Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Dada (Shadr)

Dada dalam bahasa Arab adalah shadr, yang juga berati “hati dan akal.” Sebagai kata kerja, sh-d-r berati pergi, memimpin, dan juga melawan atau menentang. Karena terletak di antara hati dan diri rendah (hawa nafsu), shadr dapat juga diistilahkan hati terluar. Ia tempat bertemunya hati dan diri rendah, serta mencegah agar satu pihak tidak melanggar pihak lainnya. Dada memimpin interaksi kita dengan dunia. Di dalamnya kita menentang dorongan-dorongan negatif diri rendah.
Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif di dalam diri kita, tempat kita diuji dengan kecenderungan-kecenderungan negatif  kita. Jika kekuatan positif kita kuat, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada di bawah pengaruh jiwa Ilahiah, yang terletak di lubuk hati terdalam. Di sisi lain,  jika pembawaan negatif, seperti dengki, syahwat, dan kesombongan masuk ke dalam dada, atau jika dada diliputi oleh kepedulian, pnderitaan, atau tragedi, dan berlangsung dalam waktu lama, maka dada akan dilingkupi kegelapan. Hati akan mengeras, dan cahaya batiniah stasiun hati lainnya menjadi redup.
Cahaya amaliah. Dada secara lansung dipengaruhi oleh kata-kata dan perilaku kita. Ia dipelihara dengan ibadah, doa, derma, pelayanan, serta pengalaman prinsip dasar dari semua agama.
Dengan perilaku yang positif, dada menjadi perkembangan dan cahaya amaliah menjadi tumbuh. Inilah sebabnya mengapa pelayanan merupakan aspek sangat penting  jalan salih. Di satu sisi, jalan tersebut adalah mudah. Yang mesti Syaiful M. Maghsri lakukan hanyalah menghindar dari melukai ataupun mengambil keuntungan dari orang lain, serta membaktikan dirinya untuk melayani dan membantu orang lain. Maka hati Syaiful sedikit demi sedikit terbuka, sehingga ia bergerak secara perlahan dan pasti di sepanjang  jalan spiritual. Ketulusan usaha Syaiful juga merupakan hal penting. Sebagai contoh, Syaiful menolong orang lain demi kebaikan diri mereka, bukan demi penghargaan maupun keuntungan pribadi. Ketulusan bersumber dari stasiun hati terdalam
Tasawuf mencakup pembersihan dada dan pembukaan hati. Salah satu obat hati yang mengeras adalah dengan mengingat Tuhan. Dua bentuk utama mengingat Tuhan adalah dengan slat dan pengulangan nama atau sifat Tuhan.

Syekh Muhamad Alkaf kerap bertutur kepada Syaiful bahwa cukup untuk melaksanakan shalat lahiriah, tetapi lebih sulit mengajarkan hati kita untuk shalat. Tidaklah sulit untuk mandi dan mengenakan pakaian bersih, tapi akan sangat sulit untuk membersihkan hati kita. Tujuan tasawuf adalah menumbuhkan hati yang dapat shalat. Dada dapat menjadi bersih dan berkembang melalui ketulusan, kesabaran, wirid, serta amalan-amalan spiritual lainnya. Seiring dengan diabaikannya kecenderungan negatif yang kita miliki melalui amalan ini, maka cahaya hati menjadi semakin benderang dan melanjutkan proses pembersihan. Penyucian hati sepenuhnya dicapai hanya melalui bantuan Tuhan. Al-Qur’an menegaskan, “Tuhan hendak menguji apa yang ada di dalam dadamu dan menyucikan apa yang ada di dalam hatimu.”

Nafs adalah komponen penting dari seluruh tindakan kita, karena kapasitas tindakan kita terletak pada nafs. Artinya, hatilah yang merasakan, namun nafs-lah yang bertindak. Kita dapat mengatakan bahwa pratik agama adalah menggunakan nafs sesuai kehendak Tuhan. Ia adalah menundukkan kehendak pribadi kita kepada kehendak Tuhan, mengabdi kepada Tuhan, serta menempuh jalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya.
Berlawanan dengan hal tersebut, kita juga harus menggunakan kehendak pribadi kita untuk melakukan apa yang benar, dan bukan apa yang mudah atau lebih menarik. Kita harus berusaha agar kehendak pribadi kita mengikuti jalan kebenaran yang terdapat pada semua agama. Alkisah, seorang murid berjuang tanpa keberhasilan yang berarti dalam rangka mengubah berbagai kebiasaan buruk lamanya. Ia memohon restu dari sang guru (Syekh Muhammad Alkaf). Sang guru menjawab, “Kau mendapatkan restu dariku, dan kau juga mendapat restu dari Tuhan, sekarang yang benar-benar kita butuhkan adalah restu dari dirimu sendiri!”
Nafs masuk ke dada untuk menguji kita, agar berhasil, kita harus berpegang teguh kepada praktik keagamaan dan spiritual kita, terus-menerus berperilaku tulus dan penuh kasih sayang.
Tindakan-tindakan ini menghilangkan kecenderungan-kecenderungan negatif yang kita miliki. Sehingga, cahaya iman hati menerangi dada kita dan mencegah nafs agar tidak mendominasi dada kita. Walaupun begitu, kita harus terus-menerus berjuang melawan kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut, yakni sifat-sifat yang buruk.
Pengetahuan dada. Seperti disebutkan sebelumnya, dada dalam bahasa Arab juga seakar kata dengan akal, yakni tempat seluruh pengetahuan yang dapat dipelajari dengan dikaji, dihafalkan, dan usaha individual, serta dapat didiskusikan, ditulis, atau diajarkan kepada orang lain. Pengetahuan yang tersimpan di dalam hati di sebut pengetahuan luar, atau pengetahuan duniawi, karena ia berguna untuk mencari kehidupan dan efektif dalam menangani urusan-urusan duniawi. Namun, pengetahuan macam ini juga cenderung menaikkan rasa bangga dan keangkuhan kita. Kita mulai berpikir, “aku tahu”, “aku pandai” juga, “aku lebih tahu dan lebih pandai dari orang lain.” Pengetahuan yang masuk ke dalam dada, yang berasal dari luar, menjadi lebih mapan hanya melalui perjuangan, pengulangan, serta pemusatan pikiran.
Bentuk pengetahuan lainnya masuk ke dada dari dalam, yakni dari hati. Pengetahuan batiniah ini lebih mudah menetap di dalam dada; ia mencakup kelembutan kearifan batiniah dan petunjuk Ilahi. Namun, untuk mempertahankannya, kita mesti berbuat berdasarkan pengetahuan ini. kearifan batiniah yang tidak tercermin dalam perilaku akan segera memudar. Rumi menyebutkan dua proses pengetahuan ini sebagai “kecerdasan utuh” dan “kecerdasan buatan.” Kecerdasan buatan memiliki banyak tingkatan yang berbeda, namun masing-masing memperoleh pengetahuannya dari luar. Kecerdasan utuh mendapatkan dari dalam.

Terdapat dua kecerdasan, pertama adalan buatan. Kau mempelajari.. dari buku-buku, guru, pemikiran, dan hafalan, dari konsep-konsep, dan dari ilmu pengetahuan yang baru dan unggul.
Kecerdasanmu menjadi semangkin meningkat melebihi orang-orang lainnya, namun kau merasa sangat terbebani karena perolehanmu tersebut. Carilah mata air itu dari dalam dirimu sendiri.



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI