Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Adab Seorang Murid dan Seorang Guru


Adab murid sulit dibatasi dan dipastikan dalam penjelasan secara rinci. Allah telah menanamkan di dalam setiap ruh semua hal yang terpuji dan tercela berkaitan dengan pemiliknya. Tugas guru adalah mengeluarkan apa yang tersembunyi kepada muridnya. Guru tidak menyuruh atau melarangnya, kecuali sesuatu yang tersembunyi di dalam ruhnya.

 Pada mulanya, murid seperti biji tersembunyi. Di dalamnya terdapat bakal batang yang disini ditunjukkan dengan kejujuran atau kedustaan di dalam jalan spiritual. Jika ia jujur, maka buah kejujurannya bercabang dan berubah sehingga ia dapat mengawasi semua dan yang memakan hasilnya. Kejujuran dan kesalehan tampak dikalangan orang khusus dan orang awam. Bahkan kalau ia ingin menyembunyikan kesalehannya dari mereka, ia tidak akan mampu melakukannya. Jika murid itu pendusta dalam kecintaannya pada jalan spiritual, maka kedustaan, kemunafikan, dan riyanya akan tampak pada mereka. Bahkan sekiranya ia ingin menampakkan diri seperti orang jujur. Ia tidak dapat melakukannya, sebab perbuatan-perbuatan buruknya mendustakan pengakuannya, terkuak keburukan-keburukan dan tarekat pun menolaknya.

Setiap adab dalam syariat di dalamnya terdapat adab lain dinamakan oleh ahli spiritual sebagai i’tibar, yang bermakna menampakkan lahiriah akal pada batiniahnya. Bentuk suatu perbuatan tetaplah satu, tetapi tujuannya bermacam-macam, seperti orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan lahiriah. Sebagaimana orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam syariat, mereka mendeduksi darinya adab-adab, hukum-hukum, syarat-syarat, kewajiban-kewajiban, keharaman-keharaman dan kemakruh-makhruhan. Demikian pula mereka yang bersungguh-sungguh dalam tarekat kaum sufi.

Salah satu adab murid adalah tidak masuk ke dalam perlindungan guru hingga ia bertobat dari dosa-dosa, baik lahiriah dan batiniah, seperti bergunjing, minuman khamar, dan hasud. Barang siapa tidak menyucikan diri dari dosa-dosa baik lahiriah dan batiniah, maka ia tidak boleh memasukinya. Keadaannya adalah seperti memasuki shalat, sementara di badan atau pakaiannya melekat najis yang tidak dimaafkan atau di tuangi air. Walau pun gurunya adalah wali terkemuka, ia tidak mampu membawanya berjalan di jalan ahli Allah, kecuali kalau ia telah menyucikannya terlebih dahulu.

Diantara adab seorang murid adalah memerangi nafsu sehingga ia tidak berdamai dengannya untuk selama-lamanya. Barang siapa tidak memerangi nafsunya sejak awal, maka ia tidak akan mencium harum di jalan tarekat. Sebab salah satu karakteristik jalan Allah  adalah bahwa bila seseorang hamba tidak diberi jalan itu seluruhnya, ia tidak bisa menempuh sebagian darinya. Seorang murid seharusnya tidak berbicara dan diam, kecuali karena terpaksa atau keperluan yang dibenarkan guru, serta menutup pintu bicara yang sia-sia. Mereka memandang sedikit bicara sebagai salah satu pilar Riyadhah.

Adab seorang murid yang lainnya adalah sering lapar melalui cara yang sesuai dengan syariat. Inilah pilar tarekat paling utama, sebagaimana pembuat tarekat memandang wukuf di Arafah sebagai bagian utama dalam ibadah haji, seperti itu pulalah ahli Allah menjadikan lapar sebagai tarekat itu. Pilar-pilar tarekat ada empat, yaitu lapar, pengasingan diri (uzluh), keterjagaan dan sedikit bicara. Jika murid lapar maka tiga pilar lainnya mengikutinya. Jika lapar termasuk adabnya, maka akan sedikit bicaranya, banyak keterjagaannya dan menyukai pengasingan diri dari orang lain.

Memelihara adab secara terus menerus kepada Allah serta kepada para wali dan teman-temannya merupakan kewajiban seorang murid. Dengan ibadah, seorang hamba memperoleh surga tetapi tidak memperoleh kehadiran Tuhannya terkecuali dengan adab dalam beribadah. Barang siapa tidak memelihara adab dalam ketaatan kepada-Nya, maka ia terhijab dari Tuhannya dengan tujuh puluh hijab. Abdullah Bin Al-Jala pernah berkata, “Barang siapa tidak memiliki adab, maka ia tidak memilki syariat, keimanan dan tauhid.” Maksudnya keimanan dan tauhidnya tidak sempurna.

Para Guru sepakat bahwa modal murid adalah mengingkari nafsunya. Oleh karena itu diantara adab seorang murid adalah mengingkri nafsu dan tidak menyetujui ajakan dari nafsu tersebut. Barang siapa menyerah pada ajakan nafsunya maka ia telah membinasakan dirinya. Mengikuti hawa nafsu adalah mementingkan tidur daripada menghidupkan malam seperti pada malam-malam musim panas. Inilah bukti dari tidak adanya kecintaan kepada Allah. Barang siapa tidak mencintai Allah, maka ia adalah musuh Allah. Allah telah mewahyukan kepada Nabi Daud AS, “Wahai Daud, berdustalah orang yang mengaku mencintai-Ku, ia tidur dan lalai dari-Ku bila malam hari tiba,”. Allah telah bersakasi bahwa orang yang tidur bukan karena terpaksa sesungguhnya berdusta dalam mencintai-Nya.

Seorang murid harus membiasakan diri tidak melanggar pilar-pilar dan syarat-syarat tarekat. Jika salah satu pilar atau satu syaratnya rusak, maka yang lainnya mengikutinya. Telah dijelaskan bahwa pilar-pilar tarekat ada empat, yaitu lapar, pengasingan diri, diam, dan terjaga dari tidur. Selebihnya adalah pelengkapan diri saja. Barang siapa kehilangan prinsip-prinsip ini, maka ia tidak akan memperoleh hasil.    

Diantara  adab murid adalah bahwa ia berguru hanya kepada seorang guru yang telah menguasai ilmu-ilmu syariat. Hal ini untuk mencegahnya berkumpul dengan yang lain. Seorang murid sebaiknya memiliki hanya seorang guru, ia tidak boleh memiliki dua guru karena bangunan tarekat kaum sufi dilandasi oleh tauhid yang murni. Adab murid adalah menjadikan sebagai modalnya memutuskan keterikatan dengan keduniaan. Termasuk syarat-syarat bagi kemaksiatan ketika ia belum bertobat. Berteman dengan mereka kadang-kadang menariknya kembali pada perbuatan yang telah ditobatinya. Pahamilah terlebih dahulu agamamu dan kemudian masuklah ke dalam tarekat.

Diantara adab seorang murid dan seorang guru adalah makan bersama diatas tikar. Mereka tidak makan sendiri-sendiri kecuali karena uzur yang dibenarkan syariat. Termasuk adab-adab mereka adalah sedikit berbicara ketika makan serta sedikit tertawa dan berkelakar, karena pada dasarnya mereka berada di atas hidangan Allah. Barang siapa duduk di suatu hidangan, hendaklah ia tidak pindah ke tempat lain kecuali suatu kebaikan setelah berkonsultasi dengan guru atau pelayan. Pelayan pun tidak boleh mengistimewakan siapapun dengan memberikan makanan bila makanan itu bermacam-macm. Hal ini akan membuat iri hati para faqir yang lemah.

Termasuk adab mereka, bahwa siapapun dari mereka tidak boleh berkata milikku, bajuku, atau sandalku kecuali dengan keyakinan bahwa hal itu merupakan kenikamatan yang diberikan Allah kepadanya. Ia tidak boleh mengatakan hal tersebut dengan kelalaian dan pengakuan sebagai miliknya. Rahasianya adalah termasuk syarat kaum sufi yaitu dengan tidak merasa memiliki apapun yang dikhususkan baginya.

Diantara adab mereka kepada Allah, tetapi jarang dilakukan adalah menerima karunia Allah yang datang di malam dan siang hari. Karena ia bisa melihat hati para hamba-Nya dalam sehari semalam. Dalam hal ini adab mereka adalah tidak bersembunyi dari siapapun, kecuali karena uzur dan tidak mengatakan “Kembalilah dan datang kemari di waktu yang lain. Mereka tidak boleh melarang permintaan keculi karena suatu hikmah, bukan karena kebakhilan, termasuk juga adab mereka yaitu mengembara dengan menghindari tempat yang disitu orang-orang mengangungkan mereka dan dikhawatirkan timbulnya fitnah serta meninggalkan orang yang tidak memiliki kebaikan tanpa berburuk sangka kepadanya.

Adab seorang murid dan seorang guru dalam sama’ (konser spiritual) yang dikenal di kalangan kaum sufi adalah tidak merasakan kekhawatiran akan jatuh ke dalam kemunafikan segala sesuatu yang dapat menyatukan hati dengan hadirat Ilahi adalah baik. Yang dimaksud dengan hadirat Ilahi adalah ucapan tentang kesaksian bahwa ia berada di hadapan Allah. Jika ia terhalang dari kesaksian itu, maka ia telah keluar darinya.

Diantara adab mereka adalah menjauhi tempat-tempat tuduhan. Tidak termasuk tarekat mereka yaitu berteman dengan perempuan dan anak muda yang belum tumbuh janggut, dan tidak berbicara kepada mereka jika tidak ada keperluan yang mendesak. Dalam hal ini mereka tidak duduk bersama di majelis sama’ sambil mengitari mereka. Tidak boleh ada buruk sangka dalam hal ini, mereka harus bergaul pada waktu yang cocok. Termasuk syarat-syarat mereka dalam hal ini adalah tidak duduk bersama pendebat yang mengingkari keadaan-keadaan ahli tarekat berdasarkan hadist Nabi, “Tidak ada baiknya berdebat.” Pengetahuan ahli Allah adalah pengetahuan Nabi Muhammad SAW, karena mereka terikat dengan syariat, yang tidak membolehkan mereka keluar darinya dan mengambil pendapat atau analogi kecuali dalam hal-hal jarang terjadi.

Termasuk adab mereka dalam hal ini adalah menghukum kelupaan dan setiap hal yang merintangi mereka dari kenaikan tingkat, karena mereka harus terus menerus berjalan. Mereka tidak boleh mentoleransi murid yang melakukan kesalahan sebagai upaya memelihara syariat dan kebaikan murid itu sendiri. Adab mereka adalah memenuhi hak orang lain, tetapi mereka tidak boleh menuntut hak mereka dari orang lain. Selain itu, adab mereka adalah menerima permintaan maaf. Termasuk syarat-syarat mereka dalam hal ini adalah siapapun dari mereka tidak menipu yang lainnya. Mereka bergaul dengan kesetiaan dan kepatuhan satu sama lain dalam kebaikan tanpa pertengkaran dan perdebatan, baik dalam pemahaman maupun dalam hal-hal yang dinyatakan secara jelas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Termasuk adab mereka adalah kejujuran mereka tidak boleh berbicara tentang sesuatu yang dirasakannya karena khawatir diri mereka membuat pengakuan suatu maqam yang belum mereka capai. Termasuk prinsip tarekat mereka adalah mereka berbicara hanya tentang apa yang mereka saksikan. Mereka memandang para pelaku kemaksiatan dengan pandangan kasih sayang, bukan pandangan permusuhan dan penghinaan. Siapapun tidak boleh menganggap bahwa kemaksiatan melekat pada diri orang yang melakukannya. Mereka harus menolong orang yang teraniaya dan mendahulukan pertolongan serta wirid mereka dan semua ibadah.

Termasuk adab mereka adalah bersikap qana’ah, yakni merasa cukup dengan rezeki yang ada tanpa berharap memperoleh tambahan. Masih banyak lagi adab dan syarat bagi seorang murid dan seorang guru, yang diantaranya merasa sedih ketika melihat kemungkaran, menahan pandangan, mendamaikan orang yang berselisih, pura-pura tidak mengetahui aib orang lain, bersedekah setiap hari kepada semua hamba Allah, tidak menoleh ke belakang, bersikap optimis, bersikap sederhana dalam berpakaian, mendahulukan orang fakir, senantiasa mawas diri dan sebagainya.                          



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI