Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Hati (Qalb)


Ketika dada kita telah dibersihkan dan hati kita telah terbuka, kita mulai mampu melampuai permukaan luar dan merasakan apa yang tersembunyi di dalam. Seperti disebutkan sebelumnya, perilaku yang melukai orang lain atau melanggar prinsip-prinsip spiritual umum (seperti kejujuran, ketulusan, dan belas kasih) cenderung akan menutup dan mengeraskan hati. Menjadi seorang salih adalah memiliki hati yang lembut, peka, dan penuh pemahaman.
Pengetahuan hati. Nabi Muhammad SAW berkata, “ada dua jenis pengetahuan: pegetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga. Di Indonesia, kita terlalu menekan pada “pengetahuan lidah” atau mempelajari buku adalah salah satu tingkat kecerdasan buatan. Inilah batasan yang belum mengenal pengetahuan yang lebih dalam dari hati kecerdasan utuh.
Otak bagaikan sebuah komputer yang mampu menampung data dan mengatur kembali informasi yang telah tersimpan, tetapi kreativitas datang dari hati. Sayangnya, kreativitas hati dapat dimanfaatkan oleh nafs, sebagaimana dapat kita lihat di dalam diri orang-orang kreatif yang masih saja angkuh, duniawi, dan mementingkan diri sendiri.
Elemen penting di dalam pengetahuan hati adalah mengalami apa yang telah kita ketahui. Pengetahuan hati diperdalam oleh pengalaman. Syekh Muhammad Alkaf (Guru Syaiful M. Maghsri) dengan rendah hati berkata, “Saya tidak mengetahui banyak mengenai tasawuf, tetapi saya mencintai apa pun yang telah saya pelajari, dan saya telah mengamalkan selama lebih dari empat puluh tahun.” Ini adalah kata-kata dari seorang Syekh. Tasawuf adalah ajaran yang hidup (ajaran untuk diamalkan). Sedikit pengetahuan yang diterapkan akan membawa kearifan, sedangkan pengetahuan buku yang berlebihan akan mengakibatkan kelemahan mental dan spiritual.
Hati berisikan prinsip-berinsip pengetahuan yang mendasar. Ia bagaikan mata air yang mengisi kolom pengetahuan di dalam dada. Hati adalah akar dan dada adalah cabang yang diberi makan oleh hati. Pengetahuan batiniah dari hati maupun pengetahuan luar dari akal (atau dada) sama penting.
Pengetahuan luar mencakup informasi yang kita butuhkan untuk bertahan, termasuk keahlian profesional, maupun kecerdasan yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah keluarga. Ia juga diperlukan dalam upaya menjalani kehidupan yang bermoral dan etis, yang mampu membedakan yang benar dari yang salah.
Pengetahuan batiniah adalah pemahaman terhadap realitas yang harus menyertai tindakan luar agar mampu memberinya makna dan kehidupan. Pengetahuan batiniah membutuhkan tindakan luar untuk mendukung dan memeliharanya, serta memperdalamnya melalui pengalaman.
Nabi Muhammad SAW berkata, “Segala perbuatan bergantung kepada intinya,” dan, “tidak ada perbuatan yang dihubungkan dengan seseorang yang tidak memiliki niat.” Nilai setiap tindakan diberi makna dan dinilai hanya berdasarkan niat hati yang tulus. Hati mewadahi cahaya iman, juga sifat cinta, belas kasih, ketenangan, takut akan dosa, kerendahan hati, kelembutan, ketundukan, kesabaran, kehalusan budi bahasa, dan kesucian. Tuhan mengasihi kita dengan menempatkan hati melampuai kekuasaan nafs. Dada adalah batasan terjauh dari pengaruh nafs dan kecenderungan negatif kita.
Ketika dada dapat mengembangkan atau menyusut bergantung pada perilaku kita, maka cahaya hati kita bagaikan cahaya matahari, tetap utuh dan tidak berubah. Matahari tidaklah berubah, walaupun ia diselubungi oleh awan, kabut, ataupun kegelapan malam. Ketidakpedulian, kealpaan, ataupun keingkaran, dapat menghalangi cahaya hati, sehingga melemahkan kekuatannya atas diri rendah. Namun, kita berjuang dengan tulus, maka tabir-tabir tersebut dapat tersingkap, dan cahaya iman akan bersinar kembali. Untuk itu, kita membutuhkan bantuan dan kasih sayang Tuhan.
Cahaya iman. Cahaya iman bagaikan lampu yang indah, yang diselubungi tabir yang berlapis-lapis. Walaupun cahayanya terang dan sempurna, kita harus menyingkirkan tabir yang menutupinya. Pada dasarnya, kita tidaklah bersifat jahat. Kita bahkan dilahirkan dengan kebaikan dari kearifan bawaan. Kita semua memiliki cahaya iman yang sama. Walupun cahaya tersebut telah sepenuhnya terhalangi, pada dasarnya ia tetap utuh dan sempurna. Tugas kita adalah menyingkap tabir dari cahaya yang telah dipancarkan oleh Tuhan ke dalam hati kita, dan memohon kepada-Nya agar membantu kita, dan menjadikan segala upaya kita tidaklah sia-sia.

Bagi sebagian orang yang telah menyentuh kedalaman hati, Tuhan menampakkan pengetahuan batiniah tentang kebajikan-kebajikan spiritual, seperti sifat mulia, murah hati, sabar, dam kegigihan melawan kecenderungan-kecenderungan negatif. Sebagian lainnya diberi kemampuan untuk berbicara secara fasih mengenai Tuhan, dan sifat-sifat-Nya yang Maha Pengasih, Maha Indah, Maha Besar, dan Maha Pemaaf. Sebagian lainnya lagi dianugerahi kemampuan untuk menulis puisi-puisi yang menyentuh, tulisan-tulisan mengenai Tuhan dan jalan spiritual. Sebagian lainnya juga melakukan perenungan yang sangat mendalam mengenai keunikan dan keesaan Tuhan, sehingga mereka tidak melihat sesuatu selain Tuhan di dalam diri mereka. Arif sejati bagaikan pencari mutiara, ia terus menerus mencari dengan menyelam jauh ke dalam.

Takut kepada Tuhan. Hati adalah rumah taqwa, yang kerap diartikan dengan “takut kepada Tuhan.” Pada tingkat terendah, taqwa bermakna rasa takut terhadap hukuman Tuhan. Bagi kaum sufi, taqwa bermakna rasa takut akan kehilangan rasa cinta terhadap Tuhan, rasa kedekatan dengan Tuhan, dan cinta Tuhan. Mereka yang takut kepada Tuhan dalam makna ini menaati perintah Tuhan dengan senang hati, bukan karena rasa takut akan hukuman-Nya. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Menyadari kehadiran Tuhan.” Mereka mengatakan bahwa rasa takut kepada Tuhan membimbing kita melawan keraguan, penyembahan terhadap tuhan-tuhan palsu, ketidaksetiaan, ketidaktulusan, dan kemunafikan.
Terjemahan lain kata taqwa adalah “kepekaan akan Tuhan.” Kesadaran yang terus menerus ini membuat kita berpikir dan bertindak secara lebih hati-hati dan lebih peka. Jika kita selalu mengingat bahwa setiap kata-kata dan tindakan dapat mendekatkan atau menjauhkan kita dari Tuhan, maka kita telah memasuki pintu taqwa. Kita akan menjadi jauh lebih sadar dan lebih berhati-hati dalam seluruh tindakan kita


0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI