Selamat Datang di Web PELATIHANSPIRITUAL.COM

Dapatkan Artikel Spiritual, Ilmu & Makrifat, Solusi Masalah, Kunci Pembuka Rezeki dan Masalah Rumah Tangga. Salam Sehat & Sukses Selalu
Loading Konsultasi Spiritual

Otak Spiritual (Hakikat)

Hakikat membuka kesempatan kepada penempuh jalan spiritual untuk mencapai maksudnya, yaitu mengenal Tuhan, makrifatullah dan musyahadah (menyaksikan) cahaya yang tajalli (tersingkap). Al-Ghazali menjelaskan bahwa tajalli adalah tersingkapnya cahaya yang gaib bagi seseorang dan cahaya gaib adalah Allah.
Ada lagi yang membagi hakikat menjadi hakikat ketuhanan dan hakikat kenabian. Hakikat ketuhanan diibaratkan dengan Ka’bah sebagai kiblat shalat, hakikat Al-Qur’an sebagai tuntunan dan hakikat shalat sebagai ibadah. Sedangkan hakikat kenabian terdiri atas hakikat Ibrahimiyah, hakikat Muswiyah, hakikat Muhammadiyah, dan hakikat Ahmadiyah. Hakikat Ibrahimiyah  menghasilkan hubungan yang akrab dengan Zat, hakikat Musawiyah melahirkan cinta, hakikat Muhammadiyah menghasilkan muraqabah dengan Zat, sedangkan hakikat Ahmadiyah melahirkan cahaya yang dapat membuka kecintaan yang tidak terbatas kepada Zat Yang Esa.
Akhirnya, ada pula yang membagi hakikat itu menjadi hakikat muraqabah dan hakikat mahabbah. Hakikat muraqabah ialah kewaspadaan manusia dalam memandang Allah di segala segi kehidupannya, sehingga terjadinya pengawasan Tuhan terhadap segala gerak geriknya. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah mendampingi hamba-Nya setiap waktu dan jibril menyampaikan kepda Nabi Muhammad bahwa beliau harus beribadah seolah-olah beliau melihat-Nya. Jika beliau tidak melihat-Nya niscaya Tuhan melihat beliau. Hakikat mahabbah ialah sikap seseorang hamba yang senantiasa berkehendak untuk memperoleh nikmat-Nya, berbuat baik dengan penyembahan terhadap-Nya, keinginan hamba untuk memperoleh iradat Tuhan dengan segala nikmat-Nya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hakikat merupakan hasil dari tarikat, dan tarikat hasil dari syariat. Ada pula yang mengibaratkan syariat itu sebagai perahu, tarikat bagaikan laut dan hakikat laksana mutiara. Barang siapa yang menginginkan mutiara harus naik perahau untuk pergi ke laut guna mengambil mutiara.
Diagram : Pola Kecerdasan Terpadu
 (Peran Otak Spiritual/Hakikat)


Selain menjalankan syariat dan tarikat pencapaian hakikat juga ditandai dengan terjadinya mukasyafah (tersingkapnya tabir Ilahi). Tabir Ilahi sendiri disebut hijab. Secara harfiah hijab berarti tabir atau tirai. Dalam tasawuf hijab berarti segala sesuatu dari diri manusia yang menyembunyikan dan menutupi Allah. Bentuk lahiriah (shurah) dari sesuatu menutupi makna batiniah. Dalam tahap awal perjalanan kembali menuju Sumber sang penempuh jalan spiritual (salik) dibatasi oleh lahiriah eksistensi dari aspek batiniahnya. Dalam tahap pertengahan yang didominasi oleh kemabukan spiritual (sukr) dia dibatasi oleh aspek batiniah dan aspek lahiriahnya. Dalam tahap terakhir ketika ketidak-mabukan spiritual (sahw) menguasai, aspek-aspek batiniah maupun lahiriah tidak menghalangi dirinya dari kehadiran Allah yang dilihatnya di mana-mana. Allah mempunyai sahabat-sahabat yang berharga yang dihijab oleh-Nya dari ciptaan-Nya yang lain karena kecemburuan-Nya kepada mereka. Dan Dia mempunyai “orang-orang yang terhijab” yang mesti disembunyikan karena cahaya yang memancar dari mereka begitu cemerlang, sehingga akan membakar penglihatan orang yang memandangnya.
Syekh Abdul Qadir Jailani menjelaskan bahwa hijab berarti tabir yang menutup pandangan manusia. Sedang hijab dalam pandangan tasawufnya ialah hijab hati yang apabila menyelubungi hati seseorang, maka butalah mata hatinya sehingga ia tidak dapat mengenal hakikat yang perlu diketahui. Akibatnya ia seperti orang buta, sebagaimana firman Allah, “Tapi barang siapa buta di dunia ini, akan buta (pula) di hari kiamat, dan lebih jauh tersesat jalan” (QS.Bani-Israil: 17-72)
Buta yang dimaksud dalam ayat itu bukan semata-mata secara zahir, tetapi buta mata hati atau mata batin. Mata hati yang buta tidak akan dapat melihat Nur (cahaya) yang membawa manusia untuk memandang ke akhirat. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah, “Tiadakah mereka mengembara di muka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka mengerti, Dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh, bukanlah matanya yang buta, Tapi yang buta ialah hatinya, Yang ada dalam (rongga) dadanya” (QS. Al-Hajj: 22: 46).  
Penyebab utama hati yang buta ialah sikap tidak peduli atau tidak mengindahkan perintah Allah ketika hidup di dunia, yang membuat seseorang lupa kepada Allah, lupa akan tujuan hidupnya, lupa akan janjinya kepada Allah ketika ia berada dalam alam ruh sebelum ia dilahirkan ke dunia ini, di alam ruh atau yaum mitsaq manusia telah mengakui dengan penuh kesungguhan bahwa Tuhan yang menciptakan ruh adalah Tuhan yang sebenarnya. Manusia telah berjanji akan menyembah-Nya dan mematuhi segala Perintah-Nya, Mengkufuri-Nya dan menolak Ketuhanan-Nya. Ini berarti bahwa manusia telah mengingkari janji yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Penyebab utama munculnya sikap tidak peduli ini adalah kejahilan diri sendiri tentang hakikat hukum-hukum dan peraturan Allah atau syariat yang menyebabkan seseorang berada di dalam kejahilan, yang berupa kegelapan yang menyelubungi hati manusia. Sebagian dari manifestasi atau penzahiran ciri-ciri kegelapan itu terlihat pada sikap congkak, takabur, hasad, dengki, dendam, suka menipu, menyakiti hati orang lain semacamnya. Sifat-sifat tercela inilah yang menjatuhkan martabat manusia sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya ke derajat yang sangat rendah dan hina. Untuk menghindari sifat-sifat yang tercela itu manusia harus membersihkan dan mengkilaukan cermin hati. Proses “Adjusment” atau Penyesuaian ini dilakukan dengan menuntut ilmu serta mengamalkan ilmu Bioenergi. Berusaha dengan gigih dan bersungguh-sungguh untuk memerangi ego dan hawa nafsu yang serakah, membuang jauh perbuatan syirik, dengan mencapai tauhid dan kedekatan yang akrab dengan Allah.
Perjuangan ini hendaklah dilakukan terus menerus sampai hati dapat hidup kembali dengan Cahaya Tauhid. Dengan Cahaya Tauhid ini mata hati yang bersih akan melihat realitas sifat Allah di dalam dan di luar diri. Pada mulanya semua itu memang tampak kelam, karena tidak pernah terbayangkan dalam pikiran kita yang diselimuti kabut kejahilan yang telah menutup mata hati. Tetapi kegelapan itu dapat dihilangkan melalui kesadaran diri bahwa kita adalah jahil. Dan penyakit jahil ini harus dikikis dengan belajar dan mengenal apa saja yang wajib dikenal secara pasti. Dengan begitu kita ingat kepada tempat asal dan tempat tinggal kita yang hakiki, yaitu suatu tempat dari mana kita datang dan kemana kita akan kembali. Kita hendaknya menyadari bahwa sebenarnya kita datang dari tempat yang paling mulia dan tinggi, yaitu dari sisi Allah. Dengan menyadari hal ini, maka kita akan merasa rindu untuk kembali ke tempat kita berasal. Bila waktunya telah tiba dengan izin Allah ruh yang suci dalam diri kita akan kembali dan berpadu dengan Dia.
Kalau hijab atau tabir kegelapan itu telah tersingkap, maka cahaya akan menggantikan kegelapan yang ada dalam hatinya. Kemudian dia dapat melihat rahasia-rahasia ketuhanan dengan mata hatinya atau bashirah. Dia akan mengenal apa yang dilihatnya itu dengan Nur yang melekat pada sifat-sifat Allah. Kemudian barulah dia dilimpahi cahaya dan menjadi cahaya itu sendiri. Cahaya ini pun masih juga dianggap hijab yang menutupi cahaya Zat Allah. Tetapi bila telah sampai waktunya cahaya itu pun akan hilang dan bersinarlah Zat Allah, yang tinggal hanya zat itu sendiri.
Tetapi pengertian hijab dalam tasawuf sebenarnya tidak sesederhana itu, karena menurut Syaiful di satu sisi semua hijab adalah Dia, tetapi di sisi lain ketiadaan adalah Dia. Hijab, sesuatu, makhluk, bukanlah Allah, namun pada saat yang sama adalah Allah. Selebihnya tak ada jalan untuk menjumpai Allah, tak ada jalan untuk bertemu dengan Allah, kecuali melalui hijab yang akan selalu menghalangi-Nya. Matahari sejati akan selalu terbit persis di tempat ia terbenam. Allah tidak akan pernah bisa ditemukan, tetapi Dia justru ditemukan dalam segala sesuatu, karena tidak ada apapun yang bukan penyingkap diri-Nya.
Kemudian hijab adalah penghalang mata untuk melihat apa yang ada di balik hijab itu. Hijab merupakan penghalang yang menghalangi pencari makrifat dari apa yang dicita-citakan dan diperjuangkan tiada lain yaitu Allah atau wajah Allah. Jadi, hijab itu pemisah antara manusia dengan Tuhan. Hal ini dijelaskan dengan firman-Nya, “Dan tiadalah mungkin bagi manusia, bahwa Allah akan bicara kepadanya, kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tirai, atau dengan mengirimkan seorang utusan untuk mewahyukan seorang utusan untuk mewahyukan apa yang ia kehendaki dengan seizin-Nya.” (QS. Asy-Syura: 42:51).

Selain itu ada yang sering dikutip dalam konteks hijab, yaitu: “Sesungguhnya Allah memiliki tujuh puluh hijab cahaya dan kegelapan.” Hadist lainnya, “Hijab Allah adalah cahaya.” Kedua Hadist ini berlanjut “Seandainya Dia menyingkap (hijab) niscaya keagungan wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang bisa dilihat oleh mata makhluk ciptaan-Nya.”
Hadist itu menjelaskan bahwa cahaya itu hijab, karena cahayalah yang membuat kita bisa melihat, tetapi cahaya yang terlalu terang dapat membutakan mata kita. Dan inilah hakikat persoalan tentang Tuhan. Cahaya itu sendiri merupakan salah satu nama yang diberikan Al-Qur’an untuk Allah. Allah berfirman, “Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS-An’Nur:24:35) .
 Ayat itu dapat mengandung arti bahwa cahaya Allah memperkenalkan dirinya sendiri melalui setiap kilau yang tampak di langit dan bumi, tetapi ia juga menyiratkan bahwa justru cahaya Allahlah yang menghalangi kita untuk bisa melihat Allah, karena satu-satunya yang dapat kita lihat melalui cahaya Allah adalah langit dan bumi, bukan Zat Allah. Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya, apakah beliau melihat Allah dalam peristiwa mi’raj, beliau menjawab: “Dia adalah cahaya, bagaimana mungkin aku melihat-Nya. Karena itu lalu dari naskah-naskah paling awal para sufi yang memunculkan gagasan bahwa hijab merupakan penghalang kemungkinan melihat Allah dapat dikatakan bahwa ide paling mendasar dalam masalah hijab adalah sangat kuatnya cahaya Allah itu.
Kemudian manusia adalah hijab ketaatan, setiap orang yang menyibukkan diri mereka sendiri di kaki manusia akan kehilangan ketaatan.
Dalam riwayat yang lain digambarkan bahwa mukmin ibarat cermin bagi mukmin yang lain. Jadi mukmin yang pertama bertindak sebagai cermin. Cermin dalam konteks ini adalah hati yang bersih dan suci yang ada pada diri mukmin itu sendiri. Sedang mukmin yang kedua ialah Zat Allah yang dapat dikenali melalui cermin itu, yakni karunia tertinggi yang hanya diberikan kepada kekasih-Nya, karena salah satu nama Allah adalah Al-Mu’min. Melalui cermin itu manusia dapat melihat penzahiran sifat-sifat Allah di dunia ini, dan barang siapa yang melihat penzahiran sifat-sifat Allah di dunia niscaya akan melihat Zat Allah di akhirat kelak tanpa bentuk dan rupa.

Penzahiran sifat-sifat Allah digambarkan dalam firman-Nya: “Allah adalah cahaya langit dan bumi perumpamaan cahaya (Allah) adalah seperti rongga dalam dinding, dalam (rongga) itu ada pelita, pelita itu dalam (bola) kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau, dinyatakan dengan (minyak) pohon yang diberkati,(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat. (Yang selalu menerima Cahaya dari timur dan dari barat), yang minyaknya (saja) hampir-hampir berkilau (sendirinya) walaupun tiada api menyentuhnya. Cahaya di atas cahaya! Allah menuntun kepada cahaya-Nya siapa saja yang ia berkenan, Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Allah mengetahui segala.”(QS. An’Nur: 24:35).

Kata “misykat” (lubang) dalam ayat itu berarti hati, dan cahaya yang bersinar keluar adalah rahasia ketuhanan, yaitu jiwa yang tinggi dan suci. Kaca itu dapat ditembus oleh sinar atau cahaya. Ia tidak menghalangi masuknya cahaya itu. Bahkan kaca itu memelihara cahaya dan membiarkan cahaya datang melimpah ruah. Ia diibaratkan bintang, sedang sumber cahaya itu adalah pohon keimanan, dan pohon keimanan itu mengandung maksud pohon yang esa (tauhid), suatu pohon yang dahan dan daunnya sangat rindang, sedang akarnya menjalar luas dan dalam. Pohon itu mengandung prinsip-prinsip keimanan yang berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa perantara dalam bahasa rohani yang suci.



Dalam bahasa rohani yang suci inilah Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya. Pada hakikatnya Malaikat Jibril membawa risalah ketuhanan (Al-Qur’an) itu hanya ketika itu telah diterima terlebih dahulu oleh Nabi. Ini dilakukan demi memudahkan kita sebagai umatnya untuk mendengar Al-Qur’an dalam bahasa manusia yang dapat dipelajari dan dipahami. Bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan langsung kepada Nabi dan Nabi sudah menerima ayat Al-Qur’an itu sebelum jibril datang dijelaskan dalam firman Allah SAW, “Sedangkan kau, kepadamu diberikan Al-Qur’an dari hadirat (Alah) Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Tahu.” (QS. An-Naml, 27:6).




0 komentar:

Posting Komentar

Berikan TANGGAPAN Anda Tentang INFO ini untuk Memberikan INSPIRASI dan MOTIVASI Pembaca Lain. Tinggalkan KOMENTAR Anda DISINI