Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Godaan Ketidakridaan Dengan Takdir Ilahi

Semua takdir Ilahi harus diterima dengan hati yang ridho. Hal ini harus dilakukan agar dapat memusatkan perhatian hanya untuk ibadah, sebab kalau kita tidak rela menanggung derita yang ditakdirkan oleh Allah, Hati akan menjadi susah dan masygul selamanya. Jika hati masygul bagaimana mungkin memusatkan perhatian kepada ibadah. Lebih dari itu, hati manusia itu hanya satu, jika ia disibukkan dengan aneka kebimbangan, tidak ada tempat jagi untuk ketentraman beribadah.
Jika tidak ridho denga takdir Ilahi, maka akan berhadapan dengan murka Allah SWT. Untuk itu hendaknya orang yang berpikiran sehat mendengarkan benar-benar petunjuk dari Allah. Kita berlindung kepada Allah dari kesalahan perbuatan kita, dan kita bermohon kepada-Nya, semoga Allah memaafkan kita dan mengampuni kekurang ajaran kita dan semoga Allah memperbaiki diri kita dengan penglihatan yang baik.

Ridho itu artinya tidak berkeluh kesah. Dan ketahuilah yang direlakan adalah kepastiannya jadi takdirnya yang direlakan, bukan maksiatnya. Menakdirkan yang buruk, hal itu tidak buruk, takdirnya tidak buruk, yang buruk ialah yang ditakdirkannya. Jadi kalau kita ridho terhadap takdir yang buruk, kita ridho terhadap takdirnya, bukan ridho terhadap buruknya, nanti kita jatuh ke dalam maksiat, ini sebetulnya takdir Allah, ” terhadap takdir ya Allah, aku ridho tapi terhadap maksiat aku tobat, selanjutnya tolonglah aku jangan ditakdirkan untuk maksiat. Dengan kata lain terhadap takdirnya kita ridho, dan dengan maksiat bahkan menjadi hikmat, karena mendorong kita ridho kepada takdir dan juga kita tobat.
Takdir Ilahi itu ada empat, yaitu nikmat, kesusahan, kebaikan dan keburukan. Nikmat ialah yang diridhokan terhadap Allah yang menakdirkannya, ridho terhadap takdirnya dan juga ridho terhadap yang ditakdirkan-Nya itu adalah suatu kenikmatan. Dan kenikmatan itu wajib dinyatakan, jangan disembunyikan dengan menyatakan tentang pengaruh nikmat.

Kita juga harus ridho dengan kesukaran yang ditakdirkan-Nya. Yang wajib disini bukan syukur, karena kesusahan kalau kita menghadapinya dengan sabar nanti akan terasa hikmatnya. Sedangkan jika ditakdirkan itu kebaikan, misalnya mendapat anak yang saleh, dapat harta yang halal, dapat ilmu yang bermanfaat dan sebagainya. Yang diridhokan ialah terhadap Allah, terhadap takdirnya dan terhadap yang ditakdirkan. Disini bukan syukur yang wajib, tetapi insaf akan kebaikan Allah SWT. Jangan ujub, sebab kalau kita tidak ingat kepada Allah, maka kita akan menjadi ujub, karena seolah-olah kebaikan ini karena kita sendiri, padahal tidak demikian. Ingat akan kebaikan Allah itu dari pandangan bahwa taufik dan kebaikan itu adalah dari Allah SWT.
Kalau yang ditakdirkan-Nya kejahatan, misalnya kita jatuh ke dalam maksiat, nauzubillah. Ini pun hakikatnya yang ditakdirkan oleh Allah SWT. Maka wajib kita ridho terhadap Allah yang menakdirkan dan juga terhadap takdir-Nya. Kalau dari segi kejahatan, kita benci kepada-Nya, tetapi kalau diingat bahwa hal itu dari Allah, maka kita ridhoi. Keridhoan kita kembali kepada takdir dan kembali kepada yang ditakdirkan, tetapi terhadap maksiatnya tentu kita tidak ridho, dilihat dari segi maksiatnya. Kita ridho karena itu takdir, tetapi terhadap maksiat kita tidak ridho dan kita tobat agar tidak tersesat, dan memohon agar Allah menolong kita jangan sampai tersesat.
Apabila kita ridho terhadap takdir, boleh minta tambah tapi dengan syarat ada maslahat. “Aku minta tambah, kalau tambahan itu baik bagiku. “Hendaknya berkata, “Ya Allah yang ditakdirkan oleh-Mu terhadap diriku baik, maka aku mohon tambah kalau tambahan itu ada maslahat bagi diriku.” Jika demikian halnya, maka ia tidak menghilangkan ridhonya kepada takdir, bahkan menunjukkan kepada ridoinya yang lebih dalam karena itu lebih utama.
Biasanya Rasulullah kalau mendapatkan rezeki susu, suka membaca doa berikut ini, “Ya Allah berkahkan rezeki ini dan tambah daripadanya.” Dalam hal ini Rasulullah juga suka meminta tambah, sebab ridho karena susu suatu rezeki yang baik sekali. Ada Riwayat lain mengatakan, “Ya Allah, Alhamdulilah dalam menerima rezeki dan kami mohon di tambah yang lebih baik daripadanya.”
Dalam peristiwa itu, sama sekali tidak menunjukkan bahwa Rasulullah tidak ridho terhadap apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah, tetapi ia minta yang lebih baik. Rasulullah mengucapkan hal ini dalam hati, kalau sudah ada di hati, yang dikatakan dengan mulut tidak begitu penting lagi, ketahuilah hal ini dengan yakin.   
 



0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI