Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Otak Kanan (Thariqot/Nafs)


Pada manusia yang masih hidup, pikiran pun sedemikian dashyatnya. Tidak seperti fisik tubuh manusia yang terikat pada ruang dan waktu, pikiran bebas berkeliaran ke manapun sesuai dengan keinginannya. Seseorang boleh saja duduk merokok memegang cangkul di tengah sawah, tetapi pikirannya dapat berada di bank tempat ia memasukkan permohonan KUT (Kredit Usaha Tani). Pikiran tidak akan pernah dapat dibatasi oleh fisik. Banyak sekali terjadi, seseorang lemah secara fisik, tetapi memiliki kekutan dalam berpikir. Banyak ulama besar cacat penglihatan, tetapi mereka mampu menulis banyak buku yang sangat bermanfaat bagi banyak orang yang sehat penglihatannya.
Pikiran bahkan dapat membentuk surga dan neraka. Dengan mencerap dan mencerna sungguh-sungguh informasi indra tentang alam semesta ini, manusia kemudian menciptakan surga dan neraka dalam kepalanya. Akan tercipta surga bila ia menyenangi kehidupan dunia dan berbuat baik didalamnya. Namun, akan hadir neraka bila ia lalai dan berbuat jahat dalam hidup di dunia.  
Perkembangan mutakhir dalam metode belajar Pelatihan Ilmu Bioenergi juga menggunakan model ganda otak. Metode Quantum Khusus, Terpadu dan Quantum Eksplor yang populer dalam Pelatihan Ilmu Bioenergi yang berpijak pada prosedur kerja empat belahan otak.
Pikiran harus ditata sedemikian rupa sehingga informasi itu memiliki semacam “Peta Pikiran”. Ruang kelas juga harus disulap menjadi ruangan yang santai dengan nuansa musik yang lembut. Demikian halnya dengan rasa humor pada anak-anak, harus diberdayakan sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa “sersan” (serius tapi santai) dalam belajar. Termasuk pekerjaan otak kanan adalah mendengarkan musik. Musik dapat membuat otak kanan tidak berdiam diri dan tidak mengganggu pekerjaan otak kiri. Dalam belajar, sebaiknya otak harus diberikan pekerjaan bersamaan supaya tidak saling mengganggu. 


Diagram : Pola Kecerdasan Terpadu
(Peran Otak Kanan Thariqot/Nafs)

Syaiful M. Maghsri  menggemukakan kehidupan spiritual umat islam banyak berhenti pada syariat, padahal sebaiknya berkembang ke jenjang berikutnya, yaitu tarikat. Tarikat (dengan huruf i) atau gurun pasir dimana orang Badui menempuhnya untuk pergi dari satu oase ke oase yang lain. Jalan ini tidak selalu terang seperti jalan raya, bahkan jalan ini bukan jalan yang bisa diihat. Untuk menemukan jalan di gurun yang tak berjejak ini kita mengetahui tempat tujuan dan akrab dengan hal-hal yang ada di tempat itu.
Tetapi yang dimaksud tarikat di sini adalah jalan spiritual menuju Tuhan. Istilah “tarekat” atau “tarekot” kadang juga diartikan sebagai organisasi persaudaraan sufi, seperti Qadiriyah, Nasyabandiyah, dan sebagainya. Tarekat, baik dalam arti jalan spiritual maupun organisasi persaudaraan sufi, memerlukan bimbingan guru yang disebut musryid atau syekh.
Menurut Syaiful M. Maghsri dalam membahas tarikat biasanya dibedakan antara hal (kondisi spiritual) dengan maqam (jenjang spiritual). Ia berkata kondisi spiritual masuk ke dalam hati sebagai anugerah dan karunia dari rahmat Allah yang tak terbatas kepada hamba-Nya. Kondisi spiritual tidak bisa dicapai melalui usaha, keinginan atau undangan, ia datang tanpa diduga-duga dan pergi juga tanpa diduga-duga. Sedangkan maqam menurut Syaiful diperoleh dan dicapai melalui upaya dan ketulusan sang penempuh jalan spiritual. Tetapi pencapaian ini sebenarnya terjadi berkat rahmat Allah. Suatu maqam adalah kualitas jiwa yang tetap yang berbeda dengan sifat sementara dari suatu hal. Ketika tercapai kualitas-kualitas terpuji yang berkenaan dengan suatu jenjang tertentu, maka segenap kualitas itu semakin kukuh dan mantap serta tetap bersamanya dalam kenaikannya yang tiada henti.
Syaiful M. Maghsri mengemukakan mengenai jenjang spiritual menuju Tuhan ada tujuh, yang dimulai dengan tobat, lalu ‘wara’, kemudian zuhud, selanjutnya kefakiran, berikutnya sabar, lalu tawakal, dan akhirnya ridho. Maqam pertama dari berbagai jenjang spiritual yang harus ditempuh orang-orang yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah adalah tobat. Tobat adalah kembali dari segala sesuatu yang dicela oleh ilmu (syariat) untuk menuju kepada apa yang dipuji oleh ilmu itu. Tobat yang dimaksud adalah sebagai tobatnya para murid, yaitu orang-orang yang pada tahap mencari dan baru pada tahap awal dalam menempuh jalan menuju Allah, dimana mereka kadang benar dan kadang salah. Adapun ungkapan para ahli makrifat bahwa mereka yang sanggup menghayati al-haq dan orang-orang yang tergolong khawashul khawash (yang khusus dari yang khusus) dalam mengartikan makna tobat ialah berpaling dari segala urusan selain Allah.
Sebagaimana juga sudah dijelaskan bahwa riya’ (pamer)nya orang-orang arif adalah tingkat keikhlasan para murid (pemula). Sebab keikhlasan para murid adalah suatu tingkatan yang digunakan untuk mendekatkan diri orang yang arif kepada Allah di saat memulai dan menuju kepada-Nya dengan cara melakukan ketaatan. Ketika semua itu memungkinkan dan sanggup merealisasikannya, lalu dipenuhi oleh sinar hidayah diberikan perhatian dan perlindungan-Nya, sanggup menyaksikan keagungan Tuhannya dengan mata hatinya, merenungkan ciptaan Sang Penciptanya, mendahulukan kebaikannya, maka ia akan bertobat untuk tidak melihat dan memperhatikan pada ketaatan, kebaikan, amal dan pendekatan diri kepada Tuhannya ketika mau dan akan memulainya. Dengan demikian ada dua tipe hamba yang bertobat, di mana masing-masing berbeda dengan yang lain.
Pertama, orang bertobat dari segala dosa dan kesalahan. Kedua adalah orang yang bertobat dari kegelinciran dan kelalaian dan bertobat dari melihat kebaikan dan ketaatan yang ia lakukan. Tobat akhirnya mengharuskan wara’.

Wara adalah maqam yang mulia. Rasulullah bersabda, “Fondasi keimananmu adalah wara’” (HR. Bazzar, Thabrani dan Suyuthi). Orang-orang yang wara” ada tiga tingkatan, Pertama, ialah menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan, sesuatu yang ada di antara haram dan halal (syubhat), yang tidak bisa disebut haram mutlak atau halal mutlak. Perkara yang meragukan ini merupakan obyek wara’.
Kedua, terdiri dari mereka yang cermat mengamati segala sesuatu di mana hati menyatakan mundur darinya. Mereka cermat dari godaan segala hal yang melintas dalam dada (shudur). Hal ini hanya dapat diketahui oleh ahli hati dan oleh mereka telah mencapai kesadaran. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Dosa adalah sesuatu yang melintas di dadamu”.

Tingkatan wara’ yang ketiga terdiri atas para arifin dan wajidin. Mengenai hal ini Abu Sulaiman al-Darani Berkata, “Segala sesuatu yang menjadikan Anda lalai terhadap Allah, maka itu merupakan bencana bagi Anda”. Pernah ditanyakan kepada Abu Bakar Dulaf bin Jahdar al-Syibli, “Wahai Abu Bakar, apakah wara’ itu?” ia menjawab: “Anda bisa jaga diri (wara’) dengan cara hati Anda tak terpencar untuk mengingat Allah sekalipun hanya sekejap mata”.
Dengan demikian, tingkatan wara’ yang pertama ialah tingkatan wara’ kaum awam, tingkatan kedua adalah wara’ kaum khusus, tingkatan ketiga adalah wara’ kaum yang lebih khusus dari mereka yang khusus (khushushul khushush). Kemudian wara’ mengharuskan sikap zuhud.
Menurut HM. Syaiful M. Maghsri, zuhud adalah maqam yang mulia. Ia merupakan landasan untuk kondisi spiritual dan tingkatan yang lebih mulia. Ia merupakan langkah pertama bagi para pencari Tuhan, mereka yang ridho kepada Allah dan mereka yang beriman kepada-Nya. Barang siapa yang tidak mampu mengendalikan hasrat dunianya melalui zuhud ia tidak layak untuk segala hal yang ada di atasnya, karena cinta dunia adalah awal dari segala dosa, dan zuhud dari dunia merupakan awal dari semua kebaikan dan seluruh amal kebaikan.
Barang siapa yang dilekatkan pada namanya sebagai zahid (orang yang zuhud), maka ia dinamai dengan seribu nama yang terpuji. Sebaliknya, barang siapa yang dilekatkan pada namanya hasrat akan dunia, maka dia dinamai dengan seribu nama yang tercela. Dan itulah yang dipilih oleh Rasulullah untuk dirinya melalui pilihan dari Allah untuknya.
Syaiful M. Maghsri mengemukakan zuhud adalah mengendalikan apa yang dihalalkan, sedangkan melepaskan perkara yang diharamkan dan syubhat merupakan kewajiban. Zuhud ada tiga tingkatan. Pertama ialah zuhudnya para pemula. Tangan mereka telah terbebas dari harta dan hati terbebas dari tangannya. Tingkatan kedua terdiri atas mereka yang telah menyadari zuhud. Penjelasan mengenai mereka dapat ditemukan dalam jawaban Ruwain bin Ahmad yang menyatakan, “Zuhud adalah menyerahkan seluruh harta atau keuntungan untuk jiwa dari apa pun yang ada di dunia”. Inilah zuhudnya orang-orang yang telah mencapai kesadaran. Zuhud mereka tidak saja lepas dari harta duniawi, tetapi juga jiwa, yaitu ketenangan, kehormatan, pujian dan status di tengah orang-orang yang datang dengan zuhuf. Barang siapa hatinya zuhud dari harta semacam ini berarti telah menyadari zuhud.
Tingkatan ketiga zuhud terdiri atas mereka yang mengetahui dengan pasti bahwa jika seluruh dunia diberikan kepada mereka sebagai kepemilikan harta dan jika kepemilikan harta itu tidak akan dihisab di akhirat dan tidak ada pengurangan limpahan apapun dari Allah untuk mereka, tetapi mereka meninggalkannya karena zuhud kepada Allah.
Al-Syibbi pernah ditanya mengenai zuhud dan berkata, “Zuhud adalah kelalaian karena dunia bukanlah apa-apa dan zuhud terhadap yang bukan apa-apa adalah kelalaian”. Yahya bin Mu’az berkata, “Dunia itu bagaikan pengantin dan siapa pun yang mencarinya adalah seperti pelayannya. Sang zahid merendahkan wajahnya dan mengoyak-ngoyak gaunnya. Sementara sang arifin disibukkan dengan Allah dan tidak berpaling ke arahnya sama sekali”. Karena itu zuhud menuntut kecintaan dan memilih kefakiran.
Kefakiran merupakan maqam yang mulia, sedangkan Allah menjelaskan sifat-sifat fakir itu dengan firmannya, “(Sedekah adalah) untuk orang yang miskin, Yang terhalang di jalan Allah, Dan tiada dapat bergerak keliling di muka bumi (mencari kekayaan). Orang yang tiada tahu mengira, bahwa mereka orang yang tiada memerlukan suatu apa, karena kerendahan. Kau kenali mereka pada ciri-cirinya. Mereka tiada meminta secara mendesak kepada orang. Dan apa pun yang baik kamu nafkahkan, sungguh Allah mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 2 : 273)
Kemudian Rasulullah memuji kefakiran dengan sabdanya, “Kefakiran lebih berharga bagi hamba yang beriman dari pada tali kekang halus pada leher seekor kuda jantan.” (HR. Thabrani)

Kefakiran adalah jubah bagi mereka yang mulia, pakaian bagi mereka yang telah diberikan sebuah misi, perhiasan para budiman, mahkota kaum bertakwa, hiasan para mukmin, rampasan para arifin, peringatan bagi pencari (jalan spiritual), benteng bagi para hamba dan penjara bagi para pendosa. Ini merupakan sesuatu yang menutupi perbuatan buruk, memuliakan perbuatan baik, menaikkan seseorang menuju maqam yang lebih tinggi, membawa seseorang pada sasarannya, dan membuat Yang Maha Kuasa ridho. Faqir adalah anugerah Allah kepada para wali-Nya di antara para shalihin (orang-orang saleh). Kefakiran adalah lambang kebudimanan dan ketekunan para muttaqin (orang-orang taqwa).”
Orang fakir ada tingkatan. Tingkatan Pertama ialah mereka tidak memiliki apapun, yang tidak mencari apapun dari siapapun, baik lahir maupun batin, tidak mengharapkan apapun dari siapapun, dan jika mereka ditawari sesuatu mereka menolaknya. Maqam ini adalah maqam mereka yang dekat dengan Allah.

Tingkatan kedua terdiri atas mereka yang tidak memiliki apapun, tidak meminta dari siapapun, tidak membuat tuntutan, tidak menyibukkan dirinya sendiri akan apapun dan tidak berangan-angan, tetapi jika mereka diberi sesuatu tanpa memintanya, mereka menerimanya.
Tingkatan ketiga terdiri atas mereka yang tidak memiliki apapun. Apabila salah seseorang dari mereka sedang membutuhkan sesuatu mereka membuka diri kepada saudaranya yang dia tahu akan bergembira dalam keyakinan bersamanya. Hadiah pertobatan ini adalah sedekah. Hakikat fakir adalah menahan diri dari meminta sesuatu yang tidak dimilikinya kalau-kalau dia akan kehilangan hal itu
 Argumen tentang kesabaran semacam itu dijelaskan dalam hadist tentang Nabi Zakariya ketika gergaji ditempelkan di kepalanya ia mengerang. Lalu Allah menyingkap diri kepadanya: jika erangan lainnya darimu sampai kepada-ku, langit dan bumi akan terbalik satu sama lain. Kemudian kesabaran menuntut sikap tawakal.
Abu Nashr Al-Sarraj berkata bahwa tawakal merupakan maqam yang mulia. Allah memerintahkan tawakal dan menyetarakannya dengan iman melalui firman-Nya:

1.       “Tawakallah kepada Allah”Jika kamu orang beriman” (Al-Maidah/ 5:23).
2.       “Kepada Allah hendaknya tawakal orang yang beriman” (Ibrahim 14:11).
3.       “Kepada Allah hendaknya berserah orang-orang yang tawakal” (Ibarahim 14:12).
4.       “Tawakallah kepada (Allah), Yang hidup selalu, yang tiada mati, Dan bertasbihlah memuji-Nya, Cukuplah ia mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya” (AL-Furqan 25:58).
5.       “Dan Tawakallah kepada Yang Maha Perkasa, Yang Maha Penyayang, Yang melihatmu sedang berdiri (dalam bersalat)” (Asy-Syu’ara 26:217-218).
6.       “Dan barang siapa tawakal kepada Allah, cukuplah ia baginya” (At-Talaq 65:3).

Tawakal ada tiga tingkatan, Pertama ialah tawakalnya orang mukmin, dimana syaratnya ada tiga macam, sebagaimana dikemukakan oleh Abu Turab al-Nakhsyabi menurutnya, “Tawakal adalah melemparkan diri dalam penghambaan (‘ubudiyah’), ketergantungan hati kepada Sang Maha Memelihara (rubbudiyah) dan tenang dengan kecukupan. Jika diberi akan bersyukur, jika tidak diberi tetap bersabar dan rela dengan takdir yang telah ditentukan.
Tawakal menurut HM. Syaiful M. Maghsri adalah posisi hati dimana seseorang tidak memikirkan apa yang akan terjadi dalam hidupnya tapi menerima dan menjalani apa yang sedang terjadi karena Allah. Zun-Nun al-Mishri ketika ditanya soal tawakal dia berkata: “Tawakal ialah membiarkan diri untuk tidak mengatur dan melepaskan diri dari upaya dan kekuatan”. Sedangkan menurut Abu Bakar al-Zaqqaz berkata: “Tawakal ialah mengembalikan sarana hidup yang cukup untuk sehari dan menghilangkan segala kekhawatiran di hari esok”. Pendapat Ruwaim ketika ditanya soal tawakal berkata: “Percaya penuh kepada janji Allah”. Sedangkan Sahal bin Abdullah berkata: “Tawakal ialah melepaskan diri untuk mengikuti irama Allah sesuai dengan apa Yang Ia kehendaki”.
Tingkatan Kedua ialah tawakalnya orang-orang khusus, sebagaimana yang dikatakan Abu al-Abbas Ahmad bin ‘Atha al-Adami: “Barang siapa bertawakal kepada Allah bukan karena Allah, maka sebenarnya ia belum bertawakal kepada Allah (fillah), dengan Allah (billah) dan karena Allah (lillah). Ia hanya bertawakal kepada Allah dalam tawakalnya, bukan karena faktor atau sebab lain”.
Tingkatan Ketiga ialah tawakalnya orang-orang yang paling khusus (khushuhus-khushush), sebagaimana dikatakan oleh al-Syibli tentang tawakal: “Anda selaku milik Allah sebagaimana Anda tidak ada, sementara Allah terhadap Anda sebagimana tidak pernah sirna”. Selanjutnya sebagimana sufi berkata: “Hakikat tawakal adalah tidak seorangpun dari makhluk-Nya ada yang sanggup berbuat sempurna, sebab Yang Maha Paripurna hanyalah Allah”.
Sebagian sufi berkata: “Barang siapa ingin melakukan tawakal dengan sebenarnya, maka hendaknya menggali kubur untuk dirinya, kemudian dirinya dikubur di dalamnya dan melupakan dunia dengan segala isinya, sebab tidak seorang makhluk pun yang sanggup melakukan tawakal dengan sempurna”. Akhirnya sikap tawakal menuntut ridho.

Abu Nashr al-sarraj berkata: “Ridla merupakan maqam yang mulia”. Mengenai ridla Allah berfirman:
1.         “Allah rida dengan mereka, Dan mereka pun senang dengan Allah. Itulah kemenangan yang gemilang” (Al-Maidah 5:119).
2.         “Keridaan Allah amat besar. Itulah kejayaan yang gemilang” (At-Taubah 9:72).

Dalam ayat itu ditegaskan bahwa ridho Allah kepada manusia jauh lebih besar dari pada ridho mereka kepada-Nya. Ridho merupakan pintu Allah yang paling agung dan merupakan surga dunia, dimana ridho menjadikan hati seorang hamba merasa tenang  dibawah kebijakan hukum Allah.
Orang-orang yang ridho ada tiga tingkatan, Pertama ialah orang-orang yang berusaha mengikis rasa gelisah dari dalam hatinya, sehingga hatinya tetap stabil dan seimbang terhadap Allah atas kebijakan-kebijakan-Nya, baik berupa hal-hal yang tidak diinginkan dan kesulitan maupun hal-hal yang menyenangkan, baik berupa pemberian atau tidak diberi apapun.
Tingkatan Kedua ialah orang yang tidak lagi melihat ridhonya kepada Allah, karena ia hanya melihat ridho Allah kepadanya, karena Allah berfirman seperti firman Allah di atas, sehingga ia tidak menetapkan bahwa dirinya lebih dahulu ridho kepada-Nya, sekalipun kondisi spiritualnya tetap stabil dalam menyikapi kesulitan dan bencana maupun hal-hal yang menyenangkan, baik diberi atau tidak.
Tingkatan Ketiga ialah orang yang melewati batas itu. Ia tidak lagi melihat ridho Allah kepadanya atau ridhonya kepada Allah, sebab Allah telah menetapkan lebih dahulu ridho-Nya kepada makhluk. Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Amal perbuatan makhluk bukanlah yang membuat di ridhoi atau dibenci, tetapi dia memang ridho kepada sekelompok orang, kemudian mereka dijadikan bisa berbuat dengan amal perbuatan orang-orang yang diridhoi. Sebagaimana pula Dia memang sudah murka terhadap sekelompok orang, kemudian mereka dijadikan bisa berbuat dengan perbuatan orang-orang yang dia murkai”.

Menurut Syaiful M. Maghsri Nafsu memiliki banyak makna juga, sedangkan yang ada kaitannya dengan tujuan kami adalah makna dua makna: pertama, maksudnya adalah cakupan makna dari kekuatan amarah dan syahwat (nafsu birahi) dalam diri manusia, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini. pengertian ini yang sering digunakan oleh Syaiful M. Maghsri, karena maksud an-nafs menurut Syaiful adalah dasar cakupan-cakupan sifat-sifat tercela dari manusia. Ia berkata, “Tidak boleh tidak, harus melakukan perang melawan nafsu dan membinasakannya,” di mana hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah, “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu (HR. Baihaqi).

Makna kedua, perasaan halus (lathifah) yang telah Syaiful jelaskan sebelum ini. ia adalah hakikat manusia. Ia adalah jiwa manusia dan hakikatnya. Akan tetapi, nafs itu bisa berwujud multidimensi tergantung pada keadaannya. Bila ada di bawah ‘perintah’, sehingga keresahan meninggalkannya karena bertentangan dengan syahwat, maka itu disebut an-nafsul-muthma’innah (jiwa yang tenteram). Mengenal hal ini Allah berfirman, “Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi  diridhoi-Nya (QS. Al-Fajr: 27-28)




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI