Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Otak Kiri (Syariat/Akal)

Syariat berisi perintah agung yang mengatur segala keadaan dalam kehidupan. Ia adalah hukum yang mengatur manusia untuk hidup seperti yang diinginkan oleh-Nya. Karena itu, ia menjadi petunjuk bagi tindakan manusia dan ia mencakup segala segi kehidupan. Dengan hidup seperti diperintahkan dalam syariat, manusia meletakkan dirinya dalam “tangan” Tuhan. Dengan mempertimbangkan segenap aspek kehidupan manusiawi syariat mensucikan kehidupan dan memberikan arti religius kepada hal-hal yang tampak paling duaniawi sekalipun.
Hukum dalam syariat merupakan pola yang ideal bagi kehidupan manusia. Ia merupakan hukum yang transenden dan bisa bersamaan diterapkan dalam masyarakat, tetapi tidak akan pernah dapat direalisir sepenuhnya, karena adanya ketidak-sempurnaan dalam diri manusia. Syariat berhubungan dengan kenyataan yang melintasi waktu. Setiap generasi dalam masyakat muslim harus menyesuaikan diri dengan ajaran syariat dan menerapkannya  ke dalam kondisi di mana mereka hidup.
Proses kreatif dalam tiap generasi bukanlah penciptaan kembali atas hukum, melainkan reformasi atas diri seseorang dan umat manusia agar mampu melakukan penyesuaian kepada hukum. Menurut Islam agama tidak boleh diubah agar sesuai dengan sifat manusia yang berubah-ubah dan tidak sempurna, tetapi manusialah yang harus melakukan perubahan atas dirinya, sehingga ia mampu hidup sesuai dengan petunjuk Tuhan. Sesuai dengan sifat segala benda, yang manusiawi harus menyesuaikan diri dengan Yang Suci dan bukan sebaliknya.
Itu sebabnya sepanjang sejarah Islam timbul gerakan reformasi untuk menciptakan dan membentuk kembali sikap dalam harmoni dengan syariat. Gerakan-gerakan ini dilakukan untuk menghidupkan kembali dan memberi tenaga baru kepada masyarakat dengan jalan terus menerus menuangkan ke dalam struktur masyarakat prinsip-prinsip ajaran agama yang telah diturunkan sebagai pedoman dan menjadi satu-satunya kriteria bagi nilai-nilai suatu masyarakat.
Gerakan-gerakan modern yang lebih ditekankan pada reformasi hukum agama dari pada reformasi masyarakat ditinjau dari sudut pandangan Islam adalah suatu anomali. Gerakan-gerakan ini dilakukan sampai pada tingkat sedemikian rupa bukan saja melalui proses pelemahan iman keagamaan pada orang-orang tertentu, tetapi juga karena mentalitas modern, yang berasal dari barat dengan latar belakang sekulerismenya, tidak dapat menerima adanya hukum yang begitu mutlak yang menjadi pedoman bagi umat manusia baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.


Diagram : Pola Kecerdasan Terpadu
(Peranan Otak Kiri/Syariat)

Bagi Islam syariat adalah cara untuk mengintegrasikan umat manusia. Ia adalah cara untuk membuat manusia mampu memberikan arti religius bagi kehidupan sehari-hari dan mengintegrasikan kehidupan ini ke dalam suatu pusat spiritual. Manusia hidup dalam keanekaragaman, ia hidup dan bertindak menurut berbagai kecenderungan dalam dirinya, beberapa di antaranya berasal dari keinginan hewani, beberapa lagi berasal dari aspek sentimentil, rasional bahkan spiritual dalam dirinya.
Manusia menghadapi keanekaragaman dalam dirinya dan pada saat yang sama ia hidup dalam masyarakat dimana ia menjadi bagian dan melakukan kontak serta hubungan yang tak terbatas dengan anggota masyarakat lain. Kegiatan ini yang menjadi norma tindakan dan eksistensi manusia tidak dapat diintegrasikan dan tidak mempunyai makna kecuali dalam syariat. Hukum Tuhan adalah jaringan aturan dan sikap yang mengatur kehidupan manusia dalam totalitas serta sifatnya yang mencakup segala hal, mampu mengintegrasikan manusia dan masyarakat menurut prinsip yang dominan dalam Islam, yaitu unitas atau tauhid. Syariat adalah cara dimana unitas dapat diciptakan dalam kehidupan manusia.

Dilihat dari luar, peranan syariat ini sulit untuk dipahami. Pada lahirnya tampak seolah-olah syariat hanya mengandung aturan tentang perkawinan, perdagangan, pembagian warisan, kenegaraan, dan semua ini dilaksanakan dalam dunia yang fana serta beraneka-ragam. Bagaimana semua itu dapat diintegrasikan sehingga menjadi refleksi atas unitas? Jawabnya ialah semua itu tetap merupakan tindakan, baik dilakukan menurut syariat maupun tidak.
Tetapi akibat dari tindakan itu,  jiwa manusia sama sekali berbeda tergantung pada kenyataan bahwa tindakan itu dilakukan menurut ciptaan manusia atau ajaran yang terkandung dalam syariat. Dalam hal yang terakhir ini konteks religius di mana tindakan itu ditempatkan dan hubungan batin antara syariat dengan kehidupan spiritual manusia mentransformasikan tindakan sekuler kedalam tindakan religius. Akibatnya jiwa manusia tidak terpecah dalam berbagai bentuk tindakan, sebaliknya tindakan itu meninggalkan kesan positif dalam jiwa manusia dan mendorong ke arah integrasi jiwa.
Dalam sebuah Hadits dikatakan bahwa bila seseorang mencari nafkah untuk keluarganya ia melakukan pemujaan sama seperti ia bersembahyang. Hal ini sulit dimengerti bila orang tidak mengenal cara hidup tradisional. Dalam masyarakat modern tidak mungkin ditemukan arti religius dalam kebanyakan kegiatan kecuali dalam kegiatan tertentu yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan kebutuhan religius. Kebanyakan orang mencari nafkah sama sekali tidak memiliki arti religius. Keretakan dalam masyarakat Islam tradisional di mana setiap tindakan diberi arti religius telah menyebabkan terjadinya sekularisasi dalam sebagian besar lapangan kehidupan manusia. Manusia masa kini yang ingin mengintegrasikan kehidupan akan menemui kesulitan sehari-hari yang harus ia lakukan.
Syariat membuat usaha mencari nafkah menjadi tindakan religius yang harus dilakukan seorang Muslim dengan kesadaran bahwa ia melakukan tindakan yang terpuji di mata Tuhan dan bersifat wajib seperti kewajiban keagamaan yang spesifik. Sesungguhnya syariat memberikan konotasi religius kepada semua tindakan yang diperlukan dalam kehidupan manusia dan tidak kepada hal-hal yang merupakan kemewahan semata. Dengan jalan ini seluruh kehidupan dan tindakan manusia memiliki arti religius.                      
Bila yang terjadi justu sebaliknya, maka manusia akan tampak seperti rumah yang terkotak-kotak dalam keadaan batin yang terpisah dan terpecah, yang selalu dihindari Islam. Dengan menempatkan kehidupan dalam saluran yang tersedia dalam syariat, manusia terhindar dari berbagai bahaya yang tak terlihat dan memastikan bagi dirinya suatu kehidupan yang utuh dan berarti. Sementara orang mengatakan bahwa menerima syariat secara keseluruhan akan menghancurkan inisiatif manusia. Kritik sperti ini timbul karena ketidak-mampuan memahami cara bekerjanya hukum Tuhan.

Bagi seorang muslim syariat adalah hukum yang abadi dan transenden dimana masalah kodifikasi serta sistimatisasinya secara rinci jarang menjadi perhatian orang hingga masa modern ini. Studi para orientalis yang biasanya bersifat historis telah mengerahkan perhatian kepada proses bertahap dimana syariat telah dikodifikasikan ke dalam bentuk yang dikenal di dunia Islam  selama seribu tahun terakhir. Karena itu bukan tidak penting bagi kita untuk meneliti terjadinya proses ini, meskipun harus ditekankan bahwa hukum Tuhan yang diformulasikan secara eksplisit setelah melalaui beberapa tahap, tidak berarti telah kehilangan sifatnya yang agung keabadian ajarannya.

Hukum ini menunjukkan kepada manusia berbagai jalan yang sesuai dengan sifat dan kebutuhannya dalam kerangka universal yang berlaku bagi semua orang. Inisiatif manusia terletak dalam pilihan atas apa yang sesuai dengan kebutuhan dan kehidupan menurut norma ketuhanan seperti yang terdapat dalam syariat. Inisiatif tidak timbul hanya melalui pemberontakan terhadap kebenaran, inisiatif dan kreativitas biasanya timbul dalam mencari cara hidup yang sesuai dengan kebenaran dan dalam menerapkan prinsip-prinsipnya pada kondisi yang telah dihadapkan kepada manusia oleh nasib. Mengintegrasikan kecenderungan dan kegiatan manusia ke dalam pola yang telah diturunkan oleh Tuhan membutuhkan inisiatif dan kretivitas dalam diri manusia.

Inti seluruh ajaran syariat terkandung dalam Al-Qur’an. Kitab suci ini mengandung prinsip dari keseluruhan hukum syariat.  Al-Qur’an berisi hukum  dalam garis-garis besarnya,  namun mengandung semua aspek syariat yang beraneka ragam. Karena itu tentunya pernah terjadi proses bertahap yang membuat syariat dapat disiarkan dalam bentuk lahir dan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

Prinsip-prinsip syariat yang terkandung dalam Al-Qur’an diterangkan dan diperjelas oleh hadist dan sunnah Nabi, yang secara bersama-sama membentuk dasar kedua dari hukum itu. Kemudian keduanya dipahami dengan bantuan konsensus masyarakat Islam (ijma’). Akhirnya sumber-sumber hukum ini dilengkapi dengan pemikiran analogis (qiyas) apabila diperlukan. Menurut pandangan Islam tradisional sumber-sumber syariat adalah Al-Qur’an, hadist, ijma’ dan qiyas, dengan dua yang pertama sebagai sumber yang terpenting dan diterima oleh semua aliran, sedangkan yang lain dianggap kurang penting bahkan sama sekali ditolak oleh beberapa aliran.
Makna Al-Qur’an dan hadits sudah cukup jelas, tetapi diperlukan pembahasan lebih lanjut tentang kedua sumber yang lain, yaitu ijma’ dan qiyas. Ijma’ berarti konsensus umat Islam tentang sesuatu hal tertentu dalam hukum dan dianggap penting karena adanya hadist yang menyatakan. Sebagaimana sabda Nabi bahwa “Umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan’. Ada di antara kalangan muslim modern yang lebih suka memandang Tuhan menyerupai manusia dari pada manusia menyerupai Tuhan, terutama seperti manusia abad ke-20, telah mencoba untuk menyamakan ijma’ dengan demokrasi parlementer. Ini sama sekali tidak benar, pertama karena ijma’ hanya dapat dilakukan bila Al-Qur’an dan hadist belum memperinci aspek syariat tertentu, sehingga dalam pengertian ini fungsi ijma’ terbatas, kedua karena ijma’ adalah proses bertahap yang dilakukan masyarakat dalam memberikan konsensus tentang sesuatu persoalan hukum setelah jangka waktu tertentu.       
Sedang qiyas secara esensial berarti penggunaan akal manusia untuk membandingkan sebuah situasi dengan situasi lain yang telah mempunyai legislasi. Jika Al-Qur’an melarang orang untuk tidak meminum anggur itu berarti dengan analogi Al-Qur’an juga melarang semua jenis minuman yang mengandung alkohol, yang dapat menimbulkan akibat seperti anggur, yaitu segala sesuatu yang memabukkan. Penggunan qiyas tidak berarti memperkenankan rasionalisme, tetapi penggunaan akal dalam konteks kebenaran yang diwahyukan, yang menjadi dasar syariat dan hadist serta sunnah Nabi yang telah memperkenalkan kebenaran dan telah menerangkannya untuk umat Islam.
Secara historis keempat prinsip diatas telah menciptakan pembentukan syariat melalui proses kompleks yang detailnya kurang begitu dikenal. Tetapi karena sekarang ini orang lebih banyak memberi perhatian kepada sejarah suatu hal dari pada hal itu sendiri, maka perlu diterangkan secara ringkas proses kodifikasi syariat.
Banyak ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan soal-soal syariat, tetapi tidak semua ajaran syariat dinyatakan secara eksplisit dalam ayat-ayat itu. Kurang lebih ada 80 ayat yang berhubungan dengan aspek hukum yang spesifik. Misalnya aturan tentang perkawinan, perceraian dan hukum waris diterangkan secara jelas, sedangkan soal-soal yang lain hanya tersirat secara implisit. Banyak pertanyaan universal yang memerlukan penjelasan lebih jauh sebelum dapat menjadi pedoman spesifik bagi tindakan manusia. Penjelasan ini terutama diperoleh dari Nabi yang kehidupannya merupakan masa yang pertama dan terpenting dalam proses kodifikasi syariat.
Nabi Muhammad SAW merupakan penafsir utama ajaran Al-Qur’an dan beliau sendiri ikut serta dalam pembentukan syariat. Caranya menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam hal-hal tertentu, menandai tahap pertama kehidupan sayariat dalam masyarakat dan lahirnya kehidupan masyarakat baru yang dibentuk oleh ajaran-ajaran itu. Misalnya, berlaku pada masyarakat Madinah dimana Nabi telah memutuskan ikatan kesukuan yang telah ada sebelumnya dan menciptakan masyarakat Islam baru yang dijadikan model para ahli hukum Islam.
Syaiful M. Maghsri mengemukakan perbuatan manusia, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dengan manusia, dibagi dalam lima kategori, yaitu wajib atau fardlu, dianjurkan (mandub), dilarang (haram), dibenci (makruh), dan diperbolehkan (mubah atau halal). Masing-masing kategori ini memilki perbedaan dan pembagian. Misalnya kategori wajib dapat dikenakan kepada individu (‘alani) dan masyarakat (kafa’i). Shalat lima waktu adalah wajib ‘aini, maksudnya dibebankan kepada masing-masing individu, sementara mendirikan panti asuhan atau rumah sakit adalah kewajiban yang dibebankan kepada masyarakat dan bukan kepada individu tertentu atau disebut wajib kafa’i.
Hukum wajib berkaitan dengan ritual seperti: shalat, puasa, zakat dan haji serta menjaga kesehatan semampu mungkin, memberikan nafkah kepada keluarga, memberi makan orang yang lapar, memberikan mahar (mas kawin) kepada isteri. Perbuatan yang termasuk dalam kategori dianjurkan adalah hal-hal yang tidak dituntut, tetapi menyenangkan Tuhan dan mendapatkan ganjaran pada Hari Pembalasan. Perbuatan seperti ini disebut perbuatan kebajikan moral yang akan diberikan pahala oleh Tuhan. Termasuk di dalamnya adalah pemberian yang tidak diwajibkan, mengerjakan shalat sunat dan mengikuti contoh-contoh perbuatan Nabi yang tidak diwajibkan syariat.Perbuatan yang masuk dalam kategori haram ialah segala perbuatan yang kalau dilakukan akan dikenakan hukuman dan bila ditinggalkan akan diberikan pahala. Perbuatan seperti ini di antaranya pembunuhan, zina, mencuri, korupsi, memakan babi, meminum darah, meminum minuman keras, riba, judi, mengawini perempuan kakak beradik dalam satu pernikahan dan melihat aurat, kecuali pasangan sendiri. Kategori ini meliputi cakupan yang sangat luas, mulai dari isu moral, etika sampai aturan-aturan yang berhubungan dengan makanan.
Selain pembagian lima kategori itu syariat juga di bagi dua bagian, yaitu ibadah dan mualamat. Ibadah sering disebut dengan al-din, artinya pilar-pilar agama. Selain kesaksian kepada Allah dan Rasul-Nya atau syahadat, pilar-pilar agama juga meliputi shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. 




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI