjukkan bahwa proses pengenalan diri adalah inti dari keberadaan manusia. Tatkala instrumentasi ilmiah  sedemikian berkembang, memilih jalur empiris dan rasional untuk proses pengenalan diri. Otak, dan lebih luas lagi akal, adalah salah satu tema dari jalur empiris yang dipilih.

Fenomena phantom limb adalah sedikit contoh bagaimana otak membentuk gambaran tentang diri. Menurut Syaiful M. Maghsri salah satu produk otak adalah pikiran. Manusia boleh saja mati, tetapi pikiran-pikirannya bisa jadi tetap hidup. Mengapa demikian? karena pikiran-pikiran disebarkan, disosialisasikan, bahkan didiskusikan.
Adanya aspek-aspek intuitif, yang diberi porsi pada bagian kanan otak, dan aspek-aspek rasional yang diberi tempat pada otak kiri, telah memberi pengaruh besar pada jalur mistisme dari ilmu pengetahuan tentang manusia. Oleh karena itu, dualisme otak, seperti terjadi pada orang-orang Barat, sangat tidak dikenal dalam tradisi pengetahuan Islam.


Sesungguhnya dalam hidup ini kita dilengkapi dengan perangkat berfikir yang luar biasa canggihnya, bila seseorang mampu memahami, mendalami dan kemudian memanfaatkan dalam seluruh aspek kehidupan maka dengan ijin Tuhan orang dapat berhasil dan sukses dalam hidupnya. Potensi inilah yang telah dicari selama ini oleh HM. Syaiful M. Maghsri selama bertahun-tahun dan akhirnya Allah SWT, memberi petunjuk kepadanya. Melalui perjalanan spiritualnya yang cukup panjang dan berliku, penuh hambatan dan rintangan, Syaiful mampu menangkap berbagai fenomena kehidupan dan fenomena alam semesta, diantaranya fenomena berfikir manusia. Menurut Syaiful agar seseorang dapat mencapai keberhasilan dalam hidupnya baik hidup di dunia maupun akhirat perlu berfikir secara rasional dan menjalankan pendekatan secara ruhaniah dengan pendekatan 4 pola pikir terpadu.



Perlu diketahui bahwa ada empat istilah digunakan dalam bab ini. Kebanyakan makna dari nama-nama ini telah teracuni oleh berbagai kekeliruan karena kebodohan, juga telah terkaburkan oleh istilah yang bermacam-macam. Syaiful M. Maghsri akan menerangkan makna nama-nama tersebut sesuai dengan maksudnya.




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI