Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Godaan Kekhawatiran Kepastian Rezeki


Sudah merupakan suatu kewajiban bagi Syaiful untuk menahan, mengatasi dan menutup godaan yang akan menjauhkannya dari beribadah kepada Allah SWT. Godaan yang dimaksud antara lain Godaan Kekhawatiran Kepastian Rezeki. Godaan Kekhawatiran Kepastian Rezeki dan tuntutan nafsu hanya dapat ditahan dan ditutupi dengan jalan tawakal. Sudah selayaknya bagi Syaiful untuk hanya mengantungkan diri kepada Allah. Yang demikian ini dilakukan demi tujuan-tujuan tertentu. Tujuan tersebut antara lain supaya tenteram dalam mengerjakan ibadah dan menjalankan kebaikan. Sebab orang yang tidak menggantungkan dirinya kepada Allah SWT, niscaya ia tidak akan sempat beribadah karena selalu memikirkan kebutuhan akan rezeki. Kebimbangan itu ada kalanya bersifat lahiriah dan ada kalanya bersifat batiniah.
Menurut Syaiful M. Maghsri mereka yang lemah hatinya, kemungkinan besar tidak dapat tenang, disini yang bersangkutan masih belum memahami betul makna tawakal. Sesungguhnya keadaan yang berjalan di dunia ini hanyalah dua keadaan, yaitu tawakal dan sembrono. Mereka yang sembrono jika bermaksud mengerjakan sesuatu, hanya berpikir  asal ada kekuatan dan keberanian saja, tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Bagi Syaiful M. Maghsri yang hatinya hanya bergantung kepada Allah SWT, tidak akan bimbang, oleh kekhawatiran baik dari diri sendiri maupun dari orang lain yang menakut-nakutinya, termasuk godaan maupun gangguan dari setan. Adapun orang yang lemah agamanya, ia selalu maju mundur, lelah dan bingung tidak karuan, bagaikan domba yang berada di kandang dan selalu hanya menanti-nantikan pembagian yang diberikan oleh yang memeliharanya. Jiwanya beku tidak dapat lagi memikirkan hal-hal yang tinggi, semangatnya mudah patah, tidak dapat merencanakan hal-hal yang mulia. Apabila sempat memikirkan dan mencoba tindakan yang mulia biasanya ia tidak dapat sampai pada tujuannya atau dilakukan dengan tidak sempurna.
Menurut Syaiful, orang yang hanya menggantungkan dirinya hanya pada dunia, mereka tidak bisa sampai pada pangkat yang tinggi dan kedudukan yang terhormat. Apa yang terjadi adalah bahwa mereka selalu melupakan harga dirinya, mengorbankan harta benda dan keluarganya. Pikirannya penuh keraguan dan kebimbangan. Adapun orang-orang yang tawakal yaitu yang menggantungkan atau memasrahkan dirinya hanya kepada Allah SWT. Mereka memiliki satu modal pokok dalam menjalankan hidup yakni, mengabdikan diri kepada Allah. Syaiful tidak terpengaruh oleh keadaan-keadaan yang menggangu pikirannya, ia berlapang dada jauh dari pikiran-pikiran kusut yang merepotkan dirinya. Ia selalu memiliki kesempatan untuk melakukan ibadah kepada Allah yang memberi segala-galanya.
Menurut Syaiful, orang yang bertawakal adalah kaum yang sangat bebas, seakan-akan menjadi raja sejagat, kemana saja bergerak ia merasa bebas terlepas dari aneka godaan dan halangan, karena semua ruang dan waktu yang mereka singgahi sama sekali tidak mengganggu sikap tawakalnya kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang ingin menjadi orang yang terkuat, hendaklah ia bertawakal kepada Allah”. Hadist ini memberikan pengertian kepada kita bahwa arti tawakal itu bukan sekali-kali kita harus berpangku dagu, duduk bersimpuh menunggu datangnya rezeki tanpa berusaha. Akan tetapi arti tawakal itu ialah berusaha dengan sungguh-sungguh dan menyandarkan harapan hanya kepada Allah belaka, yang kekuasaan-Nya penuh dan Maha Bijaksana serta Maha Pengatur, disertai keyakinan bahwa pertolongan Allah juga yang dapat tujuan dari usaha mereka tercapai.

Menurut Syaiful mereka yang tidak bertawakal, usahanya sangat melelahkan lahir dan batinnya dan sering gagal tidak sampai tujuan, karena andalannya hanya kepada dirinya sendiri atau kepada harta dan kepada makhluk, yang kekuasaanya terbatas dan penuh kekurangan. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang merindukan dirinya agar menjadi orang yang termulia, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah.” Karena orang yang bertaqwa kepada Allah akan diberikan kemuliaan kepada-nya, jika Allah yang memberi kemuliaan itu, tiada seorangpun yang dapat menghilangkan-Nya. Selanjutnya Nabi bersabda, “Barang siapa yang lain ingin menjadi orang yang terkaya, hendaklah ia lebih percaya kepada Kekuasaan Allah daripada dirinya sendiri.”

Hal lain yang mendorong Syaiful harus bertawakal kepada Allah dalam urusan rezeki ialah karena telah difirmankan oleh Allah SWT, “Allah jualah yang menjadikan kamu dan memberi rezeki kepada kamu,” (QS. Ar-Rum 30 :40). Jadi ketawakalan itu adalah meyakini Allah mnyertakan kepada setiap makhluk yang lahir sekaligus dengan rezekinya, dan karena itu alangkah bahayanya kalau kita tidak bertawakal kepada Allah. Selain itu Allah menjanjikan, “Sesungguhnya Allah, hanya Dia saja yang memberi rezezki,” (QS. Hud 11: 6). Maka barang siapa yang tidak menghiraukan firman Allah bahwa itu pemberian Allah semata-mata dan tidak menganggap hal itu janji Allah, dan tidak tenteram dengan jaminan Allah serta tidak merasa senang dengan penetapan Allah, lalu tidak mempedulikan perintah dan ganjaran serta ancaman-Nya, maka lihatlah apa yang akan terjadi pada dirinya akibat dari kelakuanya itu, adalah suatu musibah yang besar kalau orang tidak percaya jaminan Allah. Kita tidak ingat akan musibah ini, sebagaimana sabda Rusulullah kepada Abdullah Bin Umar, “bagaimana kalau engkau panjang umur dan hidup dianatara orang-orang yang sudah menimbun rezeki untuk satu tahun karena lemah keyakinannya,”.
Menurut ulama makrifat bahwa rezeki terdiri dari empat bagian, yaitu rezeki yang di jamin, rezeki yang dibagi, rezeki yang dimiliki dan rezeki yang dijanjikan oleh Allah SWT. Kepada orang yang bertaqwa tidak akan berubah keputusan dan juga kepada seorang  yang jahat tidak akan merubah keputusan, yang sudah diputuskan akan tetap tidak berubah. Termasuk didalamnya rezeki yang dimiliki, yaitu apa yang dimiliki dari harta benda dunia, juga menurut apa yang sudah ditakdirkan dan ditetapkan oleh Allah. Meskipun menurut perasaan seseorang semua itu hasil dari jerih payah. Firman Allah, “Keluarkan Infaq (nafaqah, Zakat dan sebagainya) dari apa yang telah kami berikan kepadamu,”. Demikian pula dengan rezeki yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Datangnya itu halal dan tanpa susah payah, Allah berfirman, “Barang siapa bertaqwa kepada Allah pasti Allah membuat baginya suatu jalan keluar dari kesusahan dan memberinya rezeki melalui jalan yang tidak disangka-sangka,”(QS. Ath-Thalaq 65 : 2).
Adapun batas dan hakikat tawakal, percaya terhadap Allah dan mencukupkan segala sesuatu hanya dari-Nya, serta  tidak menggantungkan harapan selain dari Allah. Inilah maksudnya tawakal kepada Allah, memelihara hati hanya ditunjukkan kepada Allah semata dengan tidak menggantungkan hati kepada apapun selain dari Allah SWT.
Bahaya yang akan menimpa seseorang  jika tidak bertawakal kepada Allah adalah akan banyak keraguan tentang kepastian apakah sesuatu yang diinginkan dan diusahakan bakal tercapai atau tidak. Kemudian hilangnya keyakinan bahwa apa yang diusahakan terdapat sebuah kemaslahatan bagi dirinya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyuruh seseorang berbuat sesuatu, kecuali ada kebaikan bagi dirinya. Demikian pula Allah tidak akan membuat sempit seseorang yang mengerjakan sesuatu kewajiban. Akan tetapi sewaktu-waktu Allah membuat sesuatu uzur (alasan) untuk meninggalkannya, sehingga meninggalkan salah satu dari kewajiban adalah lebih baik sebab ada kewajiban baru yang lebih penting.
Hal inilah yang mendorong Syaiful M. Maghsri untuk menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Karena itu bila ia menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, maka pasti akan diberikan yang baik saja, dengan demikian menjadi kuat keinginan selalu dekat kepada Allah SWT.      



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI