Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

40 Kemuliaan bagi Mereka yang Bersyukur

Anugerah bagi orang yang bersyukur antara lain diberi penglihatan dan diberi makrifat dan akhirnya dihadapkan dengan dimulaikan dihadapan-Nya. Apa-apa yang diberikan Allah SWT kepada manusia itu taat kepada Allah dan senantiasa berkhidmat kepada Allah dalam menempuh jalan ini seumur hidupnya, maka dalam garis besarnya ada 40 kemuliaan. Adapun 40 kemuliaan bagi mereka yang bersyukur :

Kemuliaan yang pertama :
Zikir dan dipuji oleh Allah SWT
Sungguh mulia sekali seseorang yang oleh Allah SWT diberi karunia : disebut dan dipuji.

Kemuliaan yang kedua :
Yang bakal diterima ketika masih berada di dunia adalah disyukuri (diterima) dan diagungkan oleh Allah SWT.
Kemuliaan yang ketiga :
Bagi mereka yang taat ketika masih di dunia yakni dicintai oleh Allah SWT.

Kemuliaan yang keempat :
Ketika masih di dunia, Allah menjadikan wakilnya (wakil-wakil orang yang taat), segala urusannya diatur oleh Allah SWT.

Kemuliaan yang kelima :
Allah SWT menanggung rezekinya, rezekinya dilimpahkan oleh Allah SWT dari satu keadaan kepada keadaan yang lain dengan tidak susah payah dan tidak akan ada akibatnya yang mencelakakan (benar-benar halal).

Kemuliaan yang keenam :
Allah memberi pertolongan kepadanya dalam menghadapi setiap musuh, dihindarkan oleh-Nya tiap-tiap orang yang bermaksud jahat kepadanya.

Kemuliaan yang ketujuh :
Allah menenteramkan hatinya, tidak ada rasa khawatir sama sekali, tidak takut diubah, tidak takut diganti.

 Kemuliaan yang kedelapan :
Derajatnya menjadi mulia, tidak terkena oleh hinanya berkhidmat kepada dunia dan kepada ahli-ahli dunia, malah tidak rida dikhidmati oleh raja-raja dunia dan para penguasa yang lainnya, mereka semuanya itu dijauhkan karena tidak merasa perlu kepadanya.

Kemuliaan yang kesembilan :
Hikmah-nya diangkat oleh Allah SWT sehingga jauh di atas, tidak jatuh ke bawah, tidak dipenuhi oleh kotoran-kotoran dunia dan ahlinya, tidak mengacuhkan kepada hiasan-hiasan bohongnya dan tempat-tempat yang akan menyebabkan lupa kepada akhirat dan lupa kepada Allah SWT., Dirinya ibarat orang yang sudah dewasa yang sudah tidak menyukai kepada permainan-permainan anak-anak.

Kemuliaan yang kesepuluh :
Kekayaan hati, ini berarti bahwa dirinya lebih kaya daripada orang-orang yang kaya di dunia. Hatinya itu rida, berlapang dada, tidaklah kaget oleh kejadian-kejadian apa saja dan tidak pernah susah oleh ketiadaan.

Kemuliaan yang kesebelas :
Hatinya itu bersih, dengan kebersihan hatinya maka dengan mudah memperoleh ilmu-ilmu dan rahasia-rahasia, hikmat-hikmat, tidak akan terkejar oleh yang lain sedikit pun dari bagian tersebut, kecuali dengan susah payah dan dalam waktu yang lama,maka barulah akan dikejar, tapi hanya sedikit saja.

Kemuliaan yang keduabelas :
Oleh Allah SWT dadanya perlu dilapangkan, tidak merasa sempit atau kesal dari cobaan dan musibahnya dunia dan dari gangguan yang datang dari orang lain dan dari kelakuan-kelakuan jahat terhadapnya.

Kemuliaan yang ketigabelas :
Orang lain merasa segan dan simpati kepadanya, dan dihormati oleh orang-orang yang baik serta di segani oleh raja-raja yang zalim seperti fir’aun yang merusak.

Kemuliaan yang keempatbelas :
Perasaan cinta pada hati orang-orang, Allah SWT menanamkan cinta di hati orang-orang itu kepadanya, semua hatinya cenderung untuk mahabbah kepadanya, seolah-olah semua akhlaknya itu dibuat untuk mencintai dan mengagungkan serta memuliakan kepadanya.

Kemuliaan yang kelimabelas :
Berkah (kebaikan yang banyak) yang umum dalam setiap perkataannya malah nafasnya pun berkah, perilaku berkah, sehingga tanah yang bekas diinjaknya pun dianggap berkah, demikian pula berkahnya itu diharapkan oleh orang yang bersahabat dengan beliau dan juga orang-orang yang melihat kepada beliau sewaktu masih hidup.

Kemuliaan yang keenambelas :
Ditaklukannya bumi, daratan dan lautan dan apabila di kehendaki maka beliau dapat berjalan di udara atau di atas air, atau menempuh bumi manapun dalam tempo kurang dari satu jam.

Kemuliaan yang ketujuhbelas :
Hewan-hewan pun ditaklukan, baik binatang buas, binatang hutan dan lain-lain semuanya cinta kepada beliau, singapun menggerak-gerakkan ekor kepadanya.

Kemuliaan yang kedelapanbelas :
Mempunyai kunci-kunci bumi, di mana saja di tepuk olehnya di sana terdapat gudang-gudang harta, apabila dikehendakinya dimana saja dijejakan kakinya, maka tersemburlah mata air apabila diperlukan dimana saja berhenti/istirahat, maka tersedialah hidangan bilamana dimaksudkan oleh beliau.

Kemuliaan yang kesembilanbelas :
Pimpinan dan pengaruh dalam pintunya Rabbul Izzati, jadi orang-orang itu mencari wasilah dengan berkhidmat kepadanya agar dekat kepada Allah SWT. Ingin hasil dari Allah SWT dengan pengaruh dan berkahnya (tawassul) jadi saya mengingkari tawasul itu adalah karena belum mengenal derajatnya para aulia.

Kemuliaan yang keduapuluh :
Oleh Allah SWT, doanya itu diijabah, apa saja yang dimohonkannya kepada Allah SWT, maka dilaksanakan oleh Allah, apabila mendoakan kepada siapa aja tentu syafaatnya itu di terima.

Kemuliaan yang keduapuluh satu :
Dibentengkan sakaratul-mautnya, padahal sakaratul maut itulah yang paling di khawatirkan oleh para Nabi Salawatullahi-wasalamuhu’alaihim ajma’in. Sehingga ada para wali yang meninggalnya seperti yang sedang meminum air saja yang sangat nikmat bagi orang yang kehausan, firman Allah SWT, “Orang yng didatangi oleh Malaikat akan dicabut nyawanya, mereka merasa senang.”

Kemuliaan yang keduapuluh dua :
Tetap dalam makrifat dan iman. Tidak adanya iman itulah yang paling ditakuti dan paling dikhawatirkan serta yang ditangisi itulah yang dipakai keluh kesah. Firman Allah, “Orang-orang yang beriman (para aulia) ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan ucapan yang tetap dalam hidup di dunia dan di akhirat.”

Kemuliaan yang keduapuluh tiga :
Oleh Allah SWT dilimpahkan kepadanya kesenangan-kesenangan, wangi-wangian dan khabar yang menggembirakan disertai keridaan dan aman, sebagaimana firman Allah, “Jangan takut dan bersedih, bergembiralah kamu dengan Surga yang telah dijanjikan untukmu.”  Jadi beliau-beliau itu tidak merasa takut atas apa yang kelak di hadapi olehnya di akhirat dan tidak bersedia atas apa yang ditinggalkannya di dunia.

Kemuliaan yang keduapuluh empat :
Kekal di Surga.

Kemuliaan yang keduapuluh lima :
Di alam gaib, ruhnya itu diiring (bagaikan pengantin) dan naik ke langit dan bumi dengan pengormatan dan kelemah-lembutan, dikaruniai kenikmatan-kenikmatan sedangkan badan dialam kenyataan (sebelum masuk kubur), mayatnya diagungkan, berebutan untuk menyembahyangkannya serta di urus secepatnya, karena mereka yang menguruskannya itu mengharapkan pahala yang besar dan dianggapnya suatu keuntungan yang paling besar.

Kemuliaan yang keduapuluh enam :
Aman dari pertanyaan kubur dan ditakdirkan menjawab dengan benar, sehingga aman dari huru-hara kubur.

Kemuliaan yang keduapuluh tujuh :
Di luaskan serta diterangi kuburnya, berada pada satu taman surga sampai Hari Kiamat.

Kemuliaan yang keduapuluh delapan :
Nyawanya itu di hadapan Allah SWT, merasa tenang dan tenteram, dikuburnya senang, nyawanya pun senang sekalipun berpisah dengan badannya dan nyawanya di hormat disimpan di dalam burung-burung yang hijau bersama-bersama saudara-saudara yang saleh dengan riang gembira dalam memperoleh karunia dari Allah SWT.

Kemuliaan yang keduapuluh sembilan :
Paras mukanya bersih dan bercahaya, firman Allah SWT, “Wajah-wajah pada hari itu bersih bersinar melihat kepada Tuhan.” Dan firman-Nya pula, “Ada wajah pada hari itu (Kiamat) bercahaya, senyum gembira.”
Kemuliaan yang ketigapuluh satu :
Aman dari huru-hara hari kiamat. Firman Allah SWT, “Apakah lebih baik dari kafir yang datangnya dengan ketakutan ataukah mukmin yang datangnya dengan aman?”

Kemuliaan yang ketigapuluh dua :
Menerima catatan amal-amal itu dari sebelah kanan (sebagai suatu tanda keselamatan) dan ada pula yang tidak diberi catatan sama sekali (sebab tidak akan dihisab).
Kemuliaan yang ketigapuluh tiga :
Sekalipun di hisab, maka hisabannya itu dientengkan, bahkan ada yang tidak di hisab sama sekali.

Kemuliaan yang ketigapuluh empat :
Timbangan kebaikannya berat, bahkan ada yang tidak ditimbang sama sekali.

Kemuliaan yang ketigapuluh lima :
Menghadap kepada Rasulullah SAW di telaga dan dia minum di telaga Rasulullah, yang apabila telah minum di telaga itu, maka tidak akan merasa dahaga lagi sama sekali.

Kemuliaan yang ketigapuluh enam :
Bisa menempuh jurang shirathal mustaqim dan selamat dari neraka jahanam, malah ada yang sama sekali tidak mendengar suara nerka jahanam, dia kekal pada apa-apa yang diinginkan oleh hati mereka, bagi mereka api neraka itu dipadamkan.   

Kemuliaan yang ketigapuluh tujuh :
Bisa memberi syafaat kepada orang lain di pandang Mahsyar di Hari Kiamat sebagaimana para Nabi dan Rasul memberikan syafaatnya (jadi orang yang salehpun dapat memberikn syafaat kepada para ahlinya, kaumnya dan tetangganya).

Kemuliaan yang ketigapuluh delapan :
Memperoleh kerajaan yang kekal di surga.

Kemuliaan yang ketigapuluh sembilan :
Keridoian dari Maha Agung, dari Allah SWT.

Kemuliaan yang keempatpuluh :
Menghadap kepada Robbul’Alamin, Tuhan Seru Sekalian alam yang awal dan yang akhir, tetapi jangan bagaimana Jalla Jalaluhu.







Baca selengkapnya

Menciptakan Hubungan yang Sukses


1. Mencintai Diri Sendiri
Fakta pertama yang tidak memungkinkan kita berhubungan dengan hati seseorang adalah jika belum berhubungan dengan dirimu sendiri. Semua hati merupakan interaksi dua arah, dan untuk mewujudkannya diperlukan dua pusat hati yang terbuka dan mampu merasakan cinta. Hingga kau berhubungan dengan pusat hatimu dan merasakannya, pasangan yang berusaha menjangkaumu, akan menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak dapat kita hubungi. Sebagi contoh, ketika pasanganmu ingin membuka hatinya, dan menjadi peka terhadapmu, tetapi kau belum belajar membuka hatimu dan peka terhadap diri sendiri, kau tidak akan mampu menerima hadiah dari dia. Kita tidak akan dapat menemukan kerangka berpikir dalam diri mereka yang akan memungkinkan kita memahami dan dapat menghadapi emosi-emosi mereka.


Hadiah yang terbesar yang kita bawa bagi hubungan romantis kita adalah hubungan yang jujur dan sehat dengan diri sendiri. Untuk mencapainya kita harus mengambil suatu tanggung jawab bagi emosi-emosi dan belajar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Seperti yang kita lakukan, pertumbuhan self-love akan menolong untuk memahami dan mengantisipasi luka-luka di masa silam, merasa lebih seimbang dalam hidup dan menemukan suka cita yang lebih besar di dunia di sekitar kita. Sebagai akibatnya, kita tidak akan lebih lama lagi menuntut pasangan menjadi penyembuh, penyelamat, atau penghibur. Sebaliknya kita akan mendapatkan rasa kesempatan dalam diri dan merasakan kondisi keutuhan dalam diri kita. Kita dapat mendekati hubungan dari sudut pandang “apa yang kau bawa padanya” lebih dari pada “apa yang perlu kita ambil darinya”. Ini akan secara otomatis mengurangi banyak tekanan  pada pasangan dan pada saat yang sama membuat kita jauh lebih atraktif bagi mereka! Kita secara cepat menemukan bahwa self-love, merupakan bahan yang esensial dalam resep mencapai hubungan yang sukses. 

2.     Rasa Hormat
Adalah sesuatu yang sangat menyedihkan, namun merupakan fakta yang sering terjadi, ketika kita memasuki suatu hubungan romantis, kita terikat dalam perilaku yang paling “gila” dan tidak umum. Meskipun kita mengklaim mencintai pasangan kita lebih daripada siapa pun di dunia ini, kita sering memperlakukan mereka dengan cara yang paling tidak terhormat, cara yang tidak pernah kita impikan untuk dilakukan pada teman-teman, keluarga, atau rekan kerja. Sebagai misal, mungkin kau jadi tidak toleran pada mimpi-mimpi kehidupan pada pasangan kita, secara terus-menerus mengejek dan mencari-cari kelemahan sekecil apa pun pada dirinya, yang selalu akan mengganggu pasangan kita untuk menjadi lebih realitis. Namun jika teman kita datang dengan gagasan-gagasan yang sama, kita jauh lebih terbuka pada rencana-rencana mereka dan bahkan menawarkan untuk mendukung apa yang mereka cari.

Untuk mencegah hubungan kita jatuh ke dalam pencarian celah untuk mencela, yang tidak berguna dan untuk mengangkat derajat seseorang, kita perlu mengembangkan rasa hormat pada pasangan kita dan perjalanaan menemukan diri mreka. Hal tersebut berarti selalu menyokong, mengizinkan, dan menoleransi mereka, ketika mereka berbuat kesalahan-kesalahan dan temuan-temuan, dengan tetap memberikan dasar cinta kasih yang kuat dan bersifat mendukung. Ini tidak berarti, Anda tetap memprotes kekurangan-kekurangan mereka, dengan cara menelpon dan menggosipkannya dengan teman. Penilaian-penilaian, harapan-harapan, pada bagaimana seharusnya mereka berperilaku, atau upaya-upaya lain, sebagai bagian dari upaya untuk memanipulasi perilaku mereka, mengotori kesakralan perjalanan yang kita arungi bersama. Semua itu menjerat kita dengan sebuah kurva yang membatasi diri, pada pola pikir earth level, dan akan mencegah kita mengalami kondisi cinta dan suka cita alamiah, yang merupakan kondisi yang kita harapkan untuk dapat ditemukan kembali dengan terlibat dalam hubungan tersebut.

Agar hubungan sukses, kita perlu menghubungi soul level dan menghormati jalan pencarian jati diri yang kita cari bersama hubungan ini akan menolong kita memahami bahwa peran utama adalah untuk mencintai dan mendukung satu sama lain. Lihat kekasih kita dengan cara ini, sebagai teman dan sahabat, akan memampukan kita untuk berhubungan satu sama lainnya dalam suatu sikap saling menghormati yang selaras dan cara pemberdayaan yang saling mengisi.

3.     Kebebasan 
Pola hubungan lain yang bersifat aneh adalah banyak dari kita mempersamakan berpasangan secara romantis dengan kepemilikan. Bahkan ada yang melampiaskan ketidaknyamanan dalam menjalin hubungan dengan cara mengekang atau mengendalikan. Kita keliru kalau menganggap dapat menghapus rasa putus asa dengan mengendalikan pasangan kita semata. Seperti menginterogasi ke mana mereka pergi, perusahaan yang mereka ikuti, atau jumlah uang yang mereka belanjakan.

Dorongan untuk mengendalikan dapat menjadi tipu muslihat yang halus dan sering mengambil bentuk yang tidak kentara. Sebagai misal, hal pertama yang sering kita lakukan, adalah dengan bergabung dalam hubungan jangka panjang yang potensial, dengan mencoba menindas potensi pasangan kita, yang merupakan daya tarik bagi kita awalnya. Misalnya, ketika kita pertama jatuh cinta pada pasaangan kita, dia hangat, riang, dan suka pesta, maka sekarang hal itu menjadi suatu yang mulai menjemukan, kita bisa menyalahkan dia main gila, padahal sebenarnya melakukan tindakan yang biasa-biasa saja. Kita lakukan ini karena takut, hal tersebut tidak lagi menjadi daya tarik bagi kita, tetapi bisa jadi hal itu juga yang akan menarik orang lain. Hal tersebut muncul karena kuranganya self-love (cinta diri sendiri) dan adanya perasaan yang tidak aman, karena kita tidak cukup membuat pasangan tertarik pada kita. Perilaku tersebut dapat menghalang-halangi pertumbuhan pasangan, bahkan juga akan menyebabkan situasi membingungkan bagi diri kita, dan menuntut kebanggaan diri. Dengan membuat pasangan jadi kecil, kita juga membuat diri sendiri menjadi kecil.


Baca selengkapnya

Kehidupan Sosial


Sejauh ini kita telah melihat dasar dari pendekatan earth level dalam kehidupan. Kita telah menyelidiki bagaimana kita dapat mengarahkan aspek-aspek kesadaran yang lebih banyak pada proses berpikir kita. Agar bekerja melalui hal-hal yang kita minati. Kini kita  dapat mulai mengeksplorasi secara lebih mendalam pendekatan soul level.
Syaiful M. Maghsri menuturkan, kita dapat memulainya dengan memandang segala sesuatunya dalam konteks yang lebih besar, gambaran keseluruhan, dan mencari alasan-alasan yang lebih mendalam pada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita. Kemudian kita bisa belajar untuk menggunakan pemahaman baru tersebut untuk membuat kehidupanmu lebih menyenangkan, dan bermakna.
Kita telah melihat bagaimana bahasa menjadi salah satu cara dalam memenuhi perhatian kita yang lebih mendalam, dalam  sebuah hubungan. Kita dapat mempelajari secara lebih mendalam dan menanyakan hubungan dengan orang lain seperti apa, makna yang sebenarnya bagi kita, dan mengapa hal tersebut begitu penting bagi pertumbuhan jiwa dan spiritual kita.

Ketika kita  terlibat dalam suatu hubungan intim dengan orang lain, dengan tidur di sampingnya, bercinta dan meluangkan waktu bersama, kita menyerap sejumlah energi dari orang tersebut. Segera, energi tersebut akan meluap dan bergabung untuk membentuk sesuatu kesatuan yang tidak terpisahkan di antara kita, yang menjadi hubungan kita. Kesatuan tersebut mempengaruhi hidup kita dan ketika kita berada di bawah pengaruh, kita sering menjadi terikat dengan perilaku yang paling shock dan irasional. Pada waktu yang lain, kesatuan tersebut dapat menghasilkan tindakan-tindakan yang paling mulia. Syaiful M. Maghsri mengajak marilah kita melihat mengapa kita menciptakan kesatuan yang unik tersebut dalam hidup kita, dan mengeksplorasi bagaimana caranya, dengan memahami hal tersebut dari perspektif soul level, kita akhirnya dapat menemukan suatu hubungan yang dipenuhi oleh cinta yang mendalam, kebijaksanaan, dan dukungan pada alur kehidupan kita.

HM. Syaiful M. Maghsri mengemukakan bahwasanya kita tidak dapat hidup dengan mereka, dan tidak dapat hidup tanpa mereka merupakan refrain yang sebagian besar kita gunakan hubungan romantik dalam sebuah episode kehidupan kita. Namun, kita tidak peduli seberapa sulitnya kondisi hubungan dengan pasangan kita di masa lampau, kita masih tetap melanjutkan untuk mencari atau melibatkan seseorang yang khusus tersebut, seseorang yang bagaimanapun kita rasakan akan memenuhi kita. Bahkan padaa orang yang telah sangat melukai kita, sehingga kita tidak pernah berhubungan dengannnya, biasanya kita tetap memiliki suatu dunia internal yang dipenuhi dengan memori atau fantasi romantis, dimana kita berusaha merasa nyaman dalam kondisi yang menekan tersebut. Kita semua didorong oleh sesuatu dorongan yang bersifat mendalam untuk membentuk suatu koneksi yang intim dengan dunia sekitar kita, dan sebagaian besar dari kita memilih untuk melakukannya melalui hubungan tersebut. Sebelum kita dapat mulai memiliki suatu hubungan yang sukses, kita perlu jujur pada apa  yang sebenarnya kita harapkan dari orang lain, jika kita menggunakan “soul level”  untuk melihat hal tersebut, kita akan lihat bahwa kebutuhan kita untuk berpasangan sebenarnya merupakan suatu mekanisme perlawanan, dari kebutuhan manusiawi yang mendasar, namun untuk mengatasi rasa keterpisahan yang bersifat keduniawian.

Untuk memahami hasrat tersebut secara lebih baik, kita pertama-pertama perlu untuk menelusuri kembali perjalanan jiwa kita pada kedatangan dan kehadirannya di bumi ini. Ketika kita pertama kali datang ke dunia, tampaknya kita mendarat dengan parasut tanpa suatu peta. Kita datang di tanah yang asing dan di sekelilingnya dipenuhi oleh orang-orang yang berbicara dengan bahasa yang aneh. Segala sesuatunya adalah baru dan tampaknya satu-satunya orang yang dapat menolong kita adalah orang-orang yang telah kita kenal di sekitar kita. Kita datang tanpa opini-opini tentang kehidupan dan menjadi terbuka pada semua saran dari orang lain. Kita mulai kehilangan sifat sukacita daan kesenangan yang alamiah, dan kehilangan minat untuk mencintai atau berpasangan dengan orang lain. Namun, ketika kita mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan penjaga-penjaga di bumi, kita mulai memerhatikan bahwa mereka tampaknya lebih tidak berbahagia daripada kita. Nyatanya, hampir sebagian besar waktunya, mereka tampak berpegang pada earth level, pikiran yang didasari oleh ketakutan. Kita mulai mendengar percakapan mereka tentang orang lain atau kelompok lain, dengan suatu pandangan yang negatif. Mereka memperingatkan pada kita secara berulang-ulang tentang bahaya hidup di dunia. Perlahan-lahan, pikiran yang dipenuhi dengan ketakutan tersebut, beberapa di antaranya akan ditepiskan dari kesadaranmu dan kau akan mulai memerhatikan bahwa hal tersebut tidak membuatmu merasa nyaman. Nyatanya hal tersebut justru membuatmu ketakutan dan kesepian, dan menjadi curiga pada orang lain. Ketika kita masih kanak-kanak, kita merasa bahagia, memiliki kepercayaan dan berhubungan dengan setiap orang di sekitar kita, tapi sekarang kita merasa kurang nyaman dan mulai memimpikan hadirnya seseorang yang dapat membuat kita merasa nyaman dan membuat kita merasa aman lagi. Tidak pasti siapa yang dapat kita percayai, kita secara rahasia merindukan seseorang yang seperti dirinya, dengan harapan bahwa mereka dapat membawa kita kembali pada pembawaan yang penuh sukacita, yang bersifat alamiah.


Menurut Syaiful M. Maghsri pada titik tersebut kita mulai misi kejiwaan yang bersifat riil, di atas bumi, yaitu untuk mengatasi ilusi keterpisahan yang kita alami, dan bergabung dengan setiap orang, dalam cinta, daripada menghindari setiap orang dengan suatu ketakutan. Hanya dengan hubungan yang penuh cinta, kita akan dapatkan kedamaian yang dapat bertahan lama dan kebahagian yang nyata. Syaiful M. Maghsri memaparkan, tugas kita adalah menolong satu sama lainnya untuk menemukan jalan untuk kembali ke rumah, yaitu pada cinta kasih yang murni dan dalam keterbukaan. Di suatu tempat pada pada memori kejiwaan kita dapat mengingat bahwa rumah merupakan suatu tempat, di mana kita tidak dalam kondisi defensif, di mana kita dapat membuat hati lumer, dipenuhi kelemah-lembutan, kepercayaan, cinta, dan harapan. Kita melewati kembali kondisi tersebut. Pentingnya bagi kehidupan kita adalah sepanjang kita mampu mengukurnya, untuk mempelajari bagaimana cara menciptakan kembali rumah tersebut, di sini, di atas bumi, di mana pun kita berada, dan dengan siapa pun kita bersama.  
Baca selengkapnya

Keluarga yang Sakinah

Seringnya manusia kurang mensyukuri rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya karena beranggapan bahwa rezeki hanya berupa materi, khususnya uang. Padahal Allah juga memberikan rezeki-Nya tidak saja dalam bentuk materi, tetapi juga non materi. Salah satunya adalah keluarga yang sakinah, bisa jadi seseorang miskin harta tapi mempunyai keluarga yang membuatnya bahagia. Kebahagian tersebut adalah rezeki yang patut disyukuri.
HM. Syaiful M. Maghsri menuturkan bahwasanya kebahagiaan dalam rumah tangga adalah puncak kebahagiaan di dunia. Sepanjang pengalaman Syaiful, kebahagiaan keluarga merupakan kebahagiaan yang mempunyai kadar tertinggi di antara kebahagiaan-kebahagiaan yang lain. Kebahagiaan dan keindahan dalam rumah tangga, kebahagiaan bersama anak dan istri, terasa lain.
Syaiful mengemukakan bahwasanya setiap manusia pasti pernah merasakan saat-saat bahagia. Mungkin pada saat ia lulus ujian, mungkin saat diterima kerja atau promosi jabatan, mungkin saat memenangkan tender, mungkin saat melangsungkan pernikahan, dan sebagainya. Namun Allah SWT telah memberikan kebahagiaan yang demikian besar dalam rumah tangga. Kebahagiaan tersebut berupa kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari antara pasangan dan anak cucu mereka. Anugerah tersebut sesuai dengan apa yang selalu diminta Syaiful saat mendoakan keluarganya, sebagaimana firman Allah;
Wahai Tuhanku, jadikanlah istriku dan anak-anakku permata hati dan jadikan mereka pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqaan : 74)

Dari doa tersebut akan terpancar suasana gembira dan bahagia setiap hari. Menurut HM. Syaiful M. Maghsri saat-saat yang paling indah adalah berkumpul dengan keluarga. Maka setiap memandang istri, anak-anak, maka hatinya akan bahagia. Meskipun hanya memandang atau menyaksikan gurauan mereka. Itulah anugerah yang diberikaan Allah atas kebahagiaan berumah tangga. Sehingga dapat dikatakan itulah kebahagiaan di dunia yang hakiki.
HM. Syaiful M. Maghsri berkata bahwasanya keluarga yang sakinah adalah keluarga yang didasari cinta kasih dan kesamaan keyakinan. Mereka adalah suami atau istri dan anak-anak yang saleh. Mereka satu sama lain saling mendukung dan mematuhkan diri. Seperti apakah mereka?

1.     Istri/Suami yang Saleh
HM. Syaiful M. Maghsri menuturkan dalam keluarga yang sakinah tentu anggota-anggotanya merupakan orang-orang yang saleh. Mereka adalah orang-orang yang taat pada agama, menjalankan ibadah, menjauhkan maksiatan, dan banyak beramal. Syaiful rajin shalat bersama istrinya dan anak-anak. Ia membangunkan keluarganya untuk bangun malam dan  shalat tahajud. Tiap magrib atau lepas subuh rumah HM. Syaiful M. Maghsri ramai dengan.....Baca Selengkapnya DISINI

2.     Anak yang Saleh
Anak yang saleh adalah anak yang berbakti pada orang tua. Dengan cara apa ia berbakti? Tentu dalam banyak hal, di antaranya membantu keluarga dalam urusan-urusan kerumah tanggaan. Bagi anak laki-laki, lebih ke arah fisik dan perlindungan kepada anggota keluarga yang wanita. Ia dapat diandalkan dalam menyelesaikan suatu persoalan. Dari segi non materi, anak yang saleh taat menjalankan perintah agama, ia rajin beribadah dan berakhlak mulia serta rajin mendoakan ayah dan ibunya.....Baca Selengkapnya DISINI.

3.     Teman yang Baik
Salah satu jenis rezeki adalah teman yang baik. Teman adalah rezeki, namun rezeki yang bagaimana? Tentu teman yang saleh. Rasullah  bersabda : “Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaimana pembawa minyak wangi dengan peniup api. Pembawa minyak wangi ada kalanya dia memberimu atau engkau membeli darinya atau paling tidak engkau akan mendapatkan bau yang harum darinya.....Baca Selengkapnya DISINI

4.     Lingkungan yang  Baik
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Al-jar qabla addar.’Tetangga sebelum rumah.” Rasullah SAW memerintahkan kita agar memperhatikan lingkungan terlebih dahulu sebelum memilih rumah. Jika seseorang akan membeli rumah periksalah apakah lingkungan tempat ia tinggal kelak adalah lingkungan yang baik. Suasananya islami dan tidak cenderung maksiat. Jika lingkungan tersebut akan memberikan situasi yang kondusif bagi perkembangan pendidikan dan akhlak.....Baca Selengkapnya DISINI

5.     Pekerjaan yang Baik
Yang terakhir, salah satu rezeki yang baik adalah pekerjaan yang baik. Rezeki ini jarang dipikirkan dan direnungkan oleh banyak orang. Mereka terbawa oleh rutunitas keseharian. Berangkat pagi dan pulang petang, tanpa memikirkan apakah sebetulnya pekerjaan yang ia lakukan di kantor, pasar maupun tempat – tempat lain itu baik atau tidak. Padahal pekerjaan yang baik adalah rezeki yang baik yang diberikan Allah pada kita. Bagaimana pekerjaan yang baik menurut.....Baca Selengkapnya DISINI

Baca selengkapnya

Pekerjaan yang Baik


Yang terakhir, salah satu rezeki yang baik adalah pekerjaan yang baik. Rezeki ini jarang dipikirkan dan direnungkan oleh banyak orang. Mereka terbawa oleh rutunitas keseharian. Berangkat pagi dan pulang petang, tanpa memikirkan apakah sebetulnya pekerjaan yang ia lakukan di kantor, pasar maupun tempat – tempat lain itu baik atau tidak.

Padahal pekerjaan yang baik adalah rezeki yang baik yang diberikan Allah pada kita. Bagaimana pekerjaan yang baik menurut Islam? Pekerjaan yang menjadi rezeki yang baik adalah pekerjaan yang tidak menjauhkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Bisa waktunya ia mengerjakan pekerjaan tersebut padat. Namun tidak menjadi masalah jika ia meninggalkannya untuk shalat atau rapat – rapat kerohanian. Seseorang yang sibuk (atau menyibukkan diri?) dengan pekerjaannya sehingga ia tidak bisa melakukan ibadah (bukan karena ia malas ibadah) maka pekerjaan tersebut musibah baginya. Ia harus segera keluar kalau tidak bisa memperbaiki pola kerjanya. Memang bekerja sebagai suatu kewajiban yang diperintahkan agama, terutama bagi laki–laki. Tapi kewajiban ibadah lebih diprioritaskan sebagaimana sabda Nabi saw, ‘Mencari pekerjaan yang halal adalah wajib, setelah kewajiban – kewajiban ibadah.’

Di samping pekerjaan yang kita lakukan tidak menghalangi kita untuk melakukan ibadah, pekerjaan yang baik adalah yang sesuai atau cocok dengan kita. Pekerjaan tersebut sesuai dengan impian kita, sesuai dengan bakat kita, sesuai dengan profesi kita, sesuai dengan hati nurani kita. Pekerjaan yang membuat kita tidak ikhlas juga termasuk musibah bagi kita. Sebab kita tidak akan dapat mensyukuri rezeki yang satu itu jika tidak ikhlas. Oleh karena itu, carilah pekerjaan yang sesuai dan cocok dengan diri kita.

Selain cocok, pekerjaan yang baik harus dapat meningkatkan integritas kita. Jangan sampai karena kita suka atau cocok dengan pekerjaan tersebut, kita menjadi tidak berkembang dan tidak bertambah kemampuannya. Integritas yang terdiri dari kompetensi terhadap pekerjaan dan kultur budaya kerja yang baik menjadi syarat pekerjaan yang baik. Ia dibutuhkan untuk mengembangkan karier dan potensinya agar lebih maju. Kemajuan itulah yang membuat ia merasa berhasil. John Ruskin berkata, “Agar orang dapat berbahagia dalam melakukan suatu pekerjaan diperlukan tiga hal, mereka harus menyenangi pekerjaan tersebut, mereka tidak perlu terlalu bekerja keras, dan mereka harus memiliki suatu rasa keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.”

Seperti kata HM. Syaiful M. Maghsri, pekerjaan yang baik adalah yang tidak terlalu berat. Meskipun orang dapat beribadah dalam bekerja, juga pekerjaannya sesuai dengan keinginan, namun kalau terlalu berat itu tanda – tanda kurang baik. Rasullah pun pernah menyatakan bahwa seseorang yang bekerja mengharapkan dunia, Allah akan membuat pekerjaan tersebut menjadi susah dan berat. Artinya dengan pengertian terbalik, orang yang pekerjaannya susah dan berat termasuk orang yang bekerjanya mencari dunia. Padahal bekerja semata – mata hanya mencari dunia dilarang oleh Allah. Bekerja adalah ibadah. Allah menyukai ibadah yang ringan tapi istiqamah, seperti sabda Nabi “Sebaik–baik ibadah adalah yang ringan namun rutin.”

Itulah rezeki yang baik. Allah memberikannya tidak melulu berupa harta, namun bisa juga keluarga, teman, tetangga, dan pekerjaan. Semua  rezeki yang baik tersebut patut direnungkan keberadaannya. Jangan sampai kita lupa mensykuri atau hanya mensyukuri nikmat harta saja. Keempat rezeki yang lainnya, dalam banyak hal, justru lebih besar nilainya dibanding rezeki harta. Oleh karena itu, sekali lagi jangan lupa mensyukurinya. 

Baca selengkapnya

Lingkungan yang Baik


Nabi Muhammad SAW bersabda, “Al-jar qabla addar.’Tetangga sebelum rumah.” Rasullah SAW memerintahkan kita agar memperhatikan lingkungan terlebih dahulu sebelum memilih rumah. Jika seseorang akan membeli rumah periksalah apakah lingkungan tempat ia tinggal kelak adalah lingkungan yang baik. Suasananya islami dan tidak cenderung maksiat. Jika lingkungan tersebut akan memberikan situasi yang kondusif bagi perkembangan pendidikan dan akhlak bagi keluarga kita, maka bolehlah kita beli dan tinggal di rumah itu.

Namun  sering di antara kita membeli rumah memilih daerah terlebih dahulu. Daerahnya bagus atau tidak, dekat atau jauh, elite atau kumuh, banjir, atau tidak, mahal, atau murah, dan sebagainya. Memilih tempat tinggal dengan memperhatikan faktor-faktor fisik memang bukan sesuatu yang terlarang bahkan dianjurkan agar kita nyaman menempatinya. Namun faktor lingkungan harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Sebagaimana teman, lingkungan juga menunjukkan siapa kita. Sebuah perumahan yang sering rumah-rumahnya dijadikan tempat wanita simpanan akan mempengaruhi kita ketika menunjukkan tempat tinggal kita. Bahkan kalau sebuah perumahan terkenal dengan wanita simpanan, istri kita yang baik-baik pun akan disangka wanita nakal. Oleh karena itu, memilih lingkungan terlebih dahulu sangatlah penting, jangan sampai menyesal karena membeli rumah bukan seperti membeli pisang goreng, yang kalau rasanya tidak enak tinggal buang dan kita beli lagi.

Bagi seseorang yang mempunyai lingkungan tempat tinggal baik, merupakan rezeki yang baik pula baginya. Lingkungan yang baik adalah yang islami, saling menolong, jauh dari intrik dan gosip, peduli terhadap tetangga, saling tegur sapa, saling memberi (misalnya berkirim makanan), saling mengingatkan jika salah dan yang penting kita merasa aman tinggal di lingkungan tersebut. Seorang suami yang bekerja akan tenang meninggalkan istri dan anaknya di rumah. Karena tetangga akan ikut menjaganya.

Oleh karena itu, dalam Islam, “Pagar makan tanaman” hukumannya berat. Kalau seseorang berzina dengan istri orang maka hukumannya berat. Namun lebih berat lagi kalau yang diajak berzina istri tetangga. Allah melipat gandakan hukuman terhadap orang tersebut. Semistinya pria tersebut ikut menjaga kehormatan istri tetangga baik dari dirinya maupun orang lain. Tetangga yang baik adalah tetangga yang ikut menjaga harta maupun kehormatan tetangganya. Kalau limgkungan sudah seperti itu, maka itu adalah rezeki yang baik buatnya.

Berbeda dengan rezeki harta, rezeki keluarga, teman dan lingkungan bisa diperbaiki. Seseorang yang mendapatkan harta dengan cara tidak halal tidak bisa diperbaiki dengan menyedekahkan pada fakir miskin. Seorang yang melakukan korupsi hanya bisa memperbaiki kesalahannya dengan mengembalikan harta yang dikorup. Ia tidak bisa memanfaatkan harta tersebut untuk kebaikan. Sementara seseorang yang mempunyai keluarga, teman, atau lingkungan yang kurang baik karena salah mendapatkannya pertama kali, ia bisa memperbaiki rezeki itu agar menjadi baik. Seseorang yang sudah telanjur mempunyai istri atau suami yang tukang maksiat, bisa dan harus bisa memperbaiki kelakuan pasangannya agar menjadi baik. Demikian pula dengan teman dan lingkungan. Apabila kita pertama kali tergiur dengan tawaran developer untuk membeli rumah yang bagus dan murah, ternyata lingkungannya bobrok moralnya, maka kita wajib memperbaiki lingkungan tersebut. Kita harus menebus kesalahan untuk itu, juga agar hidup yang selanjutnya kita tempuh menjadi sakinah.       
Baca selengkapnya

Teman yang Baik


Salah satu jenis rezeki adalah teman yang baik. Teman adalah rezeki, namun rezeki yang bagaimana? Tentu teman yang saleh. Rasullah  bersabda;

“Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk bagaimana pembawa minyak wangi dengan peniup api. Pembawa minyak wangi ada kalanya dia memberimu atau engkau membeli darinya atau paling tidak engkau akan mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan peniup api (biasanya pada tukang pandai besi), ia bisa membakar pakaianmu atau paling tidak engkau akan mendapatkan bau (pembakaran) yang busuk darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang, teman apalagi teman akrab akan membawa pengaruh pada diri kita. Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, “Seseorang akan terpengaruh agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya.” (HR. Tirmidzi)

Seseorang akan dilihat dari kawan-kawannya. Kalau sahabat karibnya seorang bajingan tentu akan mengenal kita bajingan pula. Demikian pula apabila kita dengan orang yang saleh, kita akan “kecipratan” pula akan kesalehannya. Rasullah memerintahkan kita untuk, “Jauhilah olehmu teman yang buruk. Karena sesungguhnya engkau akan dikenal dengan keburukannya.” (HR. Ibnu Azaki)
Di luar itu semua, seorang teman yang baik adalah teman yang selalu hadir jika dibutuhkan (friends that you can rely/call on). Kapan saja kita meminta bantuan kepadanya ia selalu menyambutnya. Sering kita dengar ungkapan, “A friend in need is a friend indeed.” Jika kita sedang ada masalah ia menawarkan solusi atau minimal memberikan simpati. 

Baca selengkapnya

Anak yang Saleh


Anak yang saleh adalah anak yang berbakti pada orang tua. Dengan cara apa ia berbakti? Tentu dalam banyak hal, di antaranya membantu keluarga dalam urusan-urusan kerumah tanggaan. Bagi anak laki-laki, lebih ke arah fisik dan perlindungan kepada anggota keluarga yang wanita. Ia dapat diandalkan dalam menyelesaikan suatu persoalan.
Dari segi non materi, anak yang saleh taat menjalankan perintah agama, ia rajin beribadah dan berakhlak mulia serta rajin mendoakan ayah dan ibunya setiap kali selesai shalat. Ia pun pandai menempatkan diri sebagai anak sehubugan dengan kondisi dan profesi orang tuanya. Lebih dari itu, seorang anak yang saleh adalah anak yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Sejak usia dini anak-anak HM. Syaiful M. Maghsri sudah di didik dengan agama, di samping sekolah umum juga, masuk Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), menjalankan shalat lima waktu dan di terapkan sehabis magrib membaca Al-Qur’an, anak yang kecil sudaah dilatih puasa Ramadhan ternyata kuat sampai waktu buka. Diantara keempat anaknya tersebut bernama : Rey Mahadika Maghsri, Qintaro Makitsuna Mahgsri dan Kautsar Muyassaro Maghsri (anak dari Ibu Hj. Yanti S.) serta Maloka Mulia Maghsri (anak dari Ibu Hj.Desy Widyastuti). 

Pada dasarnya orang tua selalu ingin membanggakan anaknya. Orang tua yang saleh akan merasa bangga jika anaknya menjadi anak yang saleh, tidak sekadar pandai dan juara. Orang tua akan bangga dan bahagia jika punya anak yang taat beragama dan pandai bergaul di dalam masyarakat. Sementara dari kepandaian otak tidak terlalu buruk. Istilah sekarang, anak yang mempunyai EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) yang tinggi adalah dambaan orang tua. 
Baca selengkapnya

Istri/Suami yang Saleh


HM. Syaiful M. Maghsri menuturkan dalam keluarga yang sakinah tentu anggota-anggotanya merupakan orang-orang yang saleh. Mereka adalah orang-orang yang taat pada agama, menjalankan ibadah, menjauhkan maksiatan, dan banyak beramal. Syaiful rajin shalat bersama istrinya dan anak-anak. Ia membangunkan keluarganya untuk bangun malam dan  shalat tahajud. Tiap magrib atau lepas subuh rumah HM. Syaiful M. Maghsri ramai dengan bacaan Al-Qur’an. Mereka juga gemar bersedekah dan menyantuni fakir miskin. Dasar agama ini menjadi vital mengingat kebaikan di luar kebaikan dalam kerangka agama belum tentu menjamin kebagaiaan.

Syaiful dan istrinya tentu saling mendukung. Sering kita mendengar ungkapan, “tidak ada pria baik kecuali belakangnya ada istri yang baik, tidak ada pria yang buruk kecuali ada istri yang buruk dibelakangnya.” Demikian pula sebaliknya dengan wanita. Dukungan yang diberikan adalah, dukungan untuk melaksanakan kebaikan dan menciptakan kondisi agar keduanya bisa saling berbuat baik. 

HM. Syaiful M. Maghsri Mengemukakan suami-istri yang saleh juga saling mengisi kekurangan masing-masing. Allah menciptakan manusia dengan sifat-sifat yang berbeda. Mereka saling menyesuaikan diri agar serasi dan sempurna. Misalnya, seorang suami yang mempunyai sifat introver ‘pendiam, tertutup’ dapat ditutup oleh istri yang mempunyai sifat extrovert’terbuka.’ Sehingga ketika  menghadapi orang atau pihak lain, keluarga tersebut tampak serasi dan yang penting kekurangan sifat masing-masing tidak akan menimbulkan masalah karena saling mengisi.

Syaiful dan istrinya tentu saling mencintai. Namun, kecintaan mereka didasarkan pada kecintaan kepada Allah. Artinya, sepanjang mereka mencintai Allah, maka ia akan mencintainya. Karena kecintaan  kepada pasangannya, maka suami atau istri yang saleh tidak akan menyakiti pasangannya.  Jadi, jika suami atau istri mencintai pasangannya, maka ia akan mencurahkan segala kasih sayang padanya.

Secara peran, suami menjadi kepala keluarga, ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap segala sesuatu dalam “kerajaan” rumah tangganya, seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggung jawabanSeorang suami adalah pemimpin bagi rumah tangganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”

Seorang pemimpin, apalagi pemimpin keluarga, bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya baik dalam hal fisik maupun non fisik. Seorang suami saleh yang bertanggung jawab harus bekerja keras mencukupi kehidupan rumah tangganya, mendidik istri, dan anak-anaknya agar taat kepada Allah dan bermanfaat bagi masyarakat. Kebanyakan manusia hanya menyadari tanggung jawab materinya saja dengan hanya memberikan uang kepada istri dan anak tiap bulannya. Namun, ia tidak peduli dengan kelakuan dan tingkah pola istri dan anak-anaknya, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Padahal, kelakuan dan akhlak mereka tanggung jawabnya juga. Seorang suami yang saleh akan memperhatikan itu semua karena kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

Sementara peran istri, dipaparkan oleh Syaiful adalah memberikan ruh bagi suami. Istri yang saleh secara harfiah sudah dijelaskan oleh Hadist Nabi. Beliau mencirikan istri yang saleh yaitu mereka yang taat pada suami, menyenangkan jika dipandang, menjaga harta suami dan kehormatan dirinya tatkala suaminya tidak ada. Istri yang saleh membuat suaminya ridha, bahkan Nabi Muhammad SAW menjanjikan surga bagi seorang istri yang pada saat meninggalnya sang suami ridho atas hidupnya. Istri yang saleh menjadi dambaan bagi semua pria. Namun, wanita seperti itu jumlahnya memang tidak banyak, sebuah ungkapan menyatakan wanita saleh bagaikan burung gagak yang sayapnya putih sebelahnya. Sebuah ungkapan yang menunjukkan sedikitnya wanita salehah.

Alhamdulillah, dengan Kehendak dan Kuasa Allah HM. Syaiful M. Maghsri memiliki istri dan anak-anak. Ia menjalani kehidupan dengan keluarganya dengan senang hati daan karena Allah semata. Kehidupan rumah tangganya hampir sama sekali tidak ada pertengkaran, dan tidak ada iri hati antara istri tua dan muda, anak-anak tidak ada yang bermusuhan. Dengan kuasa dan ijin Allah Syaiful mengucapkan syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya, cerita Syaiful M. Maghsri saat sedang ceramah masalah keluarga yang sakinah. 

Jadi, seorang suami yang mempunyai istri salehah atau seorang istri yang mempunyai suami saleh berarti memiliki rezeki yang baik dari Allah. Anugerah itu patut disyukuri dengan selalu menjaga dan mempertahankan. Sama dengan harta, kesalehan istri atau suami juga harus “disalurkan” secara baik demi kepentingan agama dan mesyarakat sekitarnya.

Baca selengkapnya

Rezeki yang Baik


Rezeki, sebagaimana juga jodoh dan kematian merupakan takdir Allah. Namun demikian, masih saja manusia mempersoalkannya, walaupun Allah pula yang menyatakan bahwa kita masih punya “andil” dalam menentukan takdirnya. Misalnya dengan berusaha dan berdoa. Dengan semakin keras kita berusaha, rezeki akan mudah didapat. Bahkan Nabi Muhammad SAW mengajarkan tindakan-tindakan untuk memperlancar datangnya rezeki diantaranya dengan bersilaturahmi.

Syaiful M. Maghsri memaparkan bahwasanya persoalan yang selalu menghinggapi  sebagian manusia soal rezeki adalah saat menerimanya. Menurut ia juga salah satu sifat manusia adalah kurang puas, terutama soal materi. Bahkan, apabila mendapat emas segunung, masih akan mengincar dan mengusahakan supaya bisa menjadi dua gunung, demikian sabda Nabi Muhammad SAW, “Tidak banyak orang yang bersyukur atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya”. Allah menyatakan, “Sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” Ketiadaan rasa syukur ini menghambat manusia melihat rezeki yang telah diterimanya.  

Padahal nikmat Allah yang diberikan kepada manusia sangat banyak. Mulai dari baangun tidur hingga kembali mata terlelap di larut malam, niscaya kita kerepotan menghitungnya. Misalnya, tatkala bangun pagi kita mendapatkan diri kita tidur dalam kasur yang empuk. Barangkali lima atau sepuluh tahun lalu kita masih tidur pada tikar di atas balai-balai sehingga ketika bangun badan pegal-pegal semua. Saat mengambil air wudhu kita merasakan kesegaran air di kamar mandi kita yang mengalir di antara sela-sela jari maupun wajah kita.

Salah satu kiat gampang mensyukuri rezekidari Allah adalah dengan menbandingkan orang lain atau kita sendiri pada kondisi yang lebih buruk. Dengan selalu dihadapkan pada kondisi seperti itu tentu manusia akan sering bersyukur.

Melihat apa saja yang ada sebagai rezeki memang tidak gampang. Menurut HM. Syaiful M. Maghsri, manusia sering mengukur keberadaan rezeki dengan harta yang di punyainya. Padahal rezeki yang diberikan Allah tidak melulu bersifat materi. Ia juga memaparkan bahwasanya masyarakat umum memang sering mengartikan rezeki dengan harta atau bahkan uang. Sebenarnya rezeki bisa saja tidak berupa harta, dia bisa saja berupa sesuatu yang sifatnya non materi, dan ia bisa merupakan suatu keadaan yang menjadikan kita mau bersyukur kepada-Nya. HM. Syaiful M. Maghsri memaparkan bahwasanya dalam Islam rezeki yang dianggap baik sebagi berikut :

Harta Yang Baik

Menurut HM. Syaiful M. Maghsri Rezeki dalam pandangan manusia kebanyakan adalah karunia berupa harta. Allah memberikan rezki kepada manusia dalam segala kondisi, artinya mannusia bisa mendapatkannya dengan cara yang halal, bisa pula dengan caara yang haram. Harta haram juga merupakan rezeki dari Allah, tapi Allah memberikan dengan tidak “rela”. Dalam menangkap rezeki yang yang dicurahkan oleh-Nya, manusia dianjurkan dengan cara yang halal. Misalnya dengan bekerja keras sesuai tuntutan yang telah diberikan agama.

Kriteria awal  harta yang baik adalah harta yang didapat dengan cara yang baik. Bagaimana cara mendapatkan harta yang baik. Kriteria berikutnya mengenai harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah penggunaannya pun secara baik pula, seperti apakah harta yang baik dilihat dari penggunaannya.
  
a. Harta yang Mendekatkan Pemiliknya Kepada Allah
Menurut HM. Syaiful M. Maghsri harta yang baik adalah harta yang didapat dari cara yang halal dan harta tersebut makin mendekatkan pemiliknya dengan Allah. Ia menuturkan harta yang justru menjauhkan pemiliknya dengan Allah adalah musibah. Syaiful memaparkan tipe manusia seperti ini jelas tidak akan bersyukur atas apa......Baca Selengkapnya DISINI

b. Harta yang Bermanfaat Bagi Orang Lain
Berikutnya adalah rezeki yang membawa manfaat bagi umat manusia. Contoh klasik adalah harta yang dibelanjakan untuk keperluan amal jariah seperti pembangunan masjid, gedung untuk sekolah, rumah sakit, panti asuhan, penampungan orang jompo, dan sebagainya. Seseorang yang menggunakan kelebihan hartanya untuk kepentingan seperti itu akan mendapatkan imbalannya secara......Baca Selengkapnya DISINI

c. Harta yang Pemiliknya Merasa Cukup 
Harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah harta yang tidak menggerogoti jiwa pemiliknya. Harta tersebut tidak seperti air laut, yang setiap kali kita meminumnya jika haus, akan membuat kita makin haus. Harta yang baik adalah harta yang pemiliknya merasa cukup dengan harta itu. ia tidak silau dengan kemegahan dan kemewahan. Hidupnya sederhana, karena ia merasa dengan harta itu......Baca Selengkapnya DISINI
Baca selengkapnya

Harta yang Pemiliknya Merasa Cukup

Harta yang baik sebagai rezeki dari Allah adalah harta yang tidak menggerogoti jiwa pemiliknya. Harta tersebut tidak seperti air laut, yang setiap kali kita meminumnya jika haus, akan membuat kita makin haus. Harta yang baik adalah harta yang pemiliknya merasa cukup dengan harta itu. ia tidak silau dengan kemegahan dan kemewahan. Hidupnya sederhana, karena ia merasa dengan harta itu sudah cukup.
Kriteria cukup ini punyai kaitan erat dengan hal pertama dan kedua. Tanpa rasa cukup pada dirinya, mana mungkin seseorang akan membelanjakan hartanya di jalan Allah, maupun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ia akan terus beralasan bahwa kebutuhannya belum cukup sehingga belum bisa berinfak maupun beramal. Ketika dimintai sumbangan masjid, ia berdalih masih harus memperbaiki atap rumah atau kran dapur yang bocor. Saat perpustakaan sekolah membutuhkan buku-buku bermutu ia tidak mau berpatisipasi karena anaknya sendiri pun masih butuh buku. Pokoknya, ia hanya mau beramal dengan hartanya kalau semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Padahal adakah seseorang seperti itu merasa cukup dengan kebutuhannya? Ketika masih kontrak rumah, ia tidak mengeluarkan hartanya untuk berjihad dengan dalih mau beli rumah, ketika sudah membeli rumah, mengisi perabotan dan peralatan rumah menjadi alasan. Ketika semua sudah lengkap, renovasi rumah ganti menjadi dalih. Berikutnya renovasi dan beli rumah lagi yang lebih besar. Akhirnya, sampaai kapan ia merasa cukup?

Oleh karena itu, harta yang baik adalah harta yang membuat pemiliknya merasa cukup. Keuntungannya, adalah ia tidak diperbudak hawa nafsu dengan harta itu. hidupnya akan tenang, tidak ngoyo dalam mengejar dunia. Kedua, dengan kecukupannya, ia bisa menafkahkannya hartanya di jalan Allah atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, meskipun antara kecukupan atau keinginan untuk beramal adalah sesuatu yang berbeda. Bisa jadi seseorang merasa cukup dengan hartanya, tapi ia tidak tergerak untuk beramal. Namun yang jelas, kalau seseorang masih merasa kurang dengan hartanya ia tidak akan mungkin beramal.

Ciri-ciri harta yang baik dapat kita amati dari kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW, salah satunya Abdurrahman bin Auf. Salah satu sahabat yang paling kaya, ia tidak merasakan masalah ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Padahal dengan hijrah tersebut semua harta bendanya harus ditinggalkan begitu saja, sementara di Madinah belum tahu nasibnya seperti apa. Ia hijrah dengan tidak membawa apa-apa. Di Madinah ia dipersaudarakan dengan salah seorang Muslim Madinah yang memberikan materi bahkan mencarikan istri baginya. Abdurrahman menolak dan hanya berkata, “Tolong tunjukkan saja di mana letaknya pasar Madinah!” Ia berdagang dan berusaha lagi sehingga akhirnya menjadi kaya kembali. Dalam sejarah, ia tercatat pernah memberikan utang sepertiga penduduk Madinah. Ia juga pernah membeli tanah seharga 40 ribu dinar dan dibagikan kepada keluarga Nabi dan kaum muslimin yang fakir. Suatu ketika ia menyediakan 1500 ekor ekor kuda untuk keperluan jihad. Pada saat meninggal, ia mewasiatkan agar para veteran Perang Badar diberikan masing-masing 400 dinar. Sampai-sampaai Ustman bin Affan, salah satu sahabat yang juga kaya pun mengambil bagiannya, Utsman berkata, “Sesungguhnya harta Abdurrahman halal dan suci dan makan dari harta itu sehat serta berkah.”

Itulah contoh harta yang baik, Abu Bakar as-Shiddiq sahabat Nabi Muhammad SAW paling senior pernah menyerahkan seluruh hartanya kepada Nabi Muhammad SAW untuk digunakan bagi kepentingan umum, Nabi Muhammad SAW sendiri kaget, “Nanti engkau dan keluargamu makan apa, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah yang menjamin hidupku dan keluargaku.” Abu Bakar adalah puncak dari sosok seseorang yang merasa cukup dengan rezeki harta yang diberikan Allah kepadanya.     

Baca selengkapnya