Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Hakikat Hati


Nama ini dikenakan pada dua hal: Pertama, segumpal daging sanubari yang terletak di sebelah kiri dada. Ia adalah daging yang istimewa, di dalamnya terdapat rongga yang berisikan darah, itulah sumber dan pusat dari ruh. Syaiful M. Maghsri tidak bermaksud menerangkan bentuk dan tata kerjanya, sebab hal itu berkaitan dengan tujuan dan profesi (kerja) para dokter dan tidak berkaitan dengan tujuan-tujuan keagamaan. Hati dalam bentuk seperti ini terdapat juga dalam (tubuh) binatang.
Hati yang kami maksudkan dalam buku ini bukanlah hati dalam pengertian itu. Sebab, ia adalah sepotong daging yang tidak berkadar. Ia berasal dari Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak, karena hal itu dapat diketahui oleh binatang dengan indera penglihatannya sebagai kelebihan dari manusia.
Makna kedua, rasa ruhaniah yang halus yang berkaitan dengan hati jasmani (bendawi), dan perasaan halus itu adalah hakikat dari manusia. Ialah yang tahu, mengerti, dan paham. Ialah yang mendapat perintah, yang dicela, diberi sanksi dan yang mendapat tuntutan. Ia memiliki hubungan dengan hati jasmani (bendawi). Akal manusia bingung untuk mengetahui letak hubungan dan pertaliannya, padahal pertaliannya (hubungan antara hati ruhaniah dengan jasmani) sama dengan hubungan antara watak dengan jasad, antara sifat dan yang disifati, antara pemakai alat dengan alat itu sendiri, antara sesuatu yang menempati tempat dengan tempat itu sendiri.
Syaiful M. Maghsri menjelaskan hal tersebut karena ia bersikap hati-hati pada dua makna: pertama, bahwasanya hal itu berhubungan dengan ilmu mukasyafah, dan tujuan Syaiful dengan buku ini bukanlah ilmu mukasyafah tapi ilmu Bioenergi. Kedua, perwujudannya membutuhkan tersingkapnya rahasia ruh. Masalah ini merupakan salah satu hal yang tidak pernah dibicarakan atau diterangkan oleh Rasulullah, maka orang lain tak sepantasnya membicarakannya. Sebutan kata ‘hati’ dalam buku ini kami maksudkan pada perasaan halus (lathifah), sasarannya hanya untuk menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, bukan hakikatnya, sebab ilmu mu’amalah butuh pada pengenalan sifat dan keadaan hati, bukan pada hakikat.

Hati yang saya maksudkan adalah hakikat spiritual batiniah kita, bukan hati dalam arti fisik. Hati kita adalah sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih. HM. Syaiful M. Maghsri terus berjuang dan menjaga hatinya agar tetap hidup, terjaga, dan dilimpahi cahaya, Syekh Muhammad Alkaf (guru Syaiful M. Maghsri) menuturkan kepada Syaiful M. Maghsri “Jika kata-kata berasal dari hati, ia akan masuk ke dalam hati, jika ia keluar dari lisan, maka ia hanya sekadar melewati pendengaran.” Cinta adalah inti tasawuf, dan wadah cinta adalah hati.
Hati batiniah berfungsi hampir sama dengan hati jasmaniah. Hati jasmaniah terletak di titik pusat batang tubuh, hati batiniah terletak di antara diri rendah dan jiwa. Hati jasmaniah memelihara tubuh dengan mengirimkan darah segar dan beroksigen kepada tiap sel dan organ di dalam tubuh. Ia juga menerima darah kotor melalui pembuluh darah. Demikian pula, hati batiniah memelihara jiwa dengan memancarkan kearifan dan cahaya. Dan ia juga menyucikan kepribadian dari sifat-sifat buruk. Hati memiliki satu wajah yang menghadap ke dunia spiritual, dan satu wajah lagi menghadap ke dunia nafs dan sifat-sifat buruk kita.

Jika hati jasmaniah terluka, maka kita menjadi sakit. Jika ia mengalami kerusakan berat, maka kita pun meninggal dunia. Jika hati batiniah kita terjangkiti sifat-sifat buruk dari nafs (atau diri rendah), maka kita akan sakit secara spiritual. Jika hati tersebut secara keseluruhan didominasi oleh nafs, maka kehidupan spiritual kita pun akan mati.
Hati janganlah disalah artikan sebagai emosi, seperti amarah, rasa takut, dan keserakahan, berasal dari nafs. Ketika manusia berbicara mengenai ‘hasrat hati’, mereka biasanya merujuk pada hasrat nafs, nafs tertarik pada kenikmatan duniawi dan tidak peduli akan Tuhan, sedangkan hati tertarik kepada Tuhan dan hanya mencari keseimbangan di dalam Tuhan.
Hati secara langsung bereaksi atas setiap pikiran dan tindakan. Syekh saya (Syaiful M. Maghsri)  kerap berkata bahwa setiap kata dan tindakan yang baik memperlembut hati, dan setiap kata dan tindakan yang buruk akan memperkeras hati. Nabi Muhammad SAW menyebutkan keutamaan hati saat berkata, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia sehat, maka seluruh tubuh pun sehat, jika ia sakit, maka seluruh tubuh pun akan sakit. Itulah hati.
Kita dapat membuka mata dan telinga hati untuk merasakan lebih dalam realitas-realitas batiniah, yang tersembunyi di balik dunia material kita yang kompleks. Syekh Muhammad Alkaf bertutur kepada Syaiful M. Maghsri :

Hati memiliki mata yang digunakan untuk menikmati pemandangan alam gaib, telinga untuk mendengar perkataan penghuni alam gaib dan firman Tuhan, hidung untuk mencium wewangian yang Gaib, dan mulut untuk merasakan cinta, manisnya keimanan, serta harumnya pengetahuan spiritual.

Hati adalah kuil yang ditempatkan Tuhan di dalam diri setiap manusia, sebuah kuil untuk menampung percikan Ilahi di dalam diri kita. Dalam sebuah Hadist terkenal, Tuhan berkata, “Aku yang tak cukup ditampung oleh langit dan bumi, melainkan tertampung di dalam hati seorang beriman yang tulus.” Kuil di dalam diri kita ini lebih berharga daripada kuil tersuci sekalipun di muka bumi ini. Maka, jika kita melukai hati manusia lainnya dosanya lebih besar daripada merusak sebuah tempat suci di duni ini.
Menurut Syaiful M. Maghsri, menjadi seorang yang salih berarti menyadari bahwa hati setiap orang yang kita temui adalah kuil Tuhan. Banyak hati yang telah terlukai. Kita dapat melayani ciptaan Tuhan dengan berusaha menyembuhkan banyak hati yang terluka. Pelayanan ini juga menyembuhkan dan membuka hati kita. Sebagaimana di tuturkan oleh Syekh Muhammad Alkaf kepada Syaiful, “Semangkin kita mencinta, semangkin kita membuka hati kita. Tindakan tanpa disertai cinta dan niat hati yang tulus tidak begitu bermakna, atau bahkan sama sekali tak bermakna.”
Banyak di antara kita yang membiarkan pemujaan terhadap berhala memasuki hati kita (berhala disini Syaiful maksudkan sebagai kenikamatan duniawi yang bersifat sementara, seperti ketenaran, uang, dan kekuasaan) serta menghambakan diri kita untuk pencapaiannya. Salah satu amalan dasar tasawuf adalah mengulang-ulang kalimat lâ ilâha illâ Allâh, “Tiada Tuhan selain Allah.” Disiplin tasawuf, termasuk pembersihan hati, membuatnya agar menjadi kuil yang pantas bagi kehadiran Ilahi.
Istilah Arab hati, yakni qalb, berasal dari akar kata “berbalik” atau “berputar kembali”. Dalam satu pengertian, hati spiritual yang sehat adalah seperti radar, yang terus-menerus berputar dan mengamati secara sepintas, tidak pernah terikat pada sesuatu pun di dunia, ia selalu mencari yang suci. Dengan melantunkan lâ ilâha illâ Allâh, hati memberitahu kita bahwa tiada sesuatu pun di dunia ini yang berharga untuk kita sembah, namun Tuhan berada di mana-mana.


0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI