Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Cahaya Hati


Pemahaman spiritual adalah cahaya yang dipancarkan Tuhan ke dalam hati. Ia laksana lampu yang membantu kita untuk dapat melihat. Masing-masing cahaya yang telah digambarkan sebelumnya, cahaya amaliah, cahaya iman, cahaya makrifat, cahaya kesatuan, dan cahaya keunikan, adalah serupa satu sama lain. Mereka berasal dari sumber Ilahiah yang sama.
Tiap-tiap cahaya hati tersebut bagaikan sebuah gunung. Cahaya amaliah di dalam dada sangatlah kuat dan mantap, sehingga tidak satu pun di dunia ini yang dapat menghancurkannya selama Tuhan memeliharanya. Puncak gunung ini adalah berjuang melawan sifat-sifat buruk dan melakukan perbuatan baik. Di atasnya bertengger seekor burung, yakni nafs tirani, nafs yang berada pada tingkat terendah. Burung tersebut terbang di lembah penyembahan terhadap tuhan-tuhan palsu, kekafiran, keraguan, kemunafikan,dan sejenisnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Di dalam hati manusia terdapat banyak lembah dan jurang, dan di dalam masing-masingnya terdapat tebing yang curam.” Kita tidak boleh membiarkan diri kita jatuh ke dalam jurang keraguan dan kemunafikan.
Gunung Cahaya Iman terletak di dalam hati, dan di atasnya terdapat burung nafs yang terilhami. Ia terbang di dalam lembah kelemahan dan kejahatan. Gunung ini lebih tinggi dan lebih kokoh dari gunung cahaya amaliah. Nabi Muhammad SAW berkata tentang orang-orang yang beriman, “Keimanan di dada mereka bagaikan pegunungan yang kokoh.” Walaupun nafs adalah bagian integral dari keseluruhan tindakan kita, termasuk doa kita, dan praktik keagamaan lainnya, ia tidak memiliki peran di dalam pengetahuan batiniah kita. Puncak gunung ini adalah keyakinan terhadap Tuhan, serta penglihatan, pemerolehan melalui cahaya iman yang tidak terlihat oleh mata.
Di atas gunung makrifat dalam hati  lebih dalam, terdapat burung nafs penyesalan. Ia kadang terbang di lembah-lembah kegembiraan, kebanggaan, dan kenikmatan di dalam rahmat Tuhan. Pada saat yang lain, ia terbang di lembah-lembah kebutuhan, kerendahan, mencemooh diri sendiri, kerendahan hati, kepapaan, dan kemiskinan. Ia mencakup sikap menyalahkan diri sendiri, dan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan.
Gunung cahaya makrifat lebih besar dan lebih indah daripada dua gunung pertama, karena ia merupakan sumber penglihatan, dan penglihatan lebih akurat daripada pengetahuan. Dengan cahaya ini, kita merasakan apa yang hilang dan binasa, dan kita juga mengenal Tuhan Maha Abadi.
Gunung kesatuan dan keunikan, yang berada di lubuk hati terdalam, ukuran dan kemegahannya tak terbatas. Di atasnya bertengger burung jiwa yang tenteram. Ia terbang di lembah-embah ketenteraman, kepuasaan hati, kebersahajaan, ketangguhan dalam penyatuan, dan kenikmatan mengingat Tuhan.
Penggambaran ini sangat mengagumkan. Cahaya-cahaya positif amaliah, keimanan, makrifat, dan kesatuan adalah bagaikan pegunungan cahaya di dalam hati kita, sementara kecenderungan negatif kita sangatlah kecil dan lemah, bagaikan seekor burung yang bertengger di puncak pegunungan yang dahsyat ini. jika kita berpihak kepada burung kecil ini, maka ia akan mengantarkan kita ke dalam lembah kegelapan.
Ayat-ayat cahaya. Cahaya-cahaya hati di gambarkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an yang paling indah :

Tuhan adalah cahaya langit dan bumi
Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah ceruk,
di dalamnya terdapat sebuah pelita. Pelita itu tertutup di dalam kaca.
Kaca itu seakan-akan bintang yang gemerlapan,
yang dinyalakan dari pohon yang banyak berkahnya.
Yaitu, pohon zaitun yang tumbuh tidak di Timur maupun di Barat,
yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api;
cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya
Siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

“Ceruk” adalah wadah tempat pelita tersebut bernaung, seperti halnya dada merupakan tempat bernaungnya hati. Sebelum listrik menerangi, pelita-pelita ditempatkan pada ceruk, yang didesain untuk memancarkan cahaya pelita tersebut ke ruangan .
“Kaca” melindungi cahaya tersebut agar tidak terpadamkan oleh angin yang berhembus tiba-tiba. Ia bagaikan kepribadian, yang meredupkan cahaya sedikit demi sedikit, saat ia dibersihkan dan disucikan. Kaca dibuat dari pasir dan bahan-bahan lainnya yang tak tembus cahaya dan mampu mengirimkan cahaya itu tanpa perubahan. Kaca tidak memiliki cahayanya sendiri, namun ketika dimasuki cahaya, ia bersinar bagaikan bintang yang terang benderang.
“Pelita” dan cahaya murni itu merepresentasikan percikan Ilahiah di dalam hati kita. Mereka yang mampu menyingkap tabir di dalam dirinya akan mampu menyalakan hati-hati yang lainnya. Cahaya kebenaran telah hadir di dalam diri para Nabi dan para guru spiritual. Dalam maknanya yang sejati, semua Nabi Tuhan adalah sama. Hati mereka yang suci tampaknya bercahaya dengan sendirinya, namun pada kenyataannya seluruh cahaya adalah pantulan dari sumber cahaya yang satu yakni Cahaya Ilahi.
Pohon zaitun, tidaklah begitu mengagumkan untuk dilihat. Bentuk relatif kecil, daun-daunnya berwarna coklat kehijau-hijauan. Namun, buah zaitun adalah makanan yang bermanfaat dan dijadikan minyak yang bermutu baik.
Buah zaitun, sumber minyaknya, bersifat universal, seperti halnya Cahaya Ilahi yang tidak berada pada lokasi tertentu, serta Kebenaran Ilahiah yang tidak dimiliki hanya oleh kelompok masyarakat tertentu.

Jalan hati. Syaiful M. Maghsri menuturkan mengawali perjalanan ini ketika ia bermalam di sebuah rumah yang gelap gulita. Ia membutuhkan sebuah lampu. Dengan cahaya lampu ia mampu membuka jendela dan pintu. Sinar rembulan pun menembus ke dalam rumah dan memancarkan cahaya tambahan. Setelah itu, ia keluar menuju halaman di depan rumah. Di bawah cahaya rembulan, ia tidak lagi membutuhkan cahaya lampu. Fajar kemudian menyingsing menutupi cahaya rembulan. Akhirnya, matahari sampai pada puncaknya dan cahaya fajar tinggal sebatas kenangan.

Minyak tersebut bagaikan kebenaran spirtitual, yang menyinari akal dan hati, bahkan sebelum kita secara sadar tersentuh olehnya.
Bersatu dengan Tuhan. Salah satu prestasi gemilang adalah menggambarkan puncak pengalaman manusia, yakni bersatu dengan Tuhan. Karena tak ada jalan lain, setiap penggambaran keadaan ini pastilah melampui logika dan melampaui kategori penggambaran kita pada umumnya.
Bersatu dengan Tuhan ini melampaui bahasa kita sebagaimana ia melampaui pengalaman keseharian kita.
Syaiful yang telah mencapai tingkat penyatuan (Insya Allah) telah menyelam di dalam samudera Ilahi. Ia laksana matahari Ilahi, yang hingga sekarang tertabiri, yang berada pada puncaknya tanpa awan yang menjadi penghalang antara dirinya dan orang-orang beriman dan mengubah mereka dari dalam dan dari luar.
Syaiful M. Maghsri telah mencapai tahap penyatuan. Ia bagaikan seseorang yang berhadapan dengan seekor singa yang lapar, menyadari bahaya yang ia hadapi. Syaiful sangat yakin bahwa tidak ada pertolongan selain dari Allah. Ia melampaui kebiasaan-kebiasaan, karena dia tidak peduli terhadap masalah-masalah duniawi walaupun ia harus menghadapi tantangan. Ia takut akan dosa-dosanya yang tersembunyi dan berkurangnya iman di dalam rahasianya. Syaiful terus berjuang tidak akan berpaling kepada apa pun selain Allah. Ia telah bersatu, haus sekaligus tidak lapar sekaligus kenyang, telanjang sekaligus berpakaian, melihat sekaligus buta, terpelajar sekaligus bodoh, bijak sekaligus dungu, kaya sekaligus miskin, hidup sekaligus mati. Kondisi Syaiful M. Maghsri yang telah menyatu ini tidak dapat dipahami oleh akal ataupun logika semata, karena Allah telah menjadi sahabatnya, membantu dan mendukungnya. Syaiful telah merendahkan dan menguasai dirinya. Kondisinya melampaui pemahaman akal.

Kesimpulan  
Dalam pandangan kita mengenai sifat manusia, seseorang yang memiliki “hati” adalah mereka yang peka. Menurut Syaiful mengenai hati jauh lebih kompleks, hati adalah kuil Tuhan yang teletak di dada setiap manusia, diciptakan oleh Tuhan untuk menyimpan Cahaya Ilahi di dalam diri kita. Salah satu dasar tasawuf adalah membersihkan dan membuka hati, untuk menjadikan hati sebagai kuil yang layak bagi kehadiran Tuhan.
Jika kita menyadari bahwa hati kita adalah kuil Tuhan, maka kepekaan kita terhadap nafs, dan keseluruhan jiwa kita akan tertransformasikan. Dari sudut pandang ini, kita bukanlah makhluk duniawi yang mencari spiritualitas,  kita adalah makhluk spiritual yang berusaha menemukan diri kita yang sejati.
Jika kita tahu bahwa setiap hati manusia adalah kuil Tuhan, maka kita akan melihat setiap orang secara berbeda, dan berperilaku dengan cinta dan kasih sayang yang lebih besar. Jika kuil-kuil di dunia ini dibangun oleh para Nabi dan orang-orang suci, maka kuil di dalam hati diciptakan oleh Tuhan. Pandangan terhadap orang lain yang seperti ini adalah dasar dan praktik pelayanan sufi. Selalu sadar untuk menghormati hati di dalam diri tiap manusia adalah kebiasaan yang sangat baik. Kita kerap alpa terhadap hal tersebut. Padahal, jika kita dapat mengingatnya, keseluruhan hidup dan hubungan kita akan berubah.
Gambaran hati yang disajikan pada bab ini juga menegaskan bahwa pengetahuan kita tidaklah lengkap, kecuali jika kita mengamalkan apa yang kita ketahui. Setiap tindakan mempengaruhi hati. Kata yang baik, atau tindakan menolong, akan melembutkan dan membuka hati kita. Sementara kata yang kasar atau tindakan jahat akan memperkeras dan menutup hati.
Gambaran yang disuguhkan di sini adalah gambaran klasik mengenai empat lapisan hati, sejak abad kedelapan. Lapisan pertama, yakni dada (shadr), adalah inti dari tindakan. Ia tempat interaksi antara kepribadian kita dan alam spiritual kita. Kita memerlukan kepribadian untuk bereaksi, namun kita juga membutuhkan bimbingan kearifan yang dalam hati. Di dalam dada, kita dapat mengubah kecenderungan negatif kita menjadi positif.
Lapisan kedua, hati (qalb), adalah tempat pengetahuan yang lebih mendalam dan keimanan terhadap ajaran spiritual dan keagamaan yang murni. Ia juga tempat kesadaran kita akan kehadiran Tuhan. Sebuah kesadaran yang mengarahkan kita pada transformasi pemikiran dan tindakan.
Lapisan ketiga, hati-lebih-dalam (fu’ad), berkedudukan lebih dalam lagi, tetapi sangat dekat hubungannya dengan hati. Ia tempat pengetahuan langsung. Hati secara intelektual memahami bahwa kita berada di bawah pengawasan Tuhan, namun pada tingkat lubuk hati terdalam, kita merasakan kehadiran Tuhan dengan sangat jelas, seakan-akan kita melihat Tuhan berada di hadapan kita.
Pada lapisan keempat, lubuk hati terdalam (lubb), kita memasuki wilayah yang maha luas. Ia berada di luar jangkauan kata-kata, teori-teori, dan pemikiran-pemikiran. Pada tingkat ini, orang-orang suci memasuki dunia puisi, bukan lagi prosa. Argumen-argumen yang lurus berubah menjadi paradoks.
Semakin dalam kita menyelam ke dalam hati kita, semakin dekat pula kita kepada Allah. Karenanya, apa yang menahan kita untuk menjelajahi kedalaman hati kita. Salah satu hambatannya adalah kebiasaan-kebiasaan negatif kita. Seperti telah disebutkan di atas, setiap tindakan buruk memperkeras hati dan membuatnya semangkin sulit untuk diselami. Selain itu, kita pernah mengalami penderitaan-penderitaan dalam hubungan duniawi kita, sehingga kita belajar untuk membentengi hati kita dari penderitaan lainnya.
Hambatan lainnya adalah kecenderungan kita untuk menggapai kebahagiaan dan kepuasaan lahiriah, dan bukannya batiniah. Untuk itu, kita mencari kepuasaan di dunia, kita lupa mencarinya di dalam hati kita, yang berisikan tujuan yang ingin dicapai kita semua, baik disadari maupun tidak.



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI